April 23, 2008

KBK, Konsep dan Implementasinya

Posted in Artikel, Pendidikan pada 6:49 am oleh tepeuny

Oleh Setiaji & Suranto Rufman

PELUNCURAN Kurikulum 2004 sebagai kurikulum berbasis kompetensi (KBK) mendapatkan tanggapan yang beraneka ragam. Beberapa sekolah menengah umum ( SMA dan SMP) berusaha menerapkannya dan mengumumkan bahwa sekolahnya telah menerapkan KBK.

Pemerintah daerah maupun provinsi juga banyak yang tanggap dan langsung menganjurkan agar sekolah di wilalayahnya menerapkan. Beberapa daerah mengklaim bahwa sekolah di daerahnya telah menerapkan KBK. Langkah yang ditempuh beberapa daerah ini sebenarnya tidak salah karena didasarkan atas edaran yang memberlakukan kurikulum 2004 di sekolah-sekolah mulai awal tahun pelajaran 2004/2005.

Data menunjukkan, beberapa sekolah yang menerapkan Kurikulum 2004 telah menjadi korban, yaitu pada saat pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN). Ada beberapa sekolah yang kelulusannya hanya mencapai 50 %, sehingga memaksa pemerintah untuk melakukan UAN susulan.

Mendiknas selaku penanggung jawab kemajuan pendidikan menganggap Kurikulum 2004 yang dikenal dengan KBK, saat ini dikatakan bukan merupakan KBK tetapi Kurikulum 2004. Sedangkan kurikulum KBK itu sendiri sekarang sedang digarap secara maraton di bawah koordinasi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang rencananya baru akan disahkan dalam bulan Januari ini. Menurut rencana 10 Januari 06.

Apa pun istilahnya, Kurikulum 2004 sebenarnya merupakan KBK, sehingga apa yang sedang dikerjakan oleh BSNP merupakan upaya evaluasi dan revisi terhadap beberapa kelemahan pelaksanaan KBK yang telah diterapkan di sekolah-sekolah mulai tahun pelajaran 2004/2005.

Beberapa temuan yang merupakan kondisi riil dalam pelaksanaan KBK di sekolah dapat gambaran dalam uraian berikut.

Tataran Konsep

KBK sebenarnya hanya cocok diterapkan pada pendidikan profesi dan vokasi dan kurang cocok untuk pendidikan umum ( akademis). Akan tetapi di Indonesia diujicobakan di sekolah umum (seperti SMA, SMP), sehingga para guru mengalami kesulitan dalam menjabarkan mata pelajaran dalam kompetensi (yang konkrit).

Sebenarnya KBK di Indonesia sudah pernah diterapkan di sekolah kejuruan (1980-an) dan pendidilan guru tahun 1978.

Dalam KBK semua mata pelajaran harus dapat ditransformasikan ke dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Padahal tidak seluruh mata pelajaran dan pokok bahasan bisa. Oleh karena itu kesan yang ada seolah-olah dipaksakan.

Secara konseptual kebijakan ini juga tidak tepat, karena didasarkan atas teori Bloom, sedangkan teori Bloom itu sendiri telah direvisi oleh Anderson (2001). Apabila dikaji dari sudut psikologi juga kurang tepat, karena kompetensi siswa bukan hanya meliputi kognitif, afektif dan psikomotor.

Potensi siswa jauh lebih luas dan kompleks sebagaimana yang diungkapkan oleh Gardner (1983) tentang Multiple Intelegences. Selain itu masih ada potensi lain yang harus dikembangkan, yaitu kecerdasan emosional (Goleman,1997) dan kecerdasan spiritual (Pasiak, 2002).

Apabila dikaji dari jumlah mata pelajaran dan materi yang harus dikuasai siswa, dalam KBK masih terlalu memberatkan siswa. Siswa dipaksa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang sangat padat, sehingga tidak sempat untuk mengembangkan sendiri potensinya secara bebas. Beberapa pakar tentang psikologi anak menganggap sebagai pemerkosaan terhadap jiwa anak.

Tataran Implementasi

Sekolah, baik di tingkat SMA maupun SMP mulai tahun pelajaran 2004/2005 telah banyak yang menerapkan KBK yang sedang dalam taraf uji coba.

Hal ini tentunya membawa dampak yang kurang baik bagi siswa, karena selain guru itu sendiri kurang menguasai arah dari KBK juga masih banyak kelemahannya.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam KBK menekankan pada keaktifan siswa untuk belajar sendiri, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan organisator.

Berbagai strategi pembelajaran yang mendorong keaktifan / potensi siswa tentunya harus diterapkan, seperti Contectual Teaching Learning (CTL). Namun realisasinya pembelajaran tetap konvensional.

Seandainya ada upaya mengaktifkan siswa, siswa hanya diberi tugas belajar sendiri / mengerjakan soal dan gurunya santai, sehingga hanya meringankan beban guru dan memberatkan beban siswa. Hal ini terjadi karena banyak faktor yang merupakan sistem dalam pembelajaran itu, antara lain kondisi siswa, media, lingkungan, sistem evaluasi dan yang paling utama adalah kemampuan guru

Para guru tampaknya belum siap untuk melaksanakan KBK. Hal ini terlihat dalam kreativitas mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan menggunakan media pembelajaran, mendorong kreativitas siswa.

Pelaksanaan evaluasi tampaknya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan guru tetap melaksanakan pembelajaran konvensional. Guru yang memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap kelulusan siswa senantiasa akan mengusahakannya dengan berbagai cara.

Selama pelaksanaan evaluasi hanya menguji ranah kognitif/knowledge tingkat rendah, maka dalam kegiatan pembelajaran para guru akan terbelenggu oleh materi pelajaran, yaitu berusaha menghabiskan seluruh target materi pelajaran. Akibatnya pembelajaran tetap konvensional.

Ketersediaan media pembelajarzzan. Sistem pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL mengharuskan siswa untuk menekankan kontak langsung dengan sumber materi (media) yang harus disiapkan guru. Realitas yang ada ketersediaan media terbatas dan ketersediaan dana untuk pengadaan media pembelajaran relatif terbatas.

Selain itu keterampilam atau kreativitas guru untuk mengadakan dan menggunakan media pembelajaran juga terbatas.

Pelaksanaan evaluasi dalam KBK harus meliputi tiga aspek untuk setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar dan indikator. Hal ini kadang kurang dilaksanakan oeh guru, terutama di sekolah yang kurang kondusif dan disiplin.

Para guru banyak yang merasa memilki keterbatasan waktu dalam melaksanakan penilaian dan mengalami kesulitan untuk mengungkap kompetensi yang telah dikuasai siswa. Akibatnya evaluasi tetap cenderung hanya hanya mengungkap aspep kognitif.

Realitas yang ada menunjukkan, kondisi siswa bersifat heterogen. Dalam KBK kondisi siswa yang heterogen ini harus diperhatikan oleh guru.

Siswa yang memiliki kemampuan lebih perlu mendapat pengayaan, sedangkan yang kemampuannya kurang mendapatkan remidi. Hal ini tentunya akan memberatkan beban guru. Selain itu dilihat dari faktor siswa, siswa yang sudah terbiasa mengikuti pembelajaran dengan diberi/dicekoki cenderung mengalami kesulitan ketika harus belajar dengan cara mencari dan menemukan sendiri.

Kondisi ini sering kali menjadi salah satu faktor guru kembali melaksanakan pembelajaran konvensional.

Secara umum kondisi lingkungan, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat tampaknya kurang mendukung penerapan KBK. Di lingkungan sekolah terkadang kurang kondusif untuk melaksanakan suatu pembaruan. Belum semua sivitas yang ada di sekolah memiliki komitmen yang sama untuk memajukan pendidikan. Terkadang orang yang tampak aktif dicemooh. Atasan para guru, terutama pengawas sekolah terkadang juga kurang berperan dalam mendorong profesionalitas guru. Kebanyakan dari mereka sekadar mencari kesalahan tanpa memberikan solusi.

Lingkungan masyarakat, khususnya pemerintah daerah kurang memberi perhatian yang proporsional terhadap kemajuan pendidikan.

Anggaran yang diberikan untuk pendidikan terbatas, bahkan ada indikasi anggaran pendidikan dari pusat tidak disalurkan sebagaimana mestinya. Selain itu terdapat anggapan bahwa guru adalah pekerjaan yang mudah yang dapat dilaksanakan oleh siapa saja.

Hal ini terbukti ada upaya dari pemerintah daerah yang mengalihtugaskan pegawainya menjadi guru sebagai akibat restrukturisasi

Pelaksanaan KBK perlu didukung oleh ketersediaan dana yang cukup. Realitas yang ada ketersediaan dana terbatas. Kemampuan sekolah dan siswa untuk membiayan pendidikan bervariasi. Kemampuan sekolah untuk meraih dana kompetitif juga relatif rendah.

Faktor lain yang perlu mendapat perhatian dalam hal dana adalah mental pengelola dana di sekolah. Beberapa indikasi menunjukkan, bantuan operasional sekolah yang diberikan pemerintah pusat kurang dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Solusi

Dalam tataran konsep KBK perlu ditinjau ulang, baik yang berkenaan dengan penerapannya dalam pendidikan akademis maupun berkait dengan kondisi psikologis siswa.

Kompetensi yang yang lebih cocok untuk pendidikan vokasional dan profesi apa bila hendak diterapkan dalam pendidikan akademisi harus dirumuskan dalam indikator yang jelas. Hal ini karena tidak semua mata pelajaran dan materi bahasannya dapat ditransformasikan dalam kompetensi.

Penerapan teori Bloom dalam dunia pendidikan perlu direvisi lagi terutama sebagai akibat temuan Anderson (2001) yang merevisi pendapat Bloom. Menurut Anderson, terdapat empat dimensi pengetahuan, yaitu factual knowledge, conceptual knowledge, procedural knowledge, dan meta-cognitive knowledge.

Masing-masing dari dimensi tersebut terbagi dalam enam proses kognitif, yaitu : remember, understand, apply, analyze, evaluate, dan create.

Penemuan baru tentang kemampuan otak manusia manusia tentunya harus diakomodasi dalam KBK. Berbagai kecerdasan yang dimiliki manusia, seperti yang dikemukakan oleh Gardner (1983), Goleman (1997), dan Pasiak ( 2002) merupakan masukan yang perlu dipertimbangkan. Dengan demikian pendidikan yang dikembangkan benar-benar dapat mengembangkan semua potensi siswa menjadi kompetannsi.

Sadar atau tidak jumlah mata pelajaran dan materi pelajaran yang diberikan pada anak sekolah cukup berat. Dengan demikian kiranya cukup beralasan apabila para pemerhati anak berusaha memperjuangkan pengurangan jumlah matapelajaran atau jam pelajarannya.

Dengan cara ini siswa akan memiliki kesempatan mengembangkan diri sesuatu dengan potensinya dan tidak hanya diperkosa oleh sejumlah materi pelajaran di sekolahnya.

Berkait dengan implementasi KBK, maka perlu adaya peningkatan dan pengefektivan segala unsur yang masuk dalam sistem pendidikan.

Permasalahan yang dimungkinkan timbul pada tataran teknis di lapangan terkait dengan kondisi lingkungan / wilayah sekolah (pengembangan kurikulum diserahkan sekolah) dan realita faktual para guru di tingkat persekolahan dasar kususnya masih rendah performansi aktualnya.

Guru yang profesional merupakan suatu kebutuhan utama dalam penerapan KBK. Oleh karena guru harus dicetak oleh lembaga yang profesional dan dalam pengangkatannya juga harus didasarakan atas standar kompetensi dan dilakukan secara transparan.

Pengangkatan guru yang syarat dengan KKN akan menghambat proses implementasi KBK di sekolah

Suatu hal yang patut mendapat perhatian adalah bahwa upaya pensuksesan penerapan KBK tidak dapat dilakukan sepotong- sepotong, karena pendidikan merupakan suatu sistem, maka langkah yang harus ditempuh juga harus sistemik yang melibatkan semua unsur. (11)

– Setiaji, Suranto Rufman, mahasiswa Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: