Juni 27, 2008

RADIO PENDIDIKAN (ANTARA ADA DAN TIADA)

Posted in Artikel, Pendidikan pada 6:34 am oleh tepeuny

Oleh: Muh.Sigid Imami Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberhasilan suatu pendidikan bisa dicapai melalui proses belajar mengajar yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna. Salah satu usaha untuk membantu terciptanya proses belajar mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna tersebut melalui penggunaan media pendidikan yang memadahi dalam jumlah maupun mutu.

Ada banyak sekali media yang dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar, salah satunya adalah radio. Karakteristik media audio (radio) pada umumnya berhubungan dengan segala kegiatan melatih ketrampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek mendengarkan (Rivai, 1990 : 130).

Namun sekarang ini keberadaan media radio semakin trepinggirkan, salah satu penyebabnya adalah turunnya minat mendengarkan siaran radio, khususnya radio pendidikan dari kalangan pendidikan. Pada hal keuntungan dari siaran radio pendidikan sangat banyak.

B. Rumusan Masalah

Mengapa media radio pendidikan semakin terpinggirkan ?

PEMBAHASAN

I. Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. AECT mendefinisikan media sebagai segala bentuk dasar saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar, sedangkan Locatis dan Atkinson (1984) berpendapat bahwa media adalah sarana untuk mentransmisikan atau menyampaikan pesan.

Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sara pembelajaran yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

II. Radio Pendidikan

Tugas pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, namun dalam mencapai tujuan tersebut banyak mengalami masalah di antaranya geografis. Kondisi demikian berakibat tidak meratanya kesempatan memperoleh pendidikan yang layak terutama di pedalaman.

Pemilihan media radio didasarkan kemampuan media ini dapat menjangkau populasi pendengar yang lebih banyak dengan jarak jauh dan waktu yang lebih cepat, serta biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan media yang lain.

Menurut Arif Sadiman dkk (1986:51-53) berpendapat bahwa media radio mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media yang lain, yaitu:

Ø Harganya relatif murah dan variasi programnya lebih banyak dari pada TV.

Ø Sifatnya mudah dipindahkan (mobile). Radio dapat dipindah-pindahkan dari satu ruang ke ruang lain dengan mudah.

Ø Jika digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal.

Ø Radio dapat mengembangkan daya imajinasi anak.

Ø Dapat merangsang partisipasi aktif dari pendengar.

Ø Radio dapat memusatkan perhatian siswa pada kata-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya.

Ø Siaran lewat suara terbukti amat tepat/cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa.

Ø Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik.

Ø Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu yang tidak dapat dikerjakan oleh guru.

Ø Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, jangkauannya luas.

Sedangkan kelemahan media radio adalah :

Ø Sifat komunikasinya hanya satu arah, umpan baliknya tertunda

Ø Penyesuaian jadwal siaran dengan jadwal sekolah umumnya sulit

Ø Sulit dikontrol, artinya pendengar tidak dapat menghentikan siaran sebentar untuk berdiskusi atau mengulas bagian yang kurang jelas.

Menurut Dra. Hartati selaku pengawas di Cabang Diknas Kecamatan Semarang Timur juga berharap Diklat Siaran Radio Pendidikan untuk guru perlu diperbarui. Seperti apa pembaruannya ? Melalui acara itu guru dapat mengembangkan profilnya sesuai dengan tiga ranah kurikulum baru 2004 yang efektif, kognitif, dan psikomotorik, ketiga-tiganya tercapai.

Juga diharapkan, program Diklat Siaran Radio Pendidikan ini lebih mencapai sasaran dan tujuan karena program ini sangat diharapkan masyarakat. Kini guru sekolah dasar banyak yang sudah berpendidikan formal D2 dan S1, karena itu tujuan siaran sekarang berubah sebagai pengayaan mereka, mengingat pada dasarnya prinsip pendidikan adalah life long education. (www.suara merdeka.com)

Media radio di Indonesia semakin tersingkirkan dikarena oleh beberapa sebab, diantaranya banyak tidak mengetahui Diklat Siaran radio Pendidikan masih disiarkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pernyataan guru diantaranya:

Endang Lestari guru SD Perumahan Banyumanik 07 Semarang waktu ketemu dengan penulis dalam pelatihan SEQ guru-guru se-Jawa Tengah di Balai Kota Semarang, beberapa waktu lalu.

” Selama ini, saya kira kok sepertinya Siaran Radio Pendidikan nggak mengadakan ujian lagi? Saya kok jarang dengar, tidak seperti tahun 90-an setiap sekolah wajib mencatat Siaran Radio Pendidikan.

Permasalahan itu disebabkan kurangnya koordinasi dari masing-masing instansi terkait yang diberi wewenang untuk mengelola Diklat Siaran Radio Pendidikan. Diantara indikator yang dapat kita lihat yaitu lemahnya guru membuat laporan hasil monitor siaran .

Beberapa guru merasa sudah pernah mengikuti ujian tetapi sampai sekarang belum bisa menggunakan sertifikat ujian untuk proses kenaikan pangkat, kata Endang Lestari

” Dulu tahun 90 an saya pernah mengikuti ujian SRP , sampai kini sertifikatnya tidak turun.” Ujian di Bangun Harjo Kecamat-an Semarang Tengah, dan mengajarnya di perumahan Banyumanik 07 Semarang.

Masalah lain, guru juga tidak tahu kalau siaran tetap berlangsung. Seperti dikatakan oleh Indraningrum S.Pd Kepala SD 1 Citarum Semarang juga kepala Gugus Boegenvil III.” Siaran ini menambah wawasan dan bermanfaat bagi guru tapi sayang saya tidak mendengar kalau siaran ini masih diudarakan”.. (www.suara merdeka.com)

Penyebab lain tersingkirnya media radio adalah:

Ø Belum tahu tentang radio pendidikan

Ø Mengurangnya kultur membaca

Ø Program kurang menarik dan kurangnya sosialisasi

Ø Kurang kesadaran

Ø Belum pernah ada pelatihan

Ø Dampak kurang mengena

Ø Internal guru

Merasa tidak tahu cara pemanfaatan

Ø Keterbatasan program

Diantara banyaknya kasus diatas mengenai tersingkirnya media radio, sebenarnya radio mempunyai beberapa peluang, menurut A.Darmanto (2008) peluang radio pendidikan  diantaranya:

Ø Kurangnya akses informasi di desa, pada hal sekitar 70 % penduduk Indonesia tinggal di desa.

Ø Banyak daerah di Indonesia yang belum teraliri listrik, sehinnga media yang paling layak adalah radio.

Ø Secara sosio cultural, radio lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang tidak memiliki tradisi kuat dalam membaca.

Ø Proses demokratisasi yang menuntut adanya transparansi , partisipasi, dan akuntabilitas hanya mungkin berjalan dengan baik kalau arus informasi lancar di semua lini, dan terbuka kesempatan yang sama dalam akses informasi.

Ø Amamdemen UUD 1945, pasal 28 F, UU HAM No. 39?1999, UU Pers No.40?1999, UU Penyiaran No.32?2002 , UU KIP secara aksplisit menjamin setiap orang warga Negara berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi demi Pengembangan dirinya.

Ø UU No.32 Tahun 2002 tentang penyiaran menjamin keberadaan Lembaga Penyiaran Publik Lokal dan Radio Komunitas..

Ø Perusahaan-perusahaan besar kini dituntut menjalankan apa yang disebut Corporate Social Responsibility.

Ø Banyak lembaga layanan sosial yang memanfaatkan radio untuk menjalankan misinya.

Ø Banyak radio luar negeri seksi Indonesia yang menerima penawaran program berkualitas.

Langkah yang ditempuh agar radio pendidikan tetap eksis antara lain:

Ø Menggerakkan lagi program diklat radio untuk kalangan guru.

Ø Memperbanyak siaran pendidikan dari pada siaran untuk bisnis.

Ø Menggerakkan munculnya radio pendidikan di lingkungan sekolahan.

Ø Kerja sama antara pihak radio dengan LSM yang bergerak dalam bidang pendidikan.

Ø Memperbanyak program audio sebagai media pembelajaran di lingkungan sekolah.

Penggunaan media radio untuk pendidikan juga didorong oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

Ø Eksplosi penduduk yang dengan sendirinya mengakibatkan eksplosi anak-anak usia sekolah.

Ø Eksplosi ilmu pengetahuan

Ø Eksplosi teknologi, kedua eksplosi terakhir ini menambah lebar dan dalam jurang pemisah antara negara berkembang dan negara sedang berkembang

Ø Terbatasnya dana dan fasilitas untuk perbaikan

Ø Perjalanan waktu yang tak dapat menunggu lagi

Sedangkan eksperimen yang dilaksanakan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebelum disebarkan ke daerah lain telah diteliti oleh PT Inscore Indonesia atas biaya UNESCO (1973), 2 diantara 10 kesimpulannya menyatakan  (Zamris habib.1999):

Ø Pencapaian (coverage) dari sasaran tergantung bukan saja dari kemampuan teknis pemancar tetapi juga pada kemampuan ekonomi pendengar, pemilihan waktu siaran yang tepat, dan informasi yang lebih meluas, jelas dan tegas (umpamanya berbentuk instruksi mengenai adanya siaran).

Ø Siaran pendidikan ternyata lebih tepat untuk pelajaran-pelajaran/acara-acara yang memerlukan unsur-unsur audio dan hal-hal atau perkembangan-perkembangan baru yang dapat diikuti terus menerus oleh guru/kelompok pendengar

PENUTUP

Radio merupakan salah satu media yang dapat membantu dalam proses belajar mengajar, radio dopandang menjadi media pembelajaran yang tepat karena memiliki  beberapa kelebihan dan yang terpenting radio sesuai dengan karakteristik geografis Indonesia.

Namun sekarang ini radio mulai tersingkirkan oleh media lain, hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya kurangnya pengetahuannya sebagaian guru tentang media radio pendidikan. Untuk itu kita sebagai kaum terdidik berkewajiban untuk mulai menggalakkan lagi radio pendidikan di lingkungan pendidikan..

DAFTAR PUSTAKA

Ø Darmanto,A.2008.Produksi Program Radio.Yogyakarta:-

Ø Habib,Zamris.2008.Pendidikan Terbuka dan JarakJauh.http://Zamrishabib.wordpress.com.25 Mei

Ø Majalah Siar Demokrasi Edisi 11 Desember 2007

Ø Penyusun,Tim.2003.Strategi Belajar Mengaja.Yogyakarta:Penerbit FIP UNY

Ø Rahayu, Rini. 2007. Pendidikan melalui Radio. http://www.suaramerdeka.com, 25 September

Ø Sadiman, Arif S dkk. 1986. Media Pendidikan. Jakarta : PT.. RajaGrafindo Persada.

Ø Sitio,Anton.2007.Nuansa Baru Media Komunikasi Pendidikan Non Formal.http://Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Biasa.com.28 Januari

Ø Sudjana,Nana dan Ahmad Rivai.1990.Media Pengajaran.Bandung:Sinar Baru

KARYA INI SEPENUHNYA KARYA SAYA, KECUALI BAGIAN YANG MEMANG SUDAH DISEBUTKAN DALAM DAFTAR PUSTAK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: