April 23, 2008

BIJAK BERSAMA TV: Sebuah Usulan di Tengah Kepungan Program dan Iklan TV

Posted in Pengembangan, Teknologi Pendidikan pada 7:02 am oleh tepeuny

Oleh: Lukman

Makalah ini berisi tentang usaha menjadikan Peran Teknolog Pembelajaran/Pendidikan menjadi Lebih Besar dengan menjadikan TV sebagai mitra dalam proses pembelajaran, baik sebagai sumber maupun proses belajar. Secara sistematis, penulis akan mendeskrisikan tentang Realitas TV. Deskripsi ini bertujuan untuk mengurai tayangan/program TV dan beberapa fakta akibatnya. Fakta ini dapat digunakan guidance dalam mengolahnya sebagai sumber atau proses belajar. Selanjutnya, penulis akan mendeskripsikan tentang peran teknolog pembelajaran dalam usaha menjadikan TV sebagai mitra. Sub bahasan ini diharapkan akan memberikan posisi teknolog pendidikan di antara guru, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan lain-lain. Sub bahasan berikutnya, penulis menguraikan bagaimana strategi menggunakan TV sebagai sumber dan proses belajar. Terakhir, penulis akan menyimpulkan secara lugas dari urgensi peran Teknolog Pembelajaran/Pendidikan dalam mengelola program ini.

Pendahuluan

Setiap hari, lebih dari 170 juta orang Indonesia menyaksikan TV. Berbagai tema tayangan, setidaknya ada 10 tema tayangan setiap jam disajikan. Berbagai tawaran, setidaknya ada 50 iklan ditawarkan kepada 170 juta orang. 170 juta orang tersebut tersegmentasi dalam 3 kelas sosial ekonomi: kelas bawah, menengah dan atas. Di setiap kelas mempunyai kemungkinan 5,6 juta orang setengah terpengaruh oleh tema dan iklan yang ditawarkan tersebut. Di antara angka-angka tersebut sekitar 1,8 juta orang dari setiap kelas sosio-ekonomi tersebut betul-betul terpengaruh. Ironisnya, gaya hidup dari para pemainnya yang jelas-jelas mereka hanya ‘main’ film/sinetron mempengaruhi penonton tersebut. Lebih ironis lagi, tayangan film atau sinetron yang berorientasi edukasi religius yang harapannya memberikan penguatan karakter positif penonton, tidak menjadi berpengaruh signifikan pada penontonnya. Dan, yang mengerikan, sebagaimana dilansir oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (2006) penelitian pada tahun 2002 menunjukkan bahwa jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun.

Sungguh hebat peranan TV dalam membangun karakter penontonnya, baik karakter positif maupun negatif. Dalam pengertian ini, ‘proses belajar mengajar’ antara TV dan penontonnya telah terjadi dan TV menjadi guru yang menawan di luar kelas, menjadi saingan guru sesungguhnya dalam kelas, atau pendidikan dalam keluarga. Bahkan karena aspek bisnis yang tinggi dari TV, maka tayangan-tayangannya pun memanjakan kecenderungan-kecenderungan sifat ketertarikan manusia, dan oleh karenanya tayangan-tayangannya pun menjadi sangat menarik dan mempunyai daya tarik sangat tinggi.Fenomena terakhir yang menunjukkan efektivitas TV dalam membangun karakter (negatif) adalah tayangan SmackDown. Anak usia SD dilaporkan masuk rumah sakit, bahkan ada yang tewas akibat permainan SmackDown antar-teman mereka. Masyarakat terpengarah oleh laporan tersebut dan kemudian ramai-ramai memberikan tanggapan, saran, kritik dan bahkan beberapa menghujat tayangan SmackDown. KPI ikut geram karena dituding oleh masyarakat tidak serius mengawasi TV.

Relitas TV

Seorang pengamat dari Amerika, sebagaimana dikutip oleh Miarso (2004: 410) menganggap bahwa TV adalah orangtua ketiga, setelah ayah-ibu dan guru. Bahkan, menurut penulis, TV sangat potensial menjadi orangtua pertama dan kedua. Hal ini dapat dilihat dari seberapa besar pengaruh TV di masyarakat saat ini. Program TV saat ini didominasi oleh sinetron, musik, kuis maupun infotaiment untuk menarik pemirsa. Sebaliknya, program-program pendidikan mendapat porsi tayangan yang sangat kecil. Jika dicermati lebih mendalam, pada hampir setiap program aspek-aspek pendidikan sudah sangat kurang, bahkan tidak ditonjolkan sama sekali. Begitu pula, dalam program-program tersebut tidak jelas lagi batas-batas antara pendidikan dan seni. Keduanya sudah campur aduk sehingga sulit dibedakan mana aspek pendidikan dan mana aspek seninya.

Selama ini, berkaiatan dengan ide menjadikan TV sebagai media pembelajaran, masih berporos pada bagaimana menjadikan program TV sebagai media penyampaian pesan belajar melalui program-program pendidikan di TV, seperti ide awal munculnya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dan beberapa progam Aku Cinta Indonesia (ACI), Cerdas-Cermat, dan TV-Edukasi yang diluncurkan Pustekkom tahun 2004 dan direncanakan dapat direlay di seluruh kabupaten di Indonesia tahun 2006. Penulis berpendapat bahwa pada setiap program acara TV sebenarnya mempunyai nilai edukasi yang dapat digali dan diinternalisasikan dalam rangka pembangunan karakter siswa ataupun individu bukan siswa. Dengan menggunakan, di antaranya teori belajar ‘Penguatan Positif dan Penguatan Negatif’ (Reinforcement dari Aliran Behaviorisme) dapat digunakan untuk membuat strategi pembelajaran yang diminati oleh siswa maupun bukan siswa. Pada dasarnya, ide ini adalah seperti membedah sebuah film, namun bukan terfokus pada bagaimana film ini dibuat, namun terfokus pada nilai-nilai apa yang perlu didiskuskan antara guru atau fasilitator dengan pebelajar.

Sejatinya, TV membahayakan bagi anak, tidak semua acara aman untuk anak. Yayasan Pengembangan Media Anak mengemukakan bahwa pada tahun 2004 acara untuk anak yang aman hanya sekira 15% saja. Oleh karena itu harus betul-betul diseleksi. Saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar perminggu sekitar 80 judul ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam! Acara TV bisa dikelompokkan dalam 3 kategori:

1. Acara yang ‘Aman’: tidak banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis. Acara ini aman karena kekuatan ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak boleh menonton tanpa didampingi.
2. Acara yang ‘Hati-hati’: isi acara mengandung kekerasan, seks dan mistis namun tidak berlebihan. Tema cerita dan jalan cerita mungkin agak kurang cocok untuk anak usia SD sehingga harus didampingi ketika menonton.
3. Acara yang “Tidak Aman”: isi acara banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis yang berlebihan dan terbuka. Daya tarik yang utama ada pada adegan-adegan tersebut. Sebaiknya anak-anak tidak menonton acara ini.

TV juga rentan bagi perkembangan otak anak usia 0-3 tahun, dalam masa ini TV dapat dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. TV juga menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. TV juga mendorong anak menjadi konsumtif, bepengaruh pada sikap anak yang yang belum memiliki daya kritis yang tinggi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa. TV juga dapat mengurangi semangat belajar. Bahasa TV yang simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar. Hal ini berikutnya membentuk pola pikir sederhana anak.

Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya. TV juga dapat mengurangi konsentrasi anak, rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak. TV juga mengurangi kreativitas. Dengan adanya TV anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.

Selain, hal-hal di atas, TV juga berpotensi meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan). Dengan menonton TV, maka jam berolahraga dengan kurang cukup, TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.

TV juga berpotensi merenggangkan hubungan antar anggota keluarga. Kebanyakan anak menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.

TV juga menjadikan remaja matang secara seksual lebih cepat. Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual.

Relitas TV yang kuat dan membahayakan perkembangan otak, sikap, kesehatan, ekonomi dan sosial tersebut harus disikapi secara bijaksana oleh guru, orang tua, ataupun fasilitator. Kekuatan TV sulit dilawan, oleh karenanya TV harus dijakan mitra dalam pembelajaran. Bahkan kalau perlu diadakan kegiatan intrakurikuler yang bersifat mendiskusikan TV dan tayangannya, 2 jam dalam seminggu.

Peran Teknolog Pembelajaran dalam Usaha Menjadikan TV sebagai Mitra Pembelajaran

Salah satu strategi perang yang dirumuskan oleh Sun Tzu adalah apabila menghadapi musuh yang terlalu kuat dan sulit dikatakalahkan, maka bersekutulah (jadikan teman) dengan musuh tersebut. Statsiun TV sangat sulit diatur. Stasiun TV lebih mengutamakan kepentingan bisnis daripada tanggungjawab sosialnya. Stasiun TV yang sudah diberi kepercayaan menggunakan ranah publik berupa frekuensi, ternyata tidak mau mengakui dan mentaati peraturan yang dibuat oleh lembaga negara yang berwenang, yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Singkatnya, TV menolak untuk diatur karena menurut mereka pengaturan sama artinya dengan pengekangan kebebasan berekspresi. Oleh karenanya, guru dan orangtua harus berinisistif untuk membangun karakter anak atau pebelajar dengan memanfaatkan dan menjadikan TV sebagai mitra dalam pembelajaran, apapun yang ditayangkan oleh TV tersebut.

Diskusi tentang tayangan TV ini bisa dibuat lebih sistematis dan dibuat Desain Sistem dan Strategi Pembelajarannya. Bahkan kalau perlu, dengan peluang Kurikulum Lokal yang ada di Sekolah, Diskusi TV ini bisa dijadikan Mata Pelajaran sendiri. Hal sangat urgen mengingat begitu kutanya TV dalam mempengaruhi kehidupan anak, remaja, bahkan orang dewasa. Peran Teknolog Pembelajaran dalam usaha menjadikan TV sebagai mitra sangat besar. Mulai dari melakukan penelitian pendahuluan, mendesain sistem pembelajaran, menguji cobanya, dan mendesain isu-isu strategis untuk menjadikan program mitra TV ini menjadi isu di parlemen dan kemudian dapat dijadikan sebagai program nasional. Dalam usaha ini, teknolog pembelajaran dapat mengandeng banyak pihak, terutama Komisi Penyiaran Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Pustekkom, Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Yayasan Pengembangan Media Anak, dan banyak pihak lain untuk meng-goal-kan usaha ini.

Strategi Pembelajaran dengan TV Sebagai Mitra Pembelajaran

Dalam usaha menjadikan TV sebagai mitra pembelajaran, posisi guru adalah aktif dalam menjadikan tayangan/program TV sebagai sumber belajar. Strategi yang digunakan adalah mengajak pebalajar untuk mengemukakan pengalamannya memirsa TV:
· Apa jenis program/tayangan yang ditonton;
· kesimpulan apa yang bisa diambil;
· hikmah apa yang bisa disarikan;
· pernah mengalami hal yang sama atau mirip dengan apa yang ada di tayangan;
· pendapat pebelajar terhadap tayangan.

Selanjutnya guru/orangtua dapat mengajak pebelajar mendiskusikan tayangan TV dengan harapan diskusi ini akan meningkatkan daya apresiasinya. Hal ini sangat efektif dilakukan apabila dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu yang kental dengan nuansa nilai seperti PPKN dan Pendidikan Agama. Selain itu, penggunan metode yang relevan (seperti diskusi, pemecahan masalah dan Focus Group Discussion untuk kelas usia remaja atau dewasa) akan mampu menumbuhkan daya nalar siswa dan membentuk filter diri dalam respon pengaruh eksternal dari tayangan TV.

Kesimpulan

TV yang begitu kuat harus dijadikan mitra. Karena kekuatannya tersebut, teknolog pembelajaran/guru/orangtua harus secara aktif mendesain sistem dan strategi untuk menjadikan tayangan TV sebagai pembelajaran, bahkan mendesak untuk memasukkan program ini sebagai mata pelajaran yang berlaku secara nasional. Teknolog pembelajaran dapat mempelopori ini dengan membuat Rencana Strategis untuk Manajemen Isu yang dapat mempengaruhi banyak pihak, terutama parlemen dan pemerintah. Teknolog pembelajaran dapat menjadikan KPI, YLKI dan pihak-pihak lain untuk memperjuangkan program ini.

Daftar Bacaan

Budiningsih, C. Asri. 2000. Kerangka Perkuliahan dan Bahan Pembelajaran Dasar-dasar Teknologi Pendidikan. Yogyakarta. Prodi Teknologi Pendidikan FIP UNY.

Dimyati, Moh. 2000. Akulturasi Teknologi Pendidikan dalam Masyarakat Indonesia Transisional. Malang: Program Studi Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjna Universitas Negeri Malang.

Hasan, Ahmad Makki. 2006. TV: Candu Favorit Masyarakat. Diakses dari http://www.resistbook.or.id/index.php?page=resensi&id=140〈=id tanggal 4 Desember 2006.

Hermansyah. 2006. Menyikapi Kreativitas Raam Punjabi (Tinjauan dari Sudut Pandang Pendidikan. Diakses dari http://www.depdiknas.go.id/ publikasi/Buletin/Pppg_Tertulis/08_2001/raam_punjabi.htm tanggal 20 Desember 2006.

Ismail, Taufiq. 2007. Gerakan Syahwat Merdeka. Rubrik Perspektif Majalah Gatra. Diakses dari http://www.Gatra.com tanggal 2 Januari 2007.

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi September 2005 Nomor 056 Tahun ke-11. Editorial. Diakses melalui http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/56/ edtorial.htm tanggal 15 Desember 2006.

Media Indonesia. 2006. Pendidikan Jaringan Pembelajaran Jarak Jauh Selesai. Diakses darihttp://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=87702 tanggal 10 Desember 2006.

Miarso, Yusuf Hadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Republika. 2006. Pustekkom: Menyusun Alternatif Pemecahan Masalah Pendidikan. Diakses dari http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid =&id=180189&kat_id=105&kat_id1=151&kat_id2=191 tanggal 6 Desember 2006.

Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya. Penerjemah Dewi S. Prawiradilaga dkk. Jakarta: Kerjasama IPTPI LPTK UNJ.

Yayasan Pengembangan Media Anak. 2006. Kurangi Npnton TV, Nikamti Hidup. Diakses dari http://www.kidia.org/news/tahun/2006/bulan/07/ tanggal/10/id/14/?PHPSESSID=913b41e105dd43df2f588f06 tanggal 14 Desember 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: