Agustus 8, 2008

PERTANGGUNGJAWABAN PROGRAM SIARAN PENDIDIKAN DAN UPAYA PEMERATAAN PENDIDIKAN MELALUI MEDIA RADIO

Posted in Artikel, Pendidikan pada 9:46 am oleh tepeuny

Oleh : Agus Abdul Karim Makki

Mahasiswa Kurikulum & Teknologi Pendidikan

Universitas Negeri Yogyakarta

Kenyataan kemajuan dan perkembangan teknologi globalisasi sudah banyak mempengaruhi kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Media televisi, radio, merupakan contohnya. Saat ini masyarakat Indonesia lebih banyak tertarik pada media televisi (video) di banding media radio (audio). Hal ini menurut saya karena masyarakat memandang media radio kurang menarik, media radio hanya menawarkan suara (audio), lain halnya dengan media televisi. Media televisi dianggap lebih sempurna karena selain menawarkan suara (audio) juga menawarkan gambar (video) baik itu gerak maupun non gerak (slide foto). Menurut Rudi Hofman, telah terjadi transformasi budaya pada masyarakat Indonesia, yaitu masyarakat Indonesia dari tradisi lisan tahap I (audio) melompat ke lisan tahap II (audio visual), masyarakat Indonesia tidak melewati tradisi membaca (merenungkan) seperti yang terjadi di negara-negara maju.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ditandai oleh makin mudah dan murahnya akses dari, dan, ke jaringan informasi dan komunikasi sudah merambah ke seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Tantangan teknologi tersebut harus terakomodasi dengan pengembangan berbagai model dan format pendidikan atau pembelajaran. Kehadiran seluruh lembaga yang mampu mengemban peran tersebut sangat penting, guna mendukung pencapaian tujuan pendidikan, utamanya yang terkait dengan peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Hal ini sangat disadari karena adanya fragmentasi geografis Indonesia sebagai Negara kepulauan. Kemajuan nasional dimulai dari peningkatan pendidikan di setiap daerah/kawasan secara berkeadilan. Untuk mencapai itu semua salah satu media yang dapat digunakan adalah audio (radio).

Saat ini program siaran yang ditawarkan baik oleh media televisi maupun radio lebih banyak yang bersifat hiburan dibandingkan dengan yang bersifat mendidik atau pendidikan. Saya sendiri menyadari dan mengakui lebih banyak memperoleh berbagai informasi dari media televisi dibanding radio, alasannya karena tiap mendengarkan siaran radio, acara yang disuguhkan berupa hiburan (musik) dan minim sekali acara yang informatif. Hal ini bukan berarti media televisi lebih baik dari media radio dan kita tidak boleh menyalahkannya. Setiap media memiliki kelemahan, kelebihan dan fungsi serta peran masing-masing, jadi tidak bijak apabila memandang media satu lebih baik dari media lain.

Setiap media seharusnya ikut dan berperan serta dalam mencerdaskan bangsa. Sekarang yang jadi pertanyaan adalah apakah media (radio) yang ada sudah ikut dan berperan dalam mencerdaskan bangsa? Dalam tulisan ini saya akan lebih memfokuskan pada media radio andilnya dalam rangka ikut dan berperan mencerdaskan bangsa.

Pemerintah seharusnya lebih tanggap dan tegas, terhadap program-program yang disiarkan oleh lembaga penyiaran. Pemerintah perlu menghimbau kepada semua lembaga penyiaran untuk lebih menyiarkan program yang seimbang, dan akan lebih baik apabila porsi siaran yang siarkan lebih banyak yang bersifat edukatif. Kita memang hidup di negara yang demokratis, akan tetapi bukan berarti kita boleh menyiarkan program siaran dan melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak kita. Meskipun demokratis setiap warga negara juga memiliki HAK, tugas dan kewajiban, hal ini yang perlu kita perhatikan.

Radio merupakan media penyiaran publik, karena memiliki ruang akses yang nyaris tanpa batas pada kehidupan publik, berinteraksi dengan kepentingan publik dan menggunakan ranah milik publik berupa spektrum frekuensi yang sistem alokasinya terbatas. Masduki mengemukakan dalam bukunya berjudul “Radio Siaran & Demokratisasi”, pada prinsipnya semua bentuk lembaga penyiaran berhak mengisi ruang frekuensi, sejauh memenuhi tiga komponen, yaitu pemenuhan kesenangan publik (public convenience), pemenuhan kepentingan publik (public interest) dan pemenuhan kebutuhan hak publik (public necessity).

Prinsip tersebut menjadi dasar oleh setiap stasiun penyiaran, dan demokratisasi sangat kuat, artinya bahwa setiap lembaga penyiaran berhak menentukan program-program siarannya. Hal ini menurut saya yang perlu dirumuskan lagi tentang Undang-Undang siaran.

Demokratisasi Siaran

Demokratisasi dalam penyiaran masih merupakan gagasan yang “mentereng” di Indonesia. Gagasan ini meliputi, 1) independensi, 2) pluralitas kepemilikan dan orientasi lembaga serta isi, 3) desentralisasi dan dekonsentrasi penyiaran.

Demokratisasi penyiaran selalu bertumpu pada 2 pilar untuk 1) demokratisasi sebagai jaminan tidak adanya intervensi pada muatan isi dan perbincangan di media penyiaran dalam bentuk apapun, termasuk intervensi melalui badan kontrol yang sejatinya berasal dari kehendak masyarakat. Intervensi bisa berasal dari pemerintah atau pemegang kendali ekonomi yang anti demokratisasi, 2) keterbukaan bagi semua partisipasi semua pihak secara setara dan independent. Faktor-faktor yang menentukan radio sebagai media yang demokratisasi ;

1. Ideologi ekonomi politik, terkait dengan pilihan visi, misi, dan filosofinya

2. Pihak eksternal yang berpengaruh seperti pemerintah, masyarakat, pengiklanan

3. Manajemen stasiun radio ini kebijakan dan wewenang dalam mengambil keputusan secara rutin

4. Kekuatan kritis-demokratisasi berasal dari akademisi, LSM, ormas dan sebagainya

5. Broadcaster (penyiar, reporter, editor)

Radio Swasta (Non Pemerintah)

Siaran radio non pemerintah sebagai suatu media masa yang telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia, harus merupakan alat pendidikan, penerangan dan hiburan yang aktif dan kreatif dari kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu, badan penyelenggara radio siaran radio dalam menyelenggarakan siarannya, wajib melakukan petunjuk-petunjuk umum tentang kebijaksanaan-kebijaksanaan isi siaran yang diatur oleh Menteri Penerangan, antara lain keharusan merelay berita RRI. Radio non pemerintah siarannya bersifat lokal. Untuk itu isi dan tujuan siarannya harus mencerminkan hubungan erat dengan keadaan serta pertumbuhan daerah jangakauan siarannya.

Dalam mendukung dan berperan serta dalam mencerdaskan bangsa, setiap radio non pemerintah harus memiliki program siaran pendidikan unggulan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada pemerintah daerah setiap tahunnya. Hal ini mendorong untuk selalu melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah dan adanya alokasi anggran dari pemerintah pusat dalam mendukung program siaran pendidikan tersebut. Tentunya ada sanksi bagi stasuin penyiaran apabila tidak menjalankan dan tidak dapat memberikan pertanggungjawabkan program tersebut. Sanksi yang dapat berupa adanya denda, atau penjabutan izin siaran. Dengan begini setiap lembaga penyiaran tentu akan termotivasi untuk menjalankan dan program pendidikan.

Pertanggungjawaban terhadap program siaran pendidikan bukan hanya untuk lembaga siaran, tetapi juga pemerintah daerah. Hal ini agar kedua belah pihak lebih sungguh-sungguh dalam rangka mencerdasakan bangsa.

Sisi lain Rekaman Audio-Tape

Pesan dan isi plajaran dapat direkam pada tape magnetic sehingga hasil rekaman itu dapat diputar kemabali pada saat diinginkan. Pesan dan isi pelajaran itu dimaksudkan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sebagai upaya mendukung terjadinya proses belajar.

Materi tipe audiotape adalah cara ekonomis untuk menyediakan isi pelajaran atau jenis informasi tertentu. Rekaman dapat disiapkan untuk sekelompom siswa, dan sekarang ini sudah lurmah rekaman disiapkan untuk penggunaan perorangan. Sudjana & Rivai (1991:130) mengemukakan hubungan media audio dengan pengembangan ketrampilan yang berkaitan dengan apek-aspek ketrampilan mendengarkan. Ketrampilan yang dapat dicapai dengan penggunaan media audio meliputi:

1. Pemusatan perhatian dan mempertahankan perhatian. Misalnya siswa mengidentifikasi kejadian tertentudari rekaman yang didengarkannya.

2. Mengikuti pengarahan. Misalnya, sambil mendengarkan pernyataan atau kalimat singkat, siswa menandai salah satu pilihan pernyataan yang mengandung arti yang sama.

3. Melatih daya analisis. Misalnya, siswa menentukan urutan-urutan kejadian atau suatu peristiwa, atau menentukan ungkapan mana yang menjadi sebab dan yang mana akibat dari pernyataan-pernyataan atau kalimat-kalimat rekaman yang didengarkannya.

4. Menentukan arti dari konteks. Misalnya siswa mendengarkan pernyataan yang belum lengkap sambil berusaha menyempurnakan dengan memilih kata yang disiapkan. Kata-kata yang disiapkan itu berbunyi mirip dan hanya dapat dibedakan apabila sudaha dalam konteks kalimat.

5. Memilah-milah informai atau gagasan yang relevan dan informasi yang tidak relevan. Misalnya, rekaman yang diperdengarkan mengandungdua sisi informasi yang berbeda dan siswa mengelompokkan informasi ke dalam dua kelompok itu

6. Merangkum, mengemukakan kembali, atau mengingat kembali informasi. Misalnya, setelah mendnegarkan rekaman suatu peristiwa atau cerita, siswa diminta untuk mengungkapkan kembali dengan kalimat-kalimat mereka sendiri.

Ketentuan-ketentuan

1. Radio tape telah menjadi peralatan yang sangat lumrah dalam rumah tangga, sekolah, mobil, bahkan kantongan (Walkman). Karena harga yang cenderung terjangkau oleh seluruh lapisan mayarakat ketersediaannya dapat diandalkan.

2. Rekaman dapat digandakan untuk keperluan perorangan sehingga pesan atau isi pelajaran dapat berada di beberapa tempat pada waktu yang bersamaan.

3. Merekam peristiwa atau isi pelajaran untuk digunakan kemudian, atau merekam pekerjaan siswa sendiri dapat dilakukan dengan media audio.

4. Rekaman memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendengarkan diri sendiri sebagai alat diagnosis guna membantu meningkatkan ketrampilanmengucapkan, membaca, mengaji atau berpidato.

5. Pengoperasian radio tape relative mudah

<!
Usaha dalam mencerdaskan serta pemerataan pendidikan, perlu adanya program yang dapat dipertanggungjawabkan oleh setiap lembaga penyiaran, dan adanya undang-undang siaran yang melandasinya. Setiap lembaga siaran harus menyusun program yang seimbang, dan memaknakan demokratisasi sebagai alat dalam mencerdaskan bangsa dan alat pemersatu bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: