Juni 25, 2008

POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Posted in Artikel, Pendidikan pada 3:03 pm oleh tepeuny

Oleh : Afi Julantari  Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan  UNY

Perkembangan teknologi informasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Menurut Rosenberg dengan berkembangnya teknologi informasi ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu : (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas bisa dimana aja dan kapan saja, (3) dari kertas ke on-line atau saluran, (4) Dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media komunikasi seperti, telephon, komputer, internet, media cetak maupun media electronik dsb. Interaksi guru dengan siswa tidak hanya bisa dilakukan dengan tatap muka dikelas akan tetapi bisa juga dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus bertatap muka dengan siswa, begitu juga dengan siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup luas dengan menggunakan media – media tersebut diantaranya media Radio. Media ini dapat menjangkau populasi pendengar yang lebih banyak dengan jarak jauh dan waktu yang lebih cepat, serta biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan media-media lain, sehingga pendidikan melalui media radio lebih efektif dan efisien. Secara sosio cultural, radio lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang tidak memiliki tradisi kuat dalam membaca. Seperti kata Rudi Hofmanm, transformasi cultural masyarakat Indonesia dari tradisi lisan tahap I melompat ke lisan tahap II ( audio visual ), dan tidak melewati tradisi membaca seperti terjadi dinegara-negara maju. Pendidikan melalui radio harus merupakan kebulatan sistem penyajian (total delivery sistem). Siaran radio pendidikan saja bukan merupakan suatu sistem penyampian delivery sistem. Untuk itu ada beberapa komponen penting dalam sistem penyampaian ini adalah :

  1. Kurikulum (segala kegiatan yang diberikan kepada anak didik)
  2. Acara dan metode siaran yang diatur
  3. Tempat kegiatan belajar yang dilengkapi dan diawasi oleh seorang pembina pendidikan monitoring kegiatan dan kemajuan anak.
  4. Evaluasi kemajuan[1]

Media komunikasi masa merupakan suatu komponen integral dalam sistem pendidikan nasional. Sistem ini dikukuhkan dengan nama teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan. Sejak tahun 1951 telah ada program pendidikan melalui radio yang terutama ditujukan kepada pelajar pejuang kemerdekaan tetapi karena berbagai faktor penghalang prorgam ini terhenti. Kini kita harus mengunakan teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan karena kita sangat membutuhkannya. Namun sayang, saat ini siaran radio banyak memuat program hiburan dan mengesampingkan program pendidikan. Misalkan saja Radio Pro 2 jogja yang terletak di Jl. Affandi Depok, Sleman Yogyakarta. Berikut cuplikan program siaran radio Pro 2 jogja dalam bentuk persentase :

Hiburan 45%

Berita dan Informasi 30%

Pendidikan 5%

Kebudayaan 5%

Iklan/yanmas/acara penunjang 15%

Dengan klasifikasi siaran tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa media radio kita saat ini lebih mengutamakan dunia hiburan dari pada dunia pendidikan, dimana dunia hiburan mendapat porsi 45% sedangkan dunia pendidikan hanya 5%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih suka mendengar atau melihat acara hiburan dari pada mendengar atau melihat acara yang bertajuk pendidikan.

Terlepas dari itu, jika media dapat dipergunakan secara efektif dan efesien, sudah barang tentu dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan diIndonesia. Menurut Ely potensi teknologi dan komunikasi dalam peningkatan mutu pendidikan sebagai berikut :

  1. Meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan mempercepat tahap belajar, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
  2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisioanal, memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan kemampuanya.
  3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pelajaran dengan jalan perencanaan program pengajaran yang lebih sistematis, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi tentang pernelitian perilaku.
  4. Lebih memantapkan pengajaran, meningkatkan kapabilitas manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih konkrit.
  5. Memungkinkan belajar secara seketika karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran didalam dan luar sekolah, memberikan pengetahuan langsung.
  6. Memungkinkan penyajian pedidikan lebih luas terutama adanya media masa dengan jalan pemannfaatkan bersama (secara lebih luas tenaga atau kejadian yang langka, penyajian informasi menembus batas geografi ).[2]

Dengan demikian pemanfaatan media secara efektif dan efesien harus dilaksanakan seluruh kalangan, baik pemilik media itu sendiri maupun seluruh penikmat media. Agar siaran radio lebih efektif dan efisien diperlukan alternatif sebagai berikut :

  1. Menyusun Program
  2. Melaksanakan analisis model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  3. Melaksanakan perancangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  4. Melaksanakan pembuatan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  5. Menyusun rekomendasi hasil pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  6. Menyelenggarakan evaluasi pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  7. Melaksanakan pengelolaan, sarana, peralatan dan bahan pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  8. Melaksanakan layanan teknis pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  9. Melaksanakan urusan ketatausahaan balai; dan
  10. Menyusun laporan balai

Dengan menggunakan media dan teknologi, kita dapat memperluas jangkauan pelayanan pendidikan. Penggunaan media dan teknologi untuk memperluas jangkuan pendidikan ini dapat dibedakan menjadi dua pendekatan yaitu pelajaran jarak jauh dan penrluasan sekolah[3]. Pelajaran jarak jauh ( distance learning ) pada umunya mempunyai karakteristik dapat diperolehnya bahan pelajaran dengan menembus hambatan jarak dan kondisi geografis, waktu dan tempat belajar yang hampir sepenuhnya dapat diatur sendiri terutama dengan bantuan peralatan yang sesuai, proses belajar lebih menekankan pada kegiatan dan kemampuan individual, serta biaya yang lebih rendah dari pada cara belajar yang lain. Kinyanyui melaporkan penggunaan media radio dan korespondensi untuk penataran guru di Kenya. Pelajaran jarak jauh di Kenya ini mulai pada tahun 1968 setelah direncanakan sejak tahun 1964. sasaran utama adalah guru sekolah dasar yang seluruhnya berjumlah 37.923 orang, tetapi yang 10.438 diantaranya tidak mempunyai kualifikasi sebagai guru, sedangkan 16.992 yang dianggap mempunyai kualifikasi hanya mendapat pendidikan profesional selama 2 tahun sesudah tamat pendidikan dasar. Pelayanan yang diberikan meliputi bahasa ( Inggris dan Swahili ) sejarah, ilmu bumi dan matematika, biologi dan ilmu pengetahuan alam. Media yang dipakai adalah korespondensi dan radio. Evaluasi yang dilakukan antara lain menunjukkan bahwa persentase jumlah lulusan mereka yang mengikuti sekolah guru yang reguler ( pada tahun 1970 siswa reguler yang lulus sebanyak 47%. Sedangkan dari program ini sebanyak 51%). Sedangkan dari semua guru yang tidak mempunyai kualifikasi ternyata 82% dapat menamatkan pendidikan jarak jauh ini dan memperoleh sertifikat mengajar dalam waktu satu tahun.

Suatu pendekatan lain dari perluasan jangkauan pelayanan pendidikan adalah perluasan sekolah. Cara ini mempunyai struktur yang lebih mendekati sekolah formal. Bedanya hanya dalam penggunaan sumber dan fasilitas yang lebih bebas serta organisasi yang lebi luwes. Contohnya adalah SMP terbuka, yang pada saat ini masih berupa perintisan diberbagai daerah yaitu : Kalianda, Lampung, Plumbon, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalisat Jember, Terara, dan Nusa Tenggara Barat ).

Kesuksesan dalam penyampaian siaran pada dasarnya ditentukan oleh ketepatan pemilihan media. Oleh karena itu dalam memilih media penyampaian perlu kehati hatian, karena kesalahan dalam memilih media akan mengakibatkan tujuan kita tidak tercapai. Bagaimana agar kita tidak salah dalam memilih media penyampaian ? berikut cara yang dapat kita gunakan.

Gambaran menyeluruh proses pemilihan media

Tentukan isinya :

Media

Tidak

Tepat

 

Pembelajaran

Informasi

Lihat

Appendix

Diagram

Media Tidak Tepat

LANGKAH 1

Tentukan

Metode

Transmisi

LANGKAH 2

Alat Bantu

Intruksional

Diagram Ia- Ib

Tentukan ciri -ciri

Khas Mata Pelajaran

Media

Intruksional

Diagram Ic- Id

Tentukan ciri ciri

Khas Mata Pelajaran

LANGKAH 3

Pilihlah Media dari

Golongan alat bantu

Intruksional

Pilihlah media dari

Golongan media

Intruksional

LANGKAH 4

Tinjau kembali keku

Rangan dan kelebihan

Media terpilih leng

Kapi langkah 1 dari

Daftar cetak

Tinjau kembali keku

Rangan dan kelebihan

Media terpilih leng

Kapi langkah 1 dari

daftar cetak

Media

Tidak

tepat

 

Media Tidak  tepat

LANGKAH 5

Media

Tepat

Media

Tepat

Tinjau kembali bagian tes pengem

Bangan dan kem

Bangkan bahan dengan menggunakan

Daftar cek

LANGKAH 6

Penjelasan flow chart :

Langkah Pertama :

Anda menentukan apakah pesan anda bersifat pembelajaran atau informasi.

Langkah kedua :

Anda menentukan bagaimanan caranya anda mentransmisikan pesan anda apakah ini media untuk membantu seseorang instruktur ataukah suatu media yang menunjukkan terjadinya pembelajaran mandiri atau kelompok tanpa seorang instrukturpun.

Langkah ketiga :

Dengan menggunakan diagram IA dan IB atau IC dan ID, anda akan dibantu untuk menentukan ciri-ciri pelajaran anda, dan selanjutnya memperkecil jumlah pilihan media serta membimbing anda menentukan golongan media tertentu yang cocok untuk tujuan instruksional anda.

Langkah keempat :

Anda harus beralih kediagram 2 untuk menentukan media yang paling sesuai dalam kategorinya, yaitu media yang paling cocok bagi populasi siswa. Kapasitas produksi setempat, fasilitas, kebijakan dan dana.

Langkah kelima :

Anda kembali kemedia yang pertamakali dan kemudian mempelajari daftar ciri-ciri khas dari media ini, serta keterbasan dan kelebihannya dalam penyajian jika media itu nampaknya memadai, maka anda harus melengkapi bagian pertama dari daftar cek. Ini berarti anda harus meminjam kembali kemudian menyaring pilihan anda. Tetapi jika setelah diproses (disaring), ternyata media itu tak sesuai, maka kembalilah kelangkah keempat, dan tentukan pilihan lain dari daftar yang sama, sekali lagi, periksalah daftar cek untuk media itu sampai anda betul – betul yakin dan puas bahwa media itu betul – betul cocok untuk kondisi pembelajaran anda.

Langkah keenam :

Setelah memiliki media yang cocok, maka anda masuk kelangkah yang keenam, yakni merencanakan tes pengembangan bagi media tersebut juga bagi bahan – bahan pelajaran anda.[4]

Perkembangan perpustakaan dan teknologi informasi saat ini termasuk siaran radio dan televisi turut mengembangan kesempatan dan kesanggupan belajar sendiri tanpa selalu mendapat bimbingan dari guru. Beberapa alasan mengapa kita menggunakan media radio :

1. Siaran dapat membawa dunia luar kedalam kelas yang menyamai pengalaman langsung.

2. Siaran merupakan sumber informasi yang paling mutakhir dalam bentuk yang mudah dipahami disamping buku, film, gambar dll.

3. Siaran menciptakan suasana yang menyenangkan, merangsang dan membangkitkan ide-ide baru.

4. Siaran dapat memberikan informasi yang tidak segera dapat diberikan oleh guru dan tidak dapat disajikannya dalam bentuk yang dapat menyamai siaran itu.

5. Cara penyajian oleh siaran sangat hidup, menarik dan mengundang keterlibatan anak kedalam peristiwa – peristiwa yang diperlihatkan.

6. Siaran dapat menyampaikan hal-hal yang tidak dapat disajikan ( seperti musik, kebudayaan, kesenian dan sebagainya ).

7. Siaran dapat mengembangkan kesanggupan dan keterampilan atau teknik untuk melihat dan mendengarkan.[5]

Pelajaran dengan siaran radio akan lebih efektif bila lebih dahulu dipersiapkan dan kemudian diadakan kegiatan evaluasi. Bila langsung digunakan siaran radio guru harus berusaha menyesuaikan diri dengan jadwal pelajaran. Jika ada kemungkianan untuk merekamnya maka guru tidak terikat waktu siaran selain itu guru dapat lebih dahulu mendengarkan atau melihatnya sebelum disajikan kepada murid. Cara ini besar faedahnya bagi kegiatan follow up dan untuk meminimalisir siaran yang tidak bermanfaat .

Tiada maksud penulis untuk menggurui, akan tetapi penulis hanya berharap semoga karya ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembaca untuk mengembangkan dunia pendidikan yang berbasis teknologi sebagaimana yang terjadi dinegara-negara maju.

Daftar Pustaka

Arif S. Sadiman (dkk), 2002, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Ely,Donald P, 1979 , Instructional design and Development : P articipant’s notebook, Jakarta ( Education Technologi Modul 2.1 )

H. Anderson, Tim Penerjemah, Yusufhadi Miarso, 1994, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Nasution , 1999, Teknologi Pendidikan, Jakarta : PT Bumi Aksara

Yusufhadi Miarso, 1984, Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali

PERNYATAAN

BAHWA KARYA INI SEPENUHNYA KARYA SAYA ( BUKAN PLAGIAT ) KECUALI BAGIAN YANG MEMANG SUDAH DISEBUTKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA.


[1] Yusufhadi Miarso, 1984, Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali

[2] Ely,Donald P, 1979 , Instructional design and Development : P articipant’s notebook, Jakarta ( Education Technologi Modul 2.1 )

[3] Arif S. Sadiman (dkk), 2002, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

[4] H. Anderson, Tim Penerjemah, Yusufhadi Miarso, 1994, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

[5] Nasution , 1999, Teknologi Pendidikan, Jakarta : PT Bumi Aksara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: