Juni 24, 2008

MEDIA RADIO DAN SIARAN RADIO PENDIDIKAN

Posted in Pendidikan pada 9:19 am oleh tepeuny


Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Posisi pendidikan pada saat ini bukan sebagai pelengkap dalam kehidupan, melainkan sudah menjadi kebutuhan pokok. Artinya, dalam kehidupan berkeluarga pendidikan menjadi fokus dan prioritas utama dalam keluarga. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian akan terbentuk manusia yang mampu bersaing dalam dunia global saat ini yang memiliki kualitas serta intelegensi yang baik tentu pula tidak terlepas dari moral dan tingkah laku yang baik pula.
Menghadapi persaingan yang terbuka saat ini, tentunya semua orang ingin serba cepat dan praktis. Sehingga saat ini yang dipikirkan hanyalah hasil yang didapatkan bukan menikmati proses yang dikerjakan. Apalagi seperti masyarakat bangsa kita yang memilii etos kerja sangat rendah. Sampai timbul lelucon seperti ini : “Apa bedanya orang Jepang dan orang Indonesia?” jawabnya : “orang Jepang bekerja dengan keringat lalu istirahat (makan) dengan santai. Sedangkan orang Indonesia bekerja dengan santai dan istirahat (makan) sampai berkeringat. Tentunya lelucon diatas bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan bangsa sendiri, melainkan sebagai pemicu semangat agar nantinya akan muncul orang-orang Indonesia yang mampu berbicara dimata dunia.
Karena hal tersebutlah budaya instan dari luar mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Sekarang segala sesuatu mudah di dapatkan secara mudah, praktis, dan cepat. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet, dan masih banyak yang lainnya. Kemajuan teknologi tentunya menuai banyak manfaat dalam kehidupan kita. Tetapi, ada satu hal yang harus dihindari dengan adanya kemajuan ini, yaitu etos kerja dan semangat yang rendah. Karena segala sesuatu dapat dikerjakan secara cepat dan praktis.
Dari sekian banyak kemajuan teknologi yang ada, dunia pendidikan ikut terkena dampaknya. Sekarang kita perhatikan, anak-anak kecil yang seharusnya menikmati hari-harinya dengan bermain dan belajar sekarang terlihat duduk manis di depan sebuah kotak yang ajaib yang kita sebut televisi. Kotak tersebut telah menyihir anak-anak dengan tayangan yang tidak mendidik dan berkualitas. Selain itu, kemajuan dunia maya (internet) juga merubah sifat dan tingkah laku anak-anak. Sekarang tak dapat dipungkiri lagi, internet telah menyebar disetiap pelosok daerah. Memang, internet dibuat agar informasi dapat menyebar dengan cepat. Tetapi perlu diingat tanpa adanya pengawasan dan perhatian orang tua, anak-anak dengan mudah mengakses situs yang seharusnya bukan untuk seusia mereka.
Kemudian muncul pertanyaan di dalam diri kita. “Jika media yang memiliki teknologi canggih ada dampak buruknya bagi anak, dengan media apa yang bisa kita gunakan?”. Sebuah pertanyaan klasik yang tentunya ada dalam pikiran setiap orang. Pertanyaan kuno yang mungkin disepelekan oleh mereka yang tidak peduli dengan pendidikan. Hanya satu jawaban dari pertanyaan tersebut, yaitu radio.
Memang terlihat kuno, ketinggalan zaman, atau sebagainya begitu orang mendengar kata radio. Media yang sekarang mulai tertindas perannya dengan teknologi-teknologi terbaru. Media yang telah dilupakan perannya ketika manusia masih pada peradaban terdahulu. Bahkan sekarang hampir dipastikan tidak semua rumah memiliki radio. Sebuah kenyataan yang dilematis yang tentunya tidak kita inginkan, Namun begitulah adanya, orang telah melupakan peran dan fungsi dari radio.
Perlu diingat, sejak PD II, radio telah menunjukkan kekuatannya sebagai media pendidikan dalam arti luas, dan media komunikasi politik, termasuk pendidikan politik. Fungsi pokok media komunikasi massa termasuk radio yaitu meliputi pengamatan/pengawasan lingkungan (surveillance of the environment). Bagi masyarakat fungsi pokok radio sebagai sumber informasi, kemudian fungsi kedua, pengembangan konsensus. Konsensus terkait dengan sosialisasi atau fungsi pendidikan dalam arti luas. (M.Alwi Dahlan dalam situs http://www.pustekkom.go.id/teknodik/)
Sekarang mari kita buka lagi pikiran kita mengenai pemanfaatan radio dalam pendidikan. Namun sebelumnya kita ulas kembali apa itu radio. Pengertian “Radio” menurut ensiklopedi Indonesia yaitu penyampaian informasi dengan pemanfaatan gelombang elektromagnetik bebas yang memiliki frequensi kurang dari 300 GHz (panjang gelombang lebih besar dari 1 mm). Sedangkan istilah “radio siaran” atau “siaran radio” berasal dari kata “radio broadcast” (Inggris) atau “radio omroep” (Belanda) artinya yaitu penyampaian informasi kepada khalayak berupa suara yang berjalan satu arah dengan memanfaatkan gelombang radio sebagai media.
Sedangkan menurut Versi Undang-undang Penyiaran no 32/2002 : kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Dengan adanya radio, seluruh informasi dapat disebarluaskan dalam waktu yang singkat, bahkan sampai dengan daerah yang belum terjangkau sekalipun oleh media lainnya. Jika kita melihat geografis bangsa ini, sekitar 70% penduduk Indonesia tinggal di desa, tetapi akses informasi dikuasai oleh masyarakat kota. Selain itu dari 5,5 juta oplah surat kabar yang terbit di Indonesia, 60% beredar di Jakarta; dan dari 40% (sekitar 2,2 juta) yang beredar di luar Jakarta, 70% beredar di kota, sedangkan untuk desa seluruh Indonesia hanya 660.000 examplar. Jika desa di Indonesia ada 63.000, berarti rata-rata tiap desa hanya mendapat jatah 10,4 examplar surat kabar. (A, Darmanto, 2008. Produksi Program Audio).
Lalu apakah cukup 10 examplar untuk dibaca oleh masyarakat satu desa? Apakah mungkin berita yang disampaikan langsung dimengerti oleh masyarakat? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka jawabnya hanya satu yaitu media yang tepat untuk daerah seperti itu tidak lain radio. Radio memang fenomenal bagi masyarakat desa. Apalagi untuk desa yang belum tersentuh sama sekali dengan kehidupan modern dan belum teraliri oleh listrik.
Kenapa radio begitu fenomenal? Tentu ada sebabnya. Radio memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh media lainnya. Menurut Dodi Mawardi, dalam situsnya (http://dodimawardi.wordpress.com) ada sembilan karakteristik media radio yaitu :
Theater of Mind (Media radio memiliki kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar).
Personal (Media radio mampu menyentuh pribadi pendengar).
Sound Only (Media radio hanya menggunakan suara dalam menyajikan informasinya).
At Once (Media radio dapat diakses cepat dan seketika).
Heard Once (Media radio di dengar secara sepintas).
Secondary Medium Half Ears Media (Media radio bisa menjadi teman dalam beraktifitas).
Mobile / Portable (Media radio mudah dibawa kemana saja).
Local (Media radio bersifat lokal, hanya di daerah yang ada frekuensinya).
Linear (Media radio tersusun secara sistematis).
Selain dari sembilan karakteristik yang ada diatas dapat ditambahkan kekuatan/kelebihannya. Menurut A.Darmanto dalam tulisannya (Radio: Media yang terpinggirkan, mampukah membangun kota?) yaitu :
Rapidity (Tingkat kecepatan menyampaikan informasi cukup tinggi).
Wide Coverage (Jangkauan wilayah siarannya luas).
Simultaneous (dapat dinikmati secara serentak dalam waktu yang sama).
Illiteracy (dapat dinikmati oleh yang buta huruf).
Jika melihat karakteristik serta kekuatan yang dimiliki radio, tentunya tidak salah lagi jika kita memanfaatkan media radio ini dalam dunia pendidikan. Dengan adanya radio tentunya pembelajaran akan lebih menyenangkan. Anak-anak dapat menikmati kembali cerita atau dongeng melalui radio yang dengan karakteristiknya hanya “suara” akan mampu membangkitkan daya imajinasi anak itu sendiri. Selain itu, radio masih dipandang oleh para pemilik opini sebagai saluran yang mempunyai pendengar efektif (Redi Panuju, Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik, Bayumedia Publising, 2005).
Artinya baik guru yang menyampaikan materi pembelajaran maupun siswa sebagai audiens bisa saling bertukar pendapat tentang materi pelajaran yang disampaikan. Radio juga menjujung tinggi perbedaan karakteristik pendengarnya. Tidak selamanya siaran melalui media radio terkesan formal. Melalui cerita-cerita tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri. Pendengar senang mendengarkannya, pesan yang akan disampaikan pun tersampaikan dengan baik.
Adanya media radio pendidikan merupakan perkembangan baru yang memberi nuansa positif dalam penyebar luasan informasi pendidikan. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang program pendidikan akan meningkatkan kemauan masyarakat untuk terlibat dalam mensukseskan program-program pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Secara sederhana dapat kita sadari bahwa program siaran pendidikan dari media radio akan memberi pembelajaran kepada masyarakat pendengar yang akhirnya akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat.
Setelah adanya radio sebagai media pendidikan, maka sebaiknya perlu adanya pengelolaan yang baik agar nantinya dapat tetap berjalan pada jalurnya. Keberhasilan dalam mutu Siaran Radio Pendidikan antara lain ditentukan kualitas manajemen. Karenanya program ini akan semakin efektif apabila dikelola secara ahli. Berbagai produk teknologi komunikasi/ informasi, termasuk di dalamnya media radio, memiliki ciri khas, yaitu menjanjikan kecepatan, ketepatan, kepraktisan dan kualitas dalam mencari, mengumpulkan menyeleksi, mengolah dan menyajikan informasi. Sesuai dengan ciri khas media radio sebagai salah satu produk teknologi elektronika maka menjadi keharusan bahwa manajemen yang diterapkan dalam penyelenggaraan siaran harus manajemen yang dinamis.
Pada umumnya para guru berpendapat bahwa siaran radio pendidikan bermanfaat menambah wawasan untuk mengajar, meski sebagian tidak mengetahui kalau hingga hari ini siaran tersebut masih mengudara. Bagaimana langkah ke depan agar siaran ini menjadi efektif?. Menurut Rini Rahayu, (mahasiswa PPS Unnes, wacana Suara Merdeka 13 September 2005) ada beberapa langkah alternatif yang perlu ditegakkan agar siaran efektif yaitu :
• Agar siaran radio rendidikan bisa didengar dan berhasil menjadi media peningkatan wawasan guru dalam proses belajar mengajar kepada peserta didik, Balai yang ditunjuk sebagai pengelola, hendaknya berperan aktif melaksanakan prinsip-prinsip organisasi terutama koordinasi kepada kelompok belajar agar selalu memonitor dan mengikuti siaran
• RRI yang ditunjuk diantara beberapa media yang menyiarkan siaran radio pendidikan tidak ada salahnya jika senantiasa gencar memutar “promo acara” agar siaran ini dapat diketahui. Karena melakukan koordinasi dengan stakeholders dan instansi terkait merupakan bagian tugas dan fungsi dari RRI.
• Untuk mendapatkan produksi paket siaran radio pendidikan yang berkualitas, pihak BPMR hendaknya tetap komit mengaktualisasikan prinsip dan fungsi manajemen yang dinamis, sehingga dapat dihasilkan mutu paket yang menarik, enak diikuti juga pesan yang disampaikan diterima, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka dalam mengefektifkan proses belajar – mengajar.
• Sebagai pendidik idealnya menyadari dan beraplikasi terhadap pendidikan yang mempunyai konsep pendidikan sepanjang hayat sehingga mendengarkan dan mengikuti radio pendidikan merupakan kegiatan sebagai pengayaan.
• Pihak-pihak yang terlibat dalam radio pendidikan hendaknya duduk bersama menentukan langkah terbaik agar diklat siaran ini dapat efektif.
Jika fungsi dari media radio telah diketahui, serta banyak manfaat yang dapat diambil apalagi dengan adanya manajemen yang baik, maka kenapa tidak kita menggunakan radio sebagai media pendidikan melalui siaran radio pendidikan.

Oleh : Prayoga Putra Utama (05105244006)
Mahasiswa Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta

(Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Radio Pendidikan, serta didedikasikan penuh sebagai bahan wacana untuk “semua” yang masih peduli dengan media radio khususnya sebagai media pendidikan).
TERIMA KASIH
DAFTAR PUSTAKA

A. Darmanto, 2005. Himpunan Materi Pelatihan Bidang Radio Siaran. Yogyakarta: DEPKOMINFO-BPPI wilayah IV Yogyakarta.
A, Darmanto, 2008. Produksi Program Audio.
Panuju, Redi, 2005. Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik. Bayumedia Publising.
Harian Suara Merdeka edisi 13 September 2005
http://dodimawardi.wordpress.com
http://www.pustekkom.go.id/teknodik/

1 Komentar »

  1. edan said,

    yahhhhh…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: