06.25.08

Radio yang Tidak Mencerdaskan

Ditulis dalam Artikel, Pendidikan pada 3:10 pm oleh tepeuny

Oleh: Arif Wicaksono Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY (05105244004)

Pada era globalisasi saat ini. Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan dirinya yakni dari hubungan jaringan hingga pengetahuan. Banyak hasil yang telah dimunculkan. Karya penelitianpun muncul seolah tumbuhnya lumut dimusim hujan.

Media merupakan komponen yang penting dalam memberikan komunikasi kepada setiap orang baik yang berada di ujung belahan dunia maupun yang disamping kita. Media juga diartikan sebagai wadah dalam penyampaian informasi. Selain itu, media dibagi menjadi beberapa jenis yakni media cetak dan media elektronik. Media cetak mencakup surat kabar, majalah, tabloid dan lain sebagainya. Media elektronik meliputi televisi dan radio.

Radio merupakan revolusi di bidang telekomunikasi, sebelumnya komunikasi dilakukan melalui telepon dan telegraf yang di hubungkan melaui kabel, sedangkan melalui radio komunukasi wireless (tanpa kabel) dapat dilakukan. Radio seperti penemuan yang lain ditemukan melalui berbagai eksperimen dari banyak orang.

Pada tahun 1800, seseorang Profesor dari Universitas Princeton yang bernama Yoseph henry dan seorang fisikawan inggris yang bernama Michael Faraday bereksperimen dengan elektromagnet, dan menemukan teori induksi. Pada tahun 1864, James Clark Maxwell, seorang fisikawan Inggris yang lain, mencoba mengembangkan teori induksi yang dihubungkan dengan kecepatan cahaya. Bunyi teori maxwell adalah : Karena perubahan medan magnet dapat menimbulkan medan listrik, maka sebaiknya perubahan medan listrikpun akan dapat menimbulkan medan magnet.

Akan tetapi maxwell belum dapat membuktikan hipotesanya selama hidupnya. Orang yang pertama kali menguji hipotesa. Maxwell mengenai gelombang elektro magnetic ini adalah Heinrich hertz, seorang fisikawan Jerman. Ia berhasil membuktikan teori Maxwell pada tahun 1880, dengan menggunakan kumparan Ruhmkorf. Pada tahun 1895, Guglielmo marconi, seorang penemu dari Italia, mengkombinasikan teori-teori yang sudah ada (tentang elektromagnetik) dengan idenya sendiri. Ia adalah orang pertama yang mengirimkan sinyal radio melalui udara. Ia menggunakan gelombang elektro magnetic untuk mengirim kode sinyal telegraf dalam jangkauan lebihdari 1,5 Km.

Televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.

Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun perusahaan. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun.

Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, yaitu hukum Gelombang Elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

Radio memiliki karakteristik yang berbeda dengan media elektronik lainnya. Ini dapat dilihat dari kemampuannya untuk menciptakan panggung teater dalam imajinasi setiap pendengarnya. Radio dapat berbicara langsung dengan pendengar. Radio memiliki ‘positioning’ bagi pendengar mereka di antara radio lainnya. Pada saat terjadi sebuah peristiwa, radio dapat menyampaikannya kepada pendengar secara langsung dari lokasi peristiwa berupa Reportase.

Radio dalam pelaksanaannya lebih murah. Dapat selalu menjaga stabilitas aktivitas. Lebih luas dalam jangkauannya apalagi didukung dengan satelit serta dapat didengar serentak.

Di samping itu, radio memiliki kelemahan. Radio hanya dapat menampilkan audio saja. Media pelengkap dalam aktivitas. Selintas dalam menampilkan serta ketidakmampuan secara detail dalam menyampaikan segala informasi.

Pada tahun 60-an radio memegang peran penting dalam perkembangan pendidikan kita. Program yang diberikan memiliki kualitas edukasi yang tinggi. Selain itu, radio memiliki fungsi yang sangat strategis.

Dalam perkembangan saat ini radio sudah berubah fungsi yang pada hakekatnya radio memiliki peran seimbang dalam menampilkan hiburan, edukasi dan informasi. Namun, pada saat ini kita dapat mendengar sebagian besar radio khususnya pada radio swasta. Radio swasta tidak dapat menyeimbangkan antara hiburan, edukasi dan informasi. Mereka lebih memprioritaskan hiburan yang lebih banyak prosentasenya ketimbang edukasi dan informasi.

Radio sebagai sarana pendidikan sangatlah penting dalam pengembangan bangsa ini. Dalam pembukaan UUD’45 telah jelas diungkapkan tujuan bangsa kita yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu,upaya pembelajaran sepanjang hayat telah diamanatkan didalam Tap MPR Nomor : II/ MPR/ 1988. Disebutkan, pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan demikian pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah. “. Retno Sri Ningsih Satmoko (1999:65).

Namun,hal ini belum terpenuhi malahan menjadi penurunan dari nilai yang ada. Program yang diberikan semuanya hiburan tidak ada yang memprioritaskan pendidikan. Sehingga ada pepatah yang mengatakan siapa yang berkuasa maka dia berhak mengatur semuanya.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat memberikan sebuah apresiasi karya. Radio merupakan karya yang sangat strategis. Dimanapun dan kapanpun serta siapapun radio dapat diakses. Mari kita bersama membangun dan memperbaiki program radio yang telah ada kemudian disesuaikan dengan tujuan pendidikan kita.

Referensi

Darmanto, 2005. Himpunan Materi Pelatihan Bidang Radio Siaran. Yogyakarta: DEPKOMINFO-BPPI wilayah IV Yogyakarta.

A, Darmanto, 2008. Produksi Program Audio.

Panuju, Redi, 2005. Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik. Bayumedia Publising.

Harian Suara Merdeka edisi 13 September 2005

http://dlibrary.tifafoundation.org/download/download.php?dlid=50

http://kurtek.upi.edu/media/sources/2-%20klasifikasi%20media.pdf

http://mbeproject.net/siaran.html

http://wrm-indonesia.org/content/view/835/3/

http://v3.bhawikarsu.net/article_read.asp?id=116

Karya ini adalah karya saya  http://arhiefstyle87.wordpress.com email: arhief_style87@yahoo.com ) sendiri bukan plagiat, kecuali bagian yang memang sudah disebutkan dalam daftar pustaka.

Optimalisasi Radio Pembelajaran

Ditulis dalam Artikel, Pendidikan pada 3:06 pm oleh tepeuny

Oleh: Mohammad Triargho Alfalah Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan

A. Fakta radio Indonesia

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17504 pulau. Dari jumlah kepulauan tersebut dapat dilihat pasti ada masalah pemerataan di Indonesia. Media radio termasuk media yang dapat dilihat dari hasil tidak meratanya pembangunan infrastruktur media massa di Indonesia karena Radio sangat efektif pada daerah-daerah terpencil yang belum dibangun Pemancar Stasiun TV sebagai sumber Informasi.

“So I listen to the radio, All the songs we used to know” ,salah satu kutipan lagu The corrs tersebut memang menggambarkan radio sebagai media hiburan musik. Hal itu juga dapat dilihat Di kota-kota besar seperti Jakarta, jogja dan Bandung terdapat puluhan bahkan ratusan stasiun Radio yang mengudara baik radio swasta maupun lembaga penyiaran publik. Radio-radio tersebut kebanyakan memberikan hiburan musik ketimbang informasi penting ataupun Program Siaran Pembelajaran.

Perijinan radio di Indonesia masih menjadi kendala, beberapa radio mengeluhkan perijinan radio di Indonesia karena tidak dapat menjadi lembaga publik, maka dari itu kebanyakan mereka menjadi radio swasta. Hal tersebut berdampak pada program yang disiarkan. Program yang disiarkan radio kebanyakan dikota-kota besar hanya mencari siaran yang menguntungkan atau banyak didengar yaitu hiburan musik. Jadi radio sebagai penyampaian Informasi dan media Pembelajaran masih dirasa kurang penggunaannya di Indonesia.

Ada beberapa radio Pendidikan di Jogjakarta seperti radio anak jogja, radio edukasi dll. Radio tersebut memberikan informasi pendidikan. Radio tersebut memiliki segmen para pebelajar. Radio seperi inilah yang dapat membangkitkan radio sebagai media informasi yang dapat mengisi pengetahuan masyarakat baik dikota besar maupun daerah-daerah terpencil. Akan tetapi keluhan perijinan, SDM, Segmentasi, Siaran program berkelanjutan menjadi kendala yang terus diupayakan demi kemajuan bangsa.

B. Pemanfaatan Radio sebagai media Pembelajaran

Radio adalah media audio uang penyampaian pesannya dilakukan melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar. Pemberi pesan (penyiar) secara langsung dapat mengkomunikasikan pesan atau informasi melalui suatu alat (microfon) yang kemudian diolah dan dipancarkan ke segenap penjuru melalui gelombang elektromagnetik dan penerima pesan (pendengar) menerima pesan atau informasi tersebut dari pesawat radio di rumah-rumah atau para siswa mendengarkannya di kelas-kelas.

Menurut kurikulum teknologi pendidikan UPI dalam e-booknya kelebihan media radio yaitu:

a. Memiliki variasi program yang cukup banyak

b. Sifatnya mobile

c. Baik untuk mengembangkan imajinasi anak

d. Dapat lebih memusatkan perhatian siswa terhadap kata, music sehingga cocok untuk MP bahasa

e. Jangkauannya luas, sehingga dapat didengar oleh massa yang banyak

f. Harganya relatif murah

Beberpa kelebihan diatas dapat djadikan alasan mengapa memilih radio sebagai media pembelajaran.

Menurut salah satu artikel di Koran Courrier International edisi No. 811 pada bulan May 2006 yang lalu, jumlah waktu menonton TV pada anak-anak yang berlebihan ternyata dapat menurunkan daya imaginasi anak-anak. Hal ini dapat kita lihat bersama pada dua gambar berikut yang dibuat oleh dua orang anak yang berbeda :

http://keluargacemara.net/emak/upload/Kids2.jpg

1. Gambar yang dibuat oleh seorang anak dengan jumlah jam menonton tv < (kurang) dari 3 jam per hari

2. Gambar yang dibuat oleh seorang anak lagi dengan dengan jumlah jam menonton tv > (lebih) dari 3 jam per hari

Dari hasil penelitian tersebut jelas kita dapat melihat bahwa radio memiliki keuntungan dapat mengembangkan daya imajinasi anak yang selanjutnya dapat meningkatkan kreativitas anak

C. Mengatasi Kelemahan Radio

Media pembelajaran selain dapat membantu karena memliki kelebihan juga memiliki kekurangan karena karakteristik media tersbut. Media radio pun memiliki kekurangan. Yaitu:

Kelemahan Media Radio

1. Sifat komunikasinya hanya satu arah (one way communication).

2. Jika siarannya monoton akan lebih cepat membosankan siswa untuk mendengarkannya.

3. Program siarannya selintas, sehingga tidak bisa diulang-ulang dan disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa secara individual.

Dari kelemahan tersebut perlulah dibuat solusinya untuk membangkitkan eksistensi radio yang juga memiliki kelebihan yang tidak hanya sebagai hiburan music. solusi dari permasalahan kelemahan media tersebut yaitu:

1. Sifat komunikasinya hanya satu arah (one way communication).

Solusi: perlu adanya peralatan tambahan yatiu alat telekomunikasi yang dapat mengatasi masalah komunikasi satu arah seperti Telefon, masalah komunikasi ini dapat digabungkan dengan program-pogram tertentu dengan sesi atau waktu yang disesuaikan dengan segmen. Comtohnya: waktu pagi tidak cocok untuk berkomunikasi dengan segmentasi pekerja yang lagi sibuk bekerja. Waktu pagi dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan siswa yamg memiliki mata pelajaran tertentu. Komunikasi ini juga diperlukan hubungan erat antara pemilik radio dengan masyarakat dan sekolah

2. Jika siarannya monoton akan lebih cepat membosankan siswa untuk mendengarkannya.

Solusi: perlu adanya peningkatan kualitas SDM dalam menghasilkan program yang berkualitas, SDM dikumpulkan dari berbagai ahli seperti ahli desain naskah media, Ahli materi, Ahli komunikasi. Jika ahli tersebut berkolaborasi maka siaran monoton akan teratasi

3. Program siarannya selintas, sehingga tidak bisa diulang-ulang dan disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa secara individual

Solusi: program radio termasuk media pembelajaran Audio. Pada alar radio-radio tertentu terdapat fungus merekam suara dari siaran radio. Hanya denga membeli kaset kosong siaran radio dapat direkam dan menjadi program audio yang dapat mendukung pembelajaran Individual

D. Upaya peningkatan Radio pembelajaran

Upaya peningkatan radio pembelajaran sebaiknya dilakukan tidak hanya oleh pihak stasiun radio saja tetapi juga dilakukan oleh pihak pemerintah dan masyrakat

Dari pihak stasiun radio, upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan radio pendidikan yaitu:

§ Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia

§ Mengadakan kerjasama Intensif fan bekelanjutan dengan pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah

§ Melakukan penelitian pengembangan program

Dari pihak masyarakat, yaitu:

§ Mengubah pemikiran bahwa radio tidak sekedar hiburan musik melainkan penyampaian informasi

§ Berpartisipasi dalam program yang diadakan radio pembelajaran setempat

§ Pihak sekolah dapat mengadakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran sekolah

Dari pihak pemerintah, yaitu:

§ Mendukung pendirian Radio Pembelajaran

§ Mempermudah perijina

E. Menjaga Eksistensi Radio Pembelajaran

Untuk menjaga eksistensi radio pembelajaran yang perlu dilakukan adalah:

§ Melakukan penelitian berkelanjutan untuk mengembangkan program sesuai perkembangan zaman

§ Mengupgrade SDM

Daftar pustaka

Sabtu, 21 juli, 08.00 wib

http://kurtek.upi.edu/media/sources/2-%20klasifikasi%20media.pdf

http://wrm-indonesia.org/content/view/835/3/

http://mbeproject.net/siaran.html

POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Ditulis dalam Artikel, Pendidikan pada 3:03 pm oleh tepeuny

Oleh : Afi Julantari  Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan  UNY

Perkembangan teknologi informasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Menurut Rosenberg dengan berkembangnya teknologi informasi ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu : (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas bisa dimana aja dan kapan saja, (3) dari kertas ke on-line atau saluran, (4) Dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media komunikasi seperti, telephon, komputer, internet, media cetak maupun media electronik dsb. Interaksi guru dengan siswa tidak hanya bisa dilakukan dengan tatap muka dikelas akan tetapi bisa juga dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus bertatap muka dengan siswa, begitu juga dengan siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup luas dengan menggunakan media – media tersebut diantaranya media Radio. Media ini dapat menjangkau populasi pendengar yang lebih banyak dengan jarak jauh dan waktu yang lebih cepat, serta biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan media-media lain, sehingga pendidikan melalui media radio lebih efektif dan efisien. Secara sosio cultural, radio lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang tidak memiliki tradisi kuat dalam membaca. Seperti kata Rudi Hofmanm, transformasi cultural masyarakat Indonesia dari tradisi lisan tahap I melompat ke lisan tahap II ( audio visual ), dan tidak melewati tradisi membaca seperti terjadi dinegara-negara maju. Pendidikan melalui radio harus merupakan kebulatan sistem penyajian (total delivery sistem). Siaran radio pendidikan saja bukan merupakan suatu sistem penyampian delivery sistem. Untuk itu ada beberapa komponen penting dalam sistem penyampaian ini adalah :

  1. Kurikulum (segala kegiatan yang diberikan kepada anak didik)
  2. Acara dan metode siaran yang diatur
  3. Tempat kegiatan belajar yang dilengkapi dan diawasi oleh seorang pembina pendidikan monitoring kegiatan dan kemajuan anak.
  4. Evaluasi kemajuan[1]

Media komunikasi masa merupakan suatu komponen integral dalam sistem pendidikan nasional. Sistem ini dikukuhkan dengan nama teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan. Sejak tahun 1951 telah ada program pendidikan melalui radio yang terutama ditujukan kepada pelajar pejuang kemerdekaan tetapi karena berbagai faktor penghalang prorgam ini terhenti. Kini kita harus mengunakan teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan karena kita sangat membutuhkannya. Namun sayang, saat ini siaran radio banyak memuat program hiburan dan mengesampingkan program pendidikan. Misalkan saja Radio Pro 2 jogja yang terletak di Jl. Affandi Depok, Sleman Yogyakarta. Berikut cuplikan program siaran radio Pro 2 jogja dalam bentuk persentase :

Hiburan 45%

Berita dan Informasi 30%

Pendidikan 5%

Kebudayaan 5%

Iklan/yanmas/acara penunjang 15%

Dengan klasifikasi siaran tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa media radio kita saat ini lebih mengutamakan dunia hiburan dari pada dunia pendidikan, dimana dunia hiburan mendapat porsi 45% sedangkan dunia pendidikan hanya 5%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih suka mendengar atau melihat acara hiburan dari pada mendengar atau melihat acara yang bertajuk pendidikan.

Terlepas dari itu, jika media dapat dipergunakan secara efektif dan efesien, sudah barang tentu dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan diIndonesia. Menurut Ely potensi teknologi dan komunikasi dalam peningkatan mutu pendidikan sebagai berikut :

  1. Meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan mempercepat tahap belajar, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
  2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisioanal, memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan kemampuanya.
  3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pelajaran dengan jalan perencanaan program pengajaran yang lebih sistematis, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi tentang pernelitian perilaku.
  4. Lebih memantapkan pengajaran, meningkatkan kapabilitas manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih konkrit.
  5. Memungkinkan belajar secara seketika karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran didalam dan luar sekolah, memberikan pengetahuan langsung.
  6. Memungkinkan penyajian pedidikan lebih luas terutama adanya media masa dengan jalan pemannfaatkan bersama (secara lebih luas tenaga atau kejadian yang langka, penyajian informasi menembus batas geografi ).[2]

Dengan demikian pemanfaatan media secara efektif dan efesien harus dilaksanakan seluruh kalangan, baik pemilik media itu sendiri maupun seluruh penikmat media. Agar siaran radio lebih efektif dan efisien diperlukan alternatif sebagai berikut :

  1. Menyusun Program
  2. Melaksanakan analisis model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  3. Melaksanakan perancangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  4. Melaksanakan pembuatan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  5. Menyusun rekomendasi hasil pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  6. Menyelenggarakan evaluasi pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  7. Melaksanakan pengelolaan, sarana, peralatan dan bahan pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  8. Melaksanakan layanan teknis pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
  9. Melaksanakan urusan ketatausahaan balai; dan
  10. Menyusun laporan balai

Dengan menggunakan media dan teknologi, kita dapat memperluas jangkauan pelayanan pendidikan. Penggunaan media dan teknologi untuk memperluas jangkuan pendidikan ini dapat dibedakan menjadi dua pendekatan yaitu pelajaran jarak jauh dan penrluasan sekolah[3]. Pelajaran jarak jauh ( distance learning ) pada umunya mempunyai karakteristik dapat diperolehnya bahan pelajaran dengan menembus hambatan jarak dan kondisi geografis, waktu dan tempat belajar yang hampir sepenuhnya dapat diatur sendiri terutama dengan bantuan peralatan yang sesuai, proses belajar lebih menekankan pada kegiatan dan kemampuan individual, serta biaya yang lebih rendah dari pada cara belajar yang lain. Kinyanyui melaporkan penggunaan media radio dan korespondensi untuk penataran guru di Kenya. Pelajaran jarak jauh di Kenya ini mulai pada tahun 1968 setelah direncanakan sejak tahun 1964. sasaran utama adalah guru sekolah dasar yang seluruhnya berjumlah 37.923 orang, tetapi yang 10.438 diantaranya tidak mempunyai kualifikasi sebagai guru, sedangkan 16.992 yang dianggap mempunyai kualifikasi hanya mendapat pendidikan profesional selama 2 tahun sesudah tamat pendidikan dasar. Pelayanan yang diberikan meliputi bahasa ( Inggris dan Swahili ) sejarah, ilmu bumi dan matematika, biologi dan ilmu pengetahuan alam. Media yang dipakai adalah korespondensi dan radio. Evaluasi yang dilakukan antara lain menunjukkan bahwa persentase jumlah lulusan mereka yang mengikuti sekolah guru yang reguler ( pada tahun 1970 siswa reguler yang lulus sebanyak 47%. Sedangkan dari program ini sebanyak 51%). Sedangkan dari semua guru yang tidak mempunyai kualifikasi ternyata 82% dapat menamatkan pendidikan jarak jauh ini dan memperoleh sertifikat mengajar dalam waktu satu tahun.

Suatu pendekatan lain dari perluasan jangkauan pelayanan pendidikan adalah perluasan sekolah. Cara ini mempunyai struktur yang lebih mendekati sekolah formal. Bedanya hanya dalam penggunaan sumber dan fasilitas yang lebih bebas serta organisasi yang lebi luwes. Contohnya adalah SMP terbuka, yang pada saat ini masih berupa perintisan diberbagai daerah yaitu : Kalianda, Lampung, Plumbon, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalisat Jember, Terara, dan Nusa Tenggara Barat ).

Kesuksesan dalam penyampaian siaran pada dasarnya ditentukan oleh ketepatan pemilihan media. Oleh karena itu dalam memilih media penyampaian perlu kehati hatian, karena kesalahan dalam memilih media akan mengakibatkan tujuan kita tidak tercapai. Bagaimana agar kita tidak salah dalam memilih media penyampaian ? berikut cara yang dapat kita gunakan.

Gambaran menyeluruh proses pemilihan media

Tentukan isinya :

Media

Tidak

Tepat

 

Pembelajaran

Informasi

Lihat

Appendix

Diagram

Media Tidak Tepat

LANGKAH 1

Tentukan

Metode

Transmisi

LANGKAH 2

Alat Bantu

Intruksional

Diagram Ia- Ib

Tentukan ciri -ciri

Khas Mata Pelajaran

Media

Intruksional

Diagram Ic- Id

Tentukan ciri ciri

Khas Mata Pelajaran

LANGKAH 3

Pilihlah Media dari

Golongan alat bantu

Intruksional

Pilihlah media dari

Golongan media

Intruksional

LANGKAH 4

Tinjau kembali keku

Rangan dan kelebihan

Media terpilih leng

Kapi langkah 1 dari

Daftar cetak

Tinjau kembali keku

Rangan dan kelebihan

Media terpilih leng

Kapi langkah 1 dari

daftar cetak

Media

Tidak

tepat

 

Media Tidak  tepat

LANGKAH 5

Media

Tepat

Media

Tepat

Tinjau kembali bagian tes pengem

Bangan dan kem

Bangkan bahan dengan menggunakan

Daftar cek

LANGKAH 6

Penjelasan flow chart :

Langkah Pertama :

Anda menentukan apakah pesan anda bersifat pembelajaran atau informasi.

Langkah kedua :

Anda menentukan bagaimanan caranya anda mentransmisikan pesan anda apakah ini media untuk membantu seseorang instruktur ataukah suatu media yang menunjukkan terjadinya pembelajaran mandiri atau kelompok tanpa seorang instrukturpun.

Langkah ketiga :

Dengan menggunakan diagram IA dan IB atau IC dan ID, anda akan dibantu untuk menentukan ciri-ciri pelajaran anda, dan selanjutnya memperkecil jumlah pilihan media serta membimbing anda menentukan golongan media tertentu yang cocok untuk tujuan instruksional anda.

Langkah keempat :

Anda harus beralih kediagram 2 untuk menentukan media yang paling sesuai dalam kategorinya, yaitu media yang paling cocok bagi populasi siswa. Kapasitas produksi setempat, fasilitas, kebijakan dan dana.

Langkah kelima :

Anda kembali kemedia yang pertamakali dan kemudian mempelajari daftar ciri-ciri khas dari media ini, serta keterbasan dan kelebihannya dalam penyajian jika media itu nampaknya memadai, maka anda harus melengkapi bagian pertama dari daftar cek. Ini berarti anda harus meminjam kembali kemudian menyaring pilihan anda. Tetapi jika setelah diproses (disaring), ternyata media itu tak sesuai, maka kembalilah kelangkah keempat, dan tentukan pilihan lain dari daftar yang sama, sekali lagi, periksalah daftar cek untuk media itu sampai anda betul – betul yakin dan puas bahwa media itu betul – betul cocok untuk kondisi pembelajaran anda.

Langkah keenam :

Setelah memiliki media yang cocok, maka anda masuk kelangkah yang keenam, yakni merencanakan tes pengembangan bagi media tersebut juga bagi bahan – bahan pelajaran anda.[4]

Perkembangan perpustakaan dan teknologi informasi saat ini termasuk siaran radio dan televisi turut mengembangan kesempatan dan kesanggupan belajar sendiri tanpa selalu mendapat bimbingan dari guru. Beberapa alasan mengapa kita menggunakan media radio :

1. Siaran dapat membawa dunia luar kedalam kelas yang menyamai pengalaman langsung.

2. Siaran merupakan sumber informasi yang paling mutakhir dalam bentuk yang mudah dipahami disamping buku, film, gambar dll.

3. Siaran menciptakan suasana yang menyenangkan, merangsang dan membangkitkan ide-ide baru.

4. Siaran dapat memberikan informasi yang tidak segera dapat diberikan oleh guru dan tidak dapat disajikannya dalam bentuk yang dapat menyamai siaran itu.

5. Cara penyajian oleh siaran sangat hidup, menarik dan mengundang keterlibatan anak kedalam peristiwa – peristiwa yang diperlihatkan.

6. Siaran dapat menyampaikan hal-hal yang tidak dapat disajikan ( seperti musik, kebudayaan, kesenian dan sebagainya ).

7. Siaran dapat mengembangkan kesanggupan dan keterampilan atau teknik untuk melihat dan mendengarkan.[5]

Pelajaran dengan siaran radio akan lebih efektif bila lebih dahulu dipersiapkan dan kemudian diadakan kegiatan evaluasi. Bila langsung digunakan siaran radio guru harus berusaha menyesuaikan diri dengan jadwal pelajaran. Jika ada kemungkianan untuk merekamnya maka guru tidak terikat waktu siaran selain itu guru dapat lebih dahulu mendengarkan atau melihatnya sebelum disajikan kepada murid. Cara ini besar faedahnya bagi kegiatan follow up dan untuk meminimalisir siaran yang tidak bermanfaat .

Tiada maksud penulis untuk menggurui, akan tetapi penulis hanya berharap semoga karya ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembaca untuk mengembangkan dunia pendidikan yang berbasis teknologi sebagaimana yang terjadi dinegara-negara maju.

Daftar Pustaka

Arif S. Sadiman (dkk), 2002, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Ely,Donald P, 1979 , Instructional design and Development : P articipant’s notebook, Jakarta ( Education Technologi Modul 2.1 )

H. Anderson, Tim Penerjemah, Yusufhadi Miarso, 1994, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Nasution , 1999, Teknologi Pendidikan, Jakarta : PT Bumi Aksara

Yusufhadi Miarso, 1984, Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali

PERNYATAAN

BAHWA KARYA INI SEPENUHNYA KARYA SAYA ( BUKAN PLAGIAT ) KECUALI BAGIAN YANG MEMANG SUDAH DISEBUTKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA.


[1] Yusufhadi Miarso, 1984, Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali

[2] Ely,Donald P, 1979 , Instructional design and Development : P articipant’s notebook, Jakarta ( Education Technologi Modul 2.1 )

[3] Arif S. Sadiman (dkk), 2002, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

[4] H. Anderson, Tim Penerjemah, Yusufhadi Miarso, 1994, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

[5] Nasution , 1999, Teknologi Pendidikan, Jakarta : PT Bumi Aksara

PERAN RADIO PENDIDIKAN

Ditulis dalam Artikel, Pendidikan pada 2:59 pm oleh tepeuny

Oleh: Erna Yulikah Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY

A. Latar Belakang

Instansi pendidikan adalah instansi yang cukup terpandang dalam mencetak generasi penerus bangsa. Yang merupakan pabrik atau industri pencetak orang-orang berkualitas, mempunyai kemampuan lebih dan menjadi orang yang terpandang. Nama yang cukup popular dan terhormat itulah yang harus selalu dijaga agar dapat mempertahankan imagenya agar selalu eksis menjadi lembaga pencetak orang-orang ternama. Bagaimana mempertahankan image itu?

Untuk kemajuan bangsa banyak dilakukan inovasi dalam dunia pendidikan, salah satunya dalam hal media pendidikan. Di era sekarang banyak orang berbicara tentang multimedia, banyak pendidik yang berbondong-bondong menerapkan media tersebut dalam proses belajar mengajar di kelas. Tetapi banyak juga yang belum paham bagaimana penerapannya? Multimedia yang seharusnya menerapkan lebih dari satu media, tetapi masih banyak yang hanya menitikberatkan pada satu media saja yang mereka pandang menarik. Mereka lupa bahwa karakteristik siswa itu selalu berbeda. Hasil yang dicapai bukannya maksimal tetapi justru membosankan dan monoton serta siswa banyak yang sukar menyerap materi.

Salah satu jenis media pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah media audio. Sekarang ini media audio khususnya radio sudah banyak ditinggalkan, jarang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Media audio kalah bersaing dengan media-media yang baru bermunculan. Padahal kalau kita jelajahi tentang seluk beluk media ini sangat menarik. Memang media ini mempunyai beberapa kelemahan, tetapi kalau kita perhatikan media lain juga mempunyai kelemahan. Sekarang ini tergantung pada materi apa yang akan disampaikan dan pemikiran mengenai media apa yang cocok?

Untuk mempertahankan eksistensi media audio dalam dunia pendidikan khususnya harus ada inovasi sendiri khususnya dalam diri media tersebut. Titik lemah media harus diperhatikan oleh para perancang media agar media ini menuju ke arah perfect. Karena kalau kita sedikit menoleh pada salah satu teori yang mengatakan bahwa kita akan menghabiskan waktu kita di sekolah untuk belajar sebesar 50% bagi siswa sekolah menengar dan 90% bagi kalangan perguruan tinggi melalui indera pendengaran kita. Berangkat dari teori ini seharusnya keberadaan media audio dalam dunia pendidikan tetap diakui dan selalu berkibar, bukannya semakin meredup.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana peranan radio pendidikan dalam dunia pendidikan?

PEMBAHASAN

Media Pembelajaran

Media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Menurut pendapat Gerlach & Ely yang dikutip oleh Azhar Arzhad (1997:3) media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketranpilan atau sikap.

Proses belajar mengajar dapat diibaratkan sebagai proses komunkasi. Di mana dalam proses ini ada proses penyampaian pesan antara pendidik dengan peserta didik melalui perantara tertentu. Komunikan, komunikator, pesan, dan perantara atau media adalah bagian dari komunikasi. Dalam proses komunikasi akan terjadi hubungan yang efektif jika pesan yang disampaikan jelas. Begitu pula dalam proses belajar mengajar, tranfer ilmu akan mudah terlaksana jika dikomunikasikan dengan baik. Dengan media akan mempermudah penyampaian informasi atau materi dalam proses belajar mengajar karena media mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:

1. Memperjelas penyajian pesan.

2. Mengatasi keterbasan ruang, waktu dan daya indera.

3. Membantu mengatasi kepasifan anak didik karena dengan media dapat merangsang dan menimbulkan interaksi antara guru dan siswa.

Radio Pendidikan

Media radio identik dengan indera pendengaran. Informasi atau pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam lambang auditif. Karena penyampaian informasinya melalui radio, media ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap perasaan pendengarnya. Di sini pendengar seolah-olah ikut terlibat dalam dialog atau program yang sudah dikemas untuk menyampaikan materi atau informasi.

Radio merupakan media yang dinamis dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Hal ini selaras dengan fungsi radio sebagai media hiburan dan informasi. Informasi sewaktu-waktu selalu berubah, setiap hari bahkan bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Fungsi media yang seperti ini yang dipandang efektif dan mempunyai sumbangan yang besar dalam kemajuan pendidikan di negara kita. Dunia pendidikan juga selalu menuntut sesuatu yang baru, informasi yang aktual sesuai dengan tuntutan dunia pendidikan.

Radio melalui siarannya dapat menyampaikan pengajaran secara efektif, dapat menambah pengalaman dan pengetahuan serta dapat menimbulkan motivasi belajar siswa. Bentuk siarannya dapat berupa ceramah, cerita, wawancara, sandiwara, dan sebagainya. Radio tidak boleh kita remehkan, melalui radio kita dapat menangkap dan mengerti berbagai suara manusia serta bunyi lain yang ada hubungannya dengan masalah pembelajaran. Terkadang di kelas terjadi keributan yang ditimbulkan oleh suara kendaraan di jalan atau ceramah guru yang semakin monoton, tetapi dengan materi yang dikemas sedemikian rupa menjadi program audio dapat mengatasi kejenuhan siswa dalam mendengarkan dan memperhatikan materi yang disampaikan. Karena dalam menyusun atau mengemas materi pembelajaran ke dalam bentuk audio terlebih dahulu perancang pembelajaran telah mengadakan identifikasi dan mengamati karakteristik siswa sehingga pada penerapannya menjadikan siswa mudah dan asyik dalam proses belajar mengajar.

Peranan Radio dalam Dunia Pendidikan

Radio merupakan salah satu sumber bahan ajar yang ekonomis, menyenangkan, dan mudah disiapkan. Dapat berfungsi sebagai media pembelajaran untuk belajar mandiri. Dengan kemasan materi yang menarik akan merangsang daya imajinasi anak, sehingga mereka akan terlihat aktif dan merangsang kreativitas anak. Media ini juga dapat membantu bagi audience yang mengalami buta huruf, karena penyajiannya mengandalkan audio, suara, atau bunyi.

Dalam dunia pendidikan radio juga memberi kontribusi yang cukup besar, misalnya saja untuk menyampaikan informasi ke desa atau pelosok negeri yang belum terjangkau dengan fasilitas-fasilitas elektronik yang modern, radio dapat menyampaikan informasi tersebut dengan mudah merambah ke segala penjuru negeri. Selain alasan ekonomis, radio juga mudah kita akses di segala penjuru termasuk di daerah terpencil sekalipun. Dalam penyajiannya atau penyampian pesannya lewat radio dapat dilakukan secara serempak, dalam waktu yang sama di beberapa daerah yang berbeda. Tidak hanya terbatas pada informasi untuk pendidikan saja, radio juga menawarkan berbagai hiburan baik itu melalui musik atau melalui drama radio.

Penggunaan radio dalam proses pembelajaran tidak terbatas pada satu sisi kemampuan saja. Dalam proses belajar mengajar radio dapat digunakan untuk tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk tujuan kognitif, radio dapat digunakan untuk mengajarkan pengenalan kembali, misalnya latihan belajar mengingat, mengucapkan kata, mendengarkan bunyi, dan sebagainya. Untuk tujuan afektif, misalnya suasana dapat diciptakan memelui musik, efek suara, atau suara narator. Sedangkan untuk tujuan psikomotor, radio dapat digunakan untuk mengajarkan ketrampilan verbal.

Radio sangat mendukung dalam proses belajar yang notabene seperti pendapat Sanford E. Taylor (John D. Latuheru 1988:68) bahwa di Sekolah Dasar dan Menengah bahkan di Perguruan Tinggi, sebagian besar waktu di dalam kelas digunakan melalui proses pendengaran atau dengan menggunakan indera dengar atau telinga. Sehingga kalau di dalam dunia pendidikan dapat memanfaatkan radio dengan maksimal maka radio dapat menggantikan posisi guru atau pengajar, mereka tidak perlu panjang lebar ceramah di depan kelas yang belum tentu materi yang disampaikan terserap oleh semua siswa.

Heinich, Molendan, dan Rusel juga berpendapat (John D. Latuheru 1988:68) bahwa siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah menghabiskan sekitar 50% waktu untuk mendengarkan pelajaran di sekolah. Di Perguruan Tinggi 90% dari waktu yang digunakan untuk mendengarkan materi perkuliahan, ceramah, diskusi, atau seminar. Dari pendapat ini juga dapat disimpulkan bahwa radio atau media audio lainnya mempunyai peluang yang cukup besar untuk membawa pendidikan di suatu negara ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Sedangkan menurut Arif Sadiman dkk (1986:51-53) berpendapat bahwa media radio mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media yang lain, yaitu:

· Harganya relatif murah dan variasi programnya lebih banyak daripada TV.

· Sifatnya mudah dipindahkan (mobile). Radio dapat dipindah-pindahkan dari satu ruang ke ruang lain dengan mudah.

· Jika digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal.

· Radio dapat mengembangkan daya imajinasi anak.

· Dapat merangsang partisipasi aktif dari pendengar.

· Radio dapat memusatkan perhatian siswa pada kata-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya.

· Siaran lewat suara terbukti amat tepat/cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa.

· Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik.

· Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu yang tidak dapat dikerjakan oleh guru.

· Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, jangkauannya luas.

Hambatan Radio sebagai Media Pembelajaran

Setiap media tidak lepas dari kekurangan, termasuk media radio. Media radio juga mempunyai beberapa kelemahan yang harus diperhatikan agar media ini semakin perfect. Kelemahan tersebut antara lain:

1. Karena sifatnya yang auditif, dalam penggunaan media ini harus benar-benar konsentrasi khususnya indera pendengaran kita karena hanya sekilas saja, tidak ada siaran ulang.

2. Media ini belum mampu untuk menyajikan hal-hal yang sifatnya kompleks seperti rumus-rumus matematika, fisika, dan kimia sehingga kurang efektif jika diterapkan pada materi yang sifatnya berhitung.

3. Materi yang disajikan kurang mendalam.

4. Tidak dapat diterapkan pada audience yang mengalami gangguan dengan pendengaran, karena radio membutuhkan konsentrasi yang cukup pada indera pendengar.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Radio adalah salah satu media pembelajaran yang dipandang efektif untuk membantu mempermudah prose belajar mengajar berlangsung. Media yang sangat merakyat pada masyarakat kita. Sehingga dengan adanya radio akses informasi bagi masyarakat tidak terhenti hanya pada mereka yang mampu mengakses atau mereka yang mempunyai uang yang lebih. Tetapi kini dengan radio semua lapisan masyarakat dapat menikmati, mengakses informasi dengan mudah.

Kemudahan akses informasi ini akan membantu untuk mewujudkan tujuan pendidikan di negara kita. Serta dari beberapa pendapat para tokoh besar dunia mengatakan bahwa sebagian besar murid memperoleh informasi dari proses pendengaran. Dari pendapat ini, radio mempunyai peluang yang besar untuk membantu mensukseskan pendidikan nasional. Keberadaan radio pendidikan di negara ini tidak boleh diremehkan lagi. Melalui alat ini orang dapat mendengarkan siaran dari berbagai penjuru dan peristiwa.

Radio pendidikan mempunyai nilai tertentu, seperti memberikan berita yang up to date, menarik, jangkauan luas, menimbulkan imajinasi, mendorong kreatifitas seseorang, dan sebagainya.

B. Saran

  • Pengemasan media audio dikemas lebih menarik lagi agar dapat meningkatkan minat pendengarnya.
  • Bahasa yang digunakan jangan bahasa yang terlalu formal karena hanya akan meninggalkan kesan monoton. Lebih baik menggunakan bahasa tutur, bahasa keseharian audience jadi kesannya lebih santai tetapi tetap serius.
  • Memaksimalkan peran radio dalam pendidikan untk mencapai tuhuan pendidikan. Karena sebagian bsar waktu di dalam kelas digunakan melalui proses pendengaran.
  • Karena radio pendidikan bisanya tidak dipergunakn penuh dan langsung untuk tujuan pendidikan, seharusnya siaran khusus pendidikan diatur dengan jadwal dan kalau bisa disesuaikan dengan mata pelajaran dengan materi tertentu di sekolah secara bergantian agar siswa dapat mengakses informasi secara serempak di dalam kelas meskipun tempatnya berbeda.

Daftar Pustaka :

Anderson, Ronald H. 1987. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran. Jakarta : CV. Rajawali.

Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Danim, Sudarwan. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Hilmie, Farhan. 2007. Tanggungjawab Lembaga Penyiaran. http://www.suaramerdeka.com, 25 September.

Latuheru, John. D. 1988. Media Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud.

Nn. 2008. Peran Radio terhadap Dunia Pendidikan. http://www.pppgkes.com, 20 Februari.

Rahayu, Rini. 2007. Pendidikan melalui Radio. http://www.suaramerdeka.com, 25 September

Sadiman, Arif S dkk. 1986. Media Pendidikan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Karya ini adalah karya saya ( http://Errorcluck.blogspot.com email: error_cluck@yahoo.co.id ) sendiri bukan plagiat, kecuali bagian yang memang sudah disebutkan dalam daftar pustaka.

MENGGAGAS RADIO SEBAGAI MEDIA PENDUKUNG DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Ditulis dalam Artikel, Pendidikan pada 2:49 pm oleh tepeuny

Oleh :Emi nur safitri Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (05105244016)

A. Latar Belakang

Pada dasarnya media radio merupakan media yang dapat dengan dinamis mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan radio merupakan alat yang biasa dipakai dalam sebuah keadaan yang genting. Misalnya dalam keadaan peperangan atau pertempuran, media ini dapat menjadi pilihan untuk menyebarkan berita dari tempat kejadian secara langsung. Hal ini seperti terjadi saat Indonesia mengumumkan atas kemerdekaannya. Alasan lain yang menyebabkan media radio memiliki sifat dinamis, yaitu bila dihubungkan dengan kondisi serta letak geografis di Indonesia.

Secara geografis, Indonesia lebih banyak terdiri dari pulau – pulau yang masih jauh dari perkotaan dan berbukit – bukit. Dengan hal ini menyebabkan bahwa gelombang yang dipancarkan dari radio amat memungkinkan untuk diterimanya pada daerah- daerah, dibandingkan dengan gelombang pada televisi. Bukti lain yang menyebabkan bahwa media radio memang sangat dibutuhkan keberadaannya, yaitu tentang adanya sertifikasi untuk guru.

Dari satu masalah ini terbukti bahwa ada banyak guru yang kurang mengetahui akan adanya berita tersebut. Ini terjadi karena para guru hanya mengandalkan informasi yang datangnya dari pihak atas tanpa ingin mencari sendiri informasi yang sedang berkembang. Atau dengan kata lain media radio ini sangat berfungsi sebagai pengantar informasi yang masih up todate, dari atasan ke para unit –unitnya.

Tidak hanya itu, menurut beberapa pengembangan pelajaran, media ini merupakan sumber belajar yang ekonomis dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan siswa, terutama dalam mata pelajaran bahasa. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa radio merupakan media yang bisa dijadikan sebagai wahana yang relevan dalam pembelajaran sekaligus sebagai media instruksional.  [1]

Kualitas dan variasi suara dalam media radio dapat mengugah siswa untuk lebih bersemangat menyerap materi pelajaran. Menyelingi suara guru program audio yang berisi berbagai mata pelajaran menyajikan suara tokoh, suara hewan maupun suara alam lingkungan sesuai kebutuhan. Radio juga terbukti sangat efektif terutama untuk proses pembelajaran bahasa asing, karena artikulasi tiap kata dan kalimat dapat terdengar jelas sebagai pedoman untuk pengucapan yang benar.[2]

Akan tetapi, secara realita yang ada sekarang sungguh jauh berbeda. Media radio justru semakin jauh dari fungsi dan kegunaannya sebagai media social. Media ini hampir setiap saat menyajikan hiburan – hiburan yang bersifat konsumtif, mulai dari deretan tangga lagu, atau curahan – curahan hati para penggila program radio. Selain itu, keberadaan media radio juga mulai tersisih dengan adanya media audio visual (televisi). Secara langsung televisi telah menjadi pesaing utama dari radio, tidak hanya itu program – program yang ditayangkan televisi telah membuat para pemirsanya menjadi terpana untuk tetap setia menunggu deretan acara yang siap ditampilkan.

Mungkin karena alasan itulah Balai Pengembangan Media Radio (BPMR) dengan segala daya dan upaya yang ada baik dari kemampuan sumber daya manusia maupun dana berusaha untuk menciptakan radio pendidikan sebagai sarana dan wahana untuk proses pembelajaran. Berbagai mata pelajaran, seperti bahasa Inggris, fisika maupun ilmu social dapat dikemas dengan berbagai model dan cerita agar dapat ditangkap oleh para pendengar setianya (pelajar).

B. Rumusan Masalah

v Apakah media radio pendidikan telah banyak berperan dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran di kelas

C. Batasan Masalah

Makalah ini dibatasi pada bagaimana meningkatkan peran media radio dalam proses pembelajaran

D. Tujuan Pengembangan

v Untuk memperkenalkan potensi radio dalam proses pembelajaran

v Untuk mengangkat eksistensi radio dalam proses pembelajaran

v Untuk mengetahui peran radio dalam proses pembelajaran

E. Kerangka Konseptual

Pengertian media ini masih sering dikacaukan dengan peralatan. Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan menggunakaan peralatan. Sedangkan peralatan atau perangkat keras (hardware) sendiri merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.[3]

Radio merupakan bagian dari media audio, disamping ada media – media lain yang termasuk dalam golongannya, seperti laboratorium bahasa. Dengan menggunakan media radio, semua lambang – lambang baik verbal maupun non verbal dapat dituangkan ke dalam bahasa auditorial. Oleh karena itu, radio sangat tepat bila digunakan dalam pembelajaran jarak jauh. Apalagi bila diterapkan dalam pembelajaran bagi saudara kita yang menderita tuna netra. Dengan sasaran tuna netra secara langsung kita membantu mereka dalam memperlancar proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang sulit untuk dipahami, misalnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris, antara pengucapan kata dengan huruf yang digunakan jelas berbeda. Kita dapat memanfaatkan radio sebagai salah satu hardware dalam mengkomunikasikan program siaran pendidikan bahasa Inggris untuk tuna netra.

Akan tetapi dalam pembuatan program radio pendidikan, alangkah baiknya bila semua komponen turut andil dalam proses pembuatannya. Menurut Ibu Sri Wahyuni (Senior programmer di BPMR), dengan mengikutsertakan semua elemen yang ada dalam pembuatan program radio khususnya radio pendidikan akan memperkaya khasanah mengenai apa yang dibutuhkan siswa saat ini.

Selain itu juga, radio merupakan media yang sudah akrab dengan berbagai tingkat golongan baik dari golongan menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Hal ini dikarenakan radio memiliki beberapa kelebihan yang mengantarkannya menjadi media yang patut untuk dimanfaatkan dalam penyampaian informasi yang  semestinya, antara lain :[4]

v Harganya relative murah dan variasi programnya lebih banyak

v Sifatnya mudah dipindahkan (mobile)

v Bila digunakan bersama – sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal

v Program dapat direkam dan diputar sesuka kita

v Siaran dalam radio dapat mengembangkan imajinasi pada anak

v Dapat merangsang siswa untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Misalnya, dengan mendengarkan radio kita dapat melakukan kegiatan – kegiatan lain yang lebih positif, diantaranya : bernyanyi, melukis atau membantu orang tua

v Siaran dalam media radio, terbukti amat cocok untuk mengajarkan musik maupun mata pelajaran bahasa

v Radio dapat mengerjakan hal – hal tertentu secara lebih baik bila dibandingkan dengan jika dikerjakan oleh guru, antara lain :

1. Radio dapat menampilkan ke dalam kelas guru- guru yang ahli dalam bidang studi tertentu, sehingga dapat mengatasi masalah kekurangan guru yang layak untuk mengajar

2. Pelajaran lewat radio bisa lebih bermutu baik dari segi ilmiah maupun metodis. Ini mengingat guru – guru kita jarang yang mempunyai waktu dan sumber – sumber untuk mengadakan penelitian dan menambah ilmu, sehingga bisa dibayangkan bagaimana mutu pelajarannya

3. Radio dapat menyajikan laporan – laporan dengan seketika

4. Siaran – siaran yang aktual dapat memberikan suasana kesegaran

v Radio dapat mengerjakan hal – hal tertentu yang tak dapat dikerjakan oleh guru. Dia dapat menyajikan pengalaman – pengalaman dunia luar ke kelas. Misal : kisah petualangan seorang pengembara bisa dituturkan ke kelas – kelas.

v Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, serta jangkauannya luas

v Menurut Prof. Drs. Onong Uchana Effendy, dalam bukunya “Radio Siaran Teori dan Praktik” menyebutkan bahwa dengan adanya media radio dapat difungsikan sebagai alat propaganda dan memiliki sifat santai. Yaitu sifat yang dapat dengan dinamis bila digabungkan dengan berbagai kegiatan yang ada.

Akan tetapi dari beberapa keuntungan atau kelebihan penggunaan media radio, eksistensi media ini tetap mulai tersisih. Hal ini terbukti dari beberapa sample subyek yang diwawancarai dari kalangan guru, mahasiswa serta masyarakat, mengatakan bahwa :

Ø Kebanyakan program yang disiarkan dalam radio hanya menyajikan hiburan semata dan prosentase untuk berita atau pengetahuan hanya berapa persen saja.

Ø Karena sudah adanya penurunan nilai – nilai pendidikan pada masyarakat, hingga sudah terbentuk cara berfikir masyarakat untuk menilai program pendidikan di radio akan sama dengan belajar di kelas.

Ø Pengemasan program radio terutama untuk pendidikan masih sangat minimalis dan belum terlalu menarik

Ø Karena biasanya dana yang diberikan untuk pendidikan biasanya hasil subsidi dari pemerintah bukan dari stasiun itu sendiri

Ø Karena kebanyakan orang yang mendengarkan radio pendidikan lebih tertuju sebagai tuntutan bukan kebutuhan

Ø Karena pada dasarnya banyak sekali radio – radio yang lebih menekankan 95% hiburan dan 5% untuk pengetahuan umum

Bila dilihat dari beberapa jawaban yang diambil dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui sisi lain dari kelemahan media radio khususnya untuk siaran pendidikan. Oleh karena itu kita juga harus mengetahui dimana letak kelemahan media ini, yaitu :[5]

ü Kurangnya promosi dari pihak radio dan kesadaran masyarakat terhadap eksistensi media radio

ü Belum memasyarakatnya pemanfaatan media radio di sekolah – sekolah

ü Sifat radio yang memiliki komunikasi satu arah (one way communication)

ü Siaran yang disentralisasikan sehingga guru tak dapat mengontrolnya

ü Penjadwalan pelajaran dan siaran sering menimbulkan masalah.

ü Karena sifatnya yang auditori atau hanya mendengar, karena hanya untuk didengat maka isi siaran sampai di telinga pendengar hanya sepintas saja. [6]

Walaupun demikian, dengan keterbatasan radio yang sedemikian, BPMR (Balai Pengembangan Media radio) tetap mengudara dan berupaya untuk tetap eksis diantara radio- radio swasta yang ada. Oleh karena itu, BPMR memiliki beberapa program andalan yang selalu dibutuhkan oleh para pelajar, misalnya :

* Belajar Yuk

Dalam program ini memberikan materi tambahan pelajaran sebagai alternative sumber belajar baik siswa dan guru untuk menambah pengetahuan.

* RE Bimbel

Program ini menyiarkan tentang mata pelajaran dari tingkat SD sampai SMA.

Dua program ini menjadi program andalan diantara program – program yang ada sekarang. Hal ini dikarenakan dua program ini memiliki segmen jelas, dan keberadaannya dibutuhkan.

F. Pembahasan

Radio merupakan suatu perlengkapan elektronik yangdiciptakan berkat kemajuan dalam bidang teknologi modern. Dan dengan alat ini orang dapat mendengar siaran tentang berbagai peristiwa kejadian – kejadian yang penting dan baru, masalah mengenai kehidupan dan acara – acara rekreasi yang menyenangkan, semuanya dipancarkan dari station radio tertentu.[7]

Memang telah diketahui bahwa di beberapa kota Yogyakarta khususnya, yang dikenal sebagai kota pelajar dengan banyak berdirinya lembaga – lembaga pendidikan, eksistensi media radio masih belum dioptimalisasikan dalam proses pembelajaran. Radio hanya difungsikan bila diantara kita diberi tugas untuk mendengarkan program yang disajikan sebagai tugas kuliah semata, atau program yang disiarkan itu menghadirkan sesuatu yang menyenangkan, misalnya request lagu.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, fungsi media ini telah bergeser ke arah konsumtif. Radio bukan lagi sebagai media pendukung dalam proses pembelajaran, akan tetapi telah berganti peran sebagai media dengan nilai bisnis yang menjanjikan.

Bila diterapkan pada pembelajaran di sekolah – sekolah, media audio khususnya radio pendidikan hanya difungsikan bila diterapkan pada mata pelajaran bahasa Inggris ataupun musik. Hal ini dikarenakan bila  menggunakan radio sebagai pembelajaran, secara langsung akan melatih pendengaran siswa dalam hal pengucapan kata.

Seperti media yang lain, radio merupakan media yang dapat digunakan untuk belajar mandiri dan belajar tuntas.[8] Hal ini dimaksudkan karena media radio merupakan media yang sesuai bila diterapkan pada anak yang lebih lambat dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan radio, secara langsung kita dapat memutar program mata palajaran yang belum dipahami secara berulang – ulang. Dengan pemutaran program secara berulang – ulang, lama- kelamaan akan merangsang daya kreatifitas dan imajinasi anak.

Akan lebih baik apabila dalam penyampaian informasi dari komunikan kepada komunikator melalui media yang relevan dan dapat dengan segera mendapatkan umpan balik (feedback). Dengan adanya feedback, akan menimbulkan bahwa penggunaan media telah tepat dan pesan yang disampaikan dapat dengan segera mendapatkan balikan.

Pada dasarnya media radio sangat bermanfaat untuk anak yang cenderung memiliki gaya belajar auditori. Dengan memanfaatkan gaya belajar anak tersebut, berarti proses pembelajaran akan lebih mudah diterima. Walaupun demikian untuk anak yang memiliki gaya belajar yang berbeda dapat diatasi dengan memadukan program siaran radio dengan media lain seperti gambar atau media audio visual serta hal – hal lain yang dapat merangsang anak untuk tetap belajar.

Bila dihubungkan dengan sifat radio yang mobile, seharusnya radio lebih banyak dimanfaatkan oleh sekolah – sekolah sebagai media pendukung dalam proses pembelajaran. Akan tetapi hal ini jelas berbeda dari kenyataan yang ada. Banyak sekali sekolah – sekolah yang belum memanfaatkan radio sebagai media pembelajaran. Selain itu antara waktu siar program radio dengan sasaran siswa atau pelajar terkadang kurang sesuai. Seperti contoh : bila program siaran pendidikan sedang disiarkan, justru siswa sedang menjalankan aktivitasnya, yaitu sekolah. Terkadang hal ini juga yang menjadi salah satu hambatan dalam penyiaran radio pendidikan di BPMR.

Oleh karena itu beberapa trik yang digunakan BPMR dalam sosialisasi program pendidikan, yaitu banyak mengadakan kerjasama dengan lembaga – lembaga pendidikan baik tingkat SD, SMP, SMA maupun Universitas.

Beberapa cara untuk meningkatkan peran radio dalam dunia pendidikan, diantaranya :

· Adanya kerjasama antara pemerintah dan segenap komponen pendidikan untuk tetap mempertahankan fungsi radio dalam pembelajaran

· Adanya ketegasan mengenai undang – undang penyiaran, baik untuk radio swasta yang bergerak di bidang bisnis dan untuk radio public milik pemerintah

· Diubahnya cara berfikir bahwa program dalam radio pendidikan bukanlah program yang memindahkan cara mengajar guru di kelas dalam media audio

· Sosialisasi akan radio pendidikan lebih digencarkan.

· Kemasan dalam penyampaian radio pendidikan, alangkah baiknya apabila tidak terlalu formal, akan tetapi diubah dalam bentuk cerita. Misalnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris, bisa dikemas dalam bentuk cerita ataupun percakapan ringan yang mudah dimengerti.

Mata pelajaran berhitungpun bisa diaudiokan, akan tetapi tidak semua materi di dalamnya. Hal ini dikarenakan pada mata pelajaran berhitung masih sangat rancu dan sulit dalam pengemasan audionya.

Seperti yang dicontohkan di BPMR, mata pelajaran matematika dengan materi mengenai jarak dapat diaudiokan dengan pengemasan dalam bentuk cerita.

Oleh karena itu porsi siaran pendidikan di BPMR sebanyak 53%. Akan tetapi hal inipun terkadang masih diselingi oleh musik- musik yang dapat menarik perhatian para pendengar. Hal ini dikarenakan sudah terbiasanya telinga para pendengar khususnya pelajar untuk mendengarkan musik- musik yang seharusnya tidak masuk dalam program pendidikan. Padahal, menurut hasil penelitian Dunn (dalam Dryden & Jeannette Vos, 2000) menemukan bahwa “hanya 30% siswa mengingat 75% dari apa yang mereka dengar selama periode kelas normal. Dan hanya 40% siswa menguasai apa yang mereka baca dan dengar, serta sisanya 15% dimiliki oleh siswa yang belajarnyadengan tactual dan kinestetik.[9]

Oleh karena itu dengan banyak mendengar secara berulang – ulang maka proses belajar yang lebih sulit akan lebih mudah untuk dipahami. Atau bisa dengan memadukan 2 media yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Akan tetapi prospek media radio khususnya radio pendidikan akan lebih jelas bila dalam proses pembelajaran media radio tetap diikutsertakan sebagai media penunjang yang bersifat dinamis, mobile yang dapat menghadirkan  berita – berita actual dan autentik.

G. Kesimpulan

Radio merupakan bagian dari audio pembelajaran. Media radio memiliki sifat yang dinamis, mobile (dapat dipindah kemana – mana), serta dapat menghadirkan berita – berita yang uptodate, autentik dan baru. Tidak     dipungkiri dalam zaman yang serba multimedia ini, menyebabkan media radio justru semakin jauh dari eksistensinya. Oleh karena itu dengan adanya Balai Pengembangan Media Radio menjadi angin segar dalam bidang audio untuk lebih meningkatkan eksistensi media radio khususnya dalam penyiaran program pendidikan. Beberapa cara agar eksistensi radio pendidikan dapat dipertahankan, antara lain :

· Adanya kerjasama antara pemerintah dan segenap komponen pendidikan untuk tetap mempertahankan fungsi radio dalam pembelajaran

· Adanya ketegasan mengenai undang – undang penyiaran, baik untuk radio swasta yang bergerak di bidang bisnis dan untuk radio public milik pemerintah

· Diubahnya cara berfikir bahwa program dalam radio pendidikan bukanlah program yang memindahkan cara mengajar guru di kelas dalam media audio

· Sosialisasi akan radio pendidikan lebih digencarkan.

· Kemasan dalam penyampaian radio pendidikan, alangkah baiknya apabila tidak terlalu formal, akan tetapi diubah dalam bentuk cerita. Misalnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris, bisa dikemas dalam bentuk cerita ataupun percakapan ringan yang mudah dimengerti.

Mata pelajaran berhitungpun bisa diaudiokan, akan tetapi tidak semua materi di dalamnya. Hal ini dikarenakan pada mata pelajaran berhitung masih sangat rancu dan sulit dalam pengemasan audionya.

Seperti yang dicontohkan di BPMR, mata pelajaran matematika dengan materi mengenai jarak dapat diaudiokan dengan pengemasan dalam bentuk cerita.

H. Daftar Pustaka

Anderson, H. Renald.Pemilihan Dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran.CV.Rajawali.Jakarta.1987

Budiningsih,CAsri.Karaktersitik Siswa sebagai pijakan pembelajaran.FIP.UNY.2004

Effendi, Onong Uchana.Radio Siaran Teori dan Praktik.Mondar Jaya.Bandung.1990

Hamalik,Umar.Media Pendidikan.Penerbit Alumni.Bandung.1982

Latuheru D.John,M.P.Media Pembelajaran dalam proses belajar mengajar masa kini.Depdikbud.Jakarta.1988

Miarso,Yusufhadi,dkk.Teknologi Komunikator Pendidikan pengertian dan penerapannya diIndonesia.PUSTEKKOM DIKBUD.CV.Rajawali.Jakarta.1984

Sadiman, Arief. S,dkk. Media Pendidikan (Pengertian Dan Pembangan dan Pemanfaatannya).PUSTEKKOM DIKBUD. PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta. 2002

KARYA INI SEPENUHNYA KARYA SAYA SENDIRI (BUKAN PLAGIAT), KECUALI BAGIAN YANG MEMANG SUDAH DISEBUTKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA)




[1] Ronal H. Anderson, pemilihan dan pengembangan media untuk pembelajaran, Agustus, 1987, hal. 127

[2] RAPENDIK

[3] AECT (1977)

[4] Arief Sadiman.Media Pendidikan (pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya).Jakarta.2002

[5] Arief Sadiman.Media Pendidikan.Jakarta.2002

[6] Prof. Drs. Onong Uchana Effendy,MA.Radio Siaran Teori dan Praktik

[7] Drs. Oemar Hamalik.Media Pendidikan,Penerbit Alumni.Bandung.1982

[8] Drs.John D. latuheru M.P.media Pembelajaran dalam proses belajar mengajar masa kini.Jakarta.1988

[9] Dr.C.Asri Budiningsih.Karakteristik Siswa sebagai pijakan pembelajaran.FIP.UNY.2004

06.24.08

MEDIA RADIO DAN SIARAN RADIO PENDIDIKAN

Ditulis dalam Pendidikan pada 9:19 am oleh tepeuny


Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Posisi pendidikan pada saat ini bukan sebagai pelengkap dalam kehidupan, melainkan sudah menjadi kebutuhan pokok. Artinya, dalam kehidupan berkeluarga pendidikan menjadi fokus dan prioritas utama dalam keluarga. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian akan terbentuk manusia yang mampu bersaing dalam dunia global saat ini yang memiliki kualitas serta intelegensi yang baik tentu pula tidak terlepas dari moral dan tingkah laku yang baik pula.
Menghadapi persaingan yang terbuka saat ini, tentunya semua orang ingin serba cepat dan praktis. Sehingga saat ini yang dipikirkan hanyalah hasil yang didapatkan bukan menikmati proses yang dikerjakan. Apalagi seperti masyarakat bangsa kita yang memilii etos kerja sangat rendah. Sampai timbul lelucon seperti ini : “Apa bedanya orang Jepang dan orang Indonesia?” jawabnya : “orang Jepang bekerja dengan keringat lalu istirahat (makan) dengan santai. Sedangkan orang Indonesia bekerja dengan santai dan istirahat (makan) sampai berkeringat. Tentunya lelucon diatas bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan bangsa sendiri, melainkan sebagai pemicu semangat agar nantinya akan muncul orang-orang Indonesia yang mampu berbicara dimata dunia.
Karena hal tersebutlah budaya instan dari luar mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Sekarang segala sesuatu mudah di dapatkan secara mudah, praktis, dan cepat. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet, dan masih banyak yang lainnya. Kemajuan teknologi tentunya menuai banyak manfaat dalam kehidupan kita. Tetapi, ada satu hal yang harus dihindari dengan adanya kemajuan ini, yaitu etos kerja dan semangat yang rendah. Karena segala sesuatu dapat dikerjakan secara cepat dan praktis.
Dari sekian banyak kemajuan teknologi yang ada, dunia pendidikan ikut terkena dampaknya. Sekarang kita perhatikan, anak-anak kecil yang seharusnya menikmati hari-harinya dengan bermain dan belajar sekarang terlihat duduk manis di depan sebuah kotak yang ajaib yang kita sebut televisi. Kotak tersebut telah menyihir anak-anak dengan tayangan yang tidak mendidik dan berkualitas. Selain itu, kemajuan dunia maya (internet) juga merubah sifat dan tingkah laku anak-anak. Sekarang tak dapat dipungkiri lagi, internet telah menyebar disetiap pelosok daerah. Memang, internet dibuat agar informasi dapat menyebar dengan cepat. Tetapi perlu diingat tanpa adanya pengawasan dan perhatian orang tua, anak-anak dengan mudah mengakses situs yang seharusnya bukan untuk seusia mereka.
Kemudian muncul pertanyaan di dalam diri kita. “Jika media yang memiliki teknologi canggih ada dampak buruknya bagi anak, dengan media apa yang bisa kita gunakan?”. Sebuah pertanyaan klasik yang tentunya ada dalam pikiran setiap orang. Pertanyaan kuno yang mungkin disepelekan oleh mereka yang tidak peduli dengan pendidikan. Hanya satu jawaban dari pertanyaan tersebut, yaitu radio.
Memang terlihat kuno, ketinggalan zaman, atau sebagainya begitu orang mendengar kata radio. Media yang sekarang mulai tertindas perannya dengan teknologi-teknologi terbaru. Media yang telah dilupakan perannya ketika manusia masih pada peradaban terdahulu. Bahkan sekarang hampir dipastikan tidak semua rumah memiliki radio. Sebuah kenyataan yang dilematis yang tentunya tidak kita inginkan, Namun begitulah adanya, orang telah melupakan peran dan fungsi dari radio.
Perlu diingat, sejak PD II, radio telah menunjukkan kekuatannya sebagai media pendidikan dalam arti luas, dan media komunikasi politik, termasuk pendidikan politik. Fungsi pokok media komunikasi massa termasuk radio yaitu meliputi pengamatan/pengawasan lingkungan (surveillance of the environment). Bagi masyarakat fungsi pokok radio sebagai sumber informasi, kemudian fungsi kedua, pengembangan konsensus. Konsensus terkait dengan sosialisasi atau fungsi pendidikan dalam arti luas. (M.Alwi Dahlan dalam situs http://www.pustekkom.go.id/teknodik/)
Sekarang mari kita buka lagi pikiran kita mengenai pemanfaatan radio dalam pendidikan. Namun sebelumnya kita ulas kembali apa itu radio. Pengertian “Radio” menurut ensiklopedi Indonesia yaitu penyampaian informasi dengan pemanfaatan gelombang elektromagnetik bebas yang memiliki frequensi kurang dari 300 GHz (panjang gelombang lebih besar dari 1 mm). Sedangkan istilah “radio siaran” atau “siaran radio” berasal dari kata “radio broadcast” (Inggris) atau “radio omroep” (Belanda) artinya yaitu penyampaian informasi kepada khalayak berupa suara yang berjalan satu arah dengan memanfaatkan gelombang radio sebagai media.
Sedangkan menurut Versi Undang-undang Penyiaran no 32/2002 : kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Dengan adanya radio, seluruh informasi dapat disebarluaskan dalam waktu yang singkat, bahkan sampai dengan daerah yang belum terjangkau sekalipun oleh media lainnya. Jika kita melihat geografis bangsa ini, sekitar 70% penduduk Indonesia tinggal di desa, tetapi akses informasi dikuasai oleh masyarakat kota. Selain itu dari 5,5 juta oplah surat kabar yang terbit di Indonesia, 60% beredar di Jakarta; dan dari 40% (sekitar 2,2 juta) yang beredar di luar Jakarta, 70% beredar di kota, sedangkan untuk desa seluruh Indonesia hanya 660.000 examplar. Jika desa di Indonesia ada 63.000, berarti rata-rata tiap desa hanya mendapat jatah 10,4 examplar surat kabar. (A, Darmanto, 2008. Produksi Program Audio).
Lalu apakah cukup 10 examplar untuk dibaca oleh masyarakat satu desa? Apakah mungkin berita yang disampaikan langsung dimengerti oleh masyarakat? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka jawabnya hanya satu yaitu media yang tepat untuk daerah seperti itu tidak lain radio. Radio memang fenomenal bagi masyarakat desa. Apalagi untuk desa yang belum tersentuh sama sekali dengan kehidupan modern dan belum teraliri oleh listrik.
Kenapa radio begitu fenomenal? Tentu ada sebabnya. Radio memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh media lainnya. Menurut Dodi Mawardi, dalam situsnya (http://dodimawardi.wordpress.com) ada sembilan karakteristik media radio yaitu :
Theater of Mind (Media radio memiliki kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar).
Personal (Media radio mampu menyentuh pribadi pendengar).
Sound Only (Media radio hanya menggunakan suara dalam menyajikan informasinya).
At Once (Media radio dapat diakses cepat dan seketika).
Heard Once (Media radio di dengar secara sepintas).
Secondary Medium Half Ears Media (Media radio bisa menjadi teman dalam beraktifitas).
Mobile / Portable (Media radio mudah dibawa kemana saja).
Local (Media radio bersifat lokal, hanya di daerah yang ada frekuensinya).
Linear (Media radio tersusun secara sistematis).
Selain dari sembilan karakteristik yang ada diatas dapat ditambahkan kekuatan/kelebihannya. Menurut A.Darmanto dalam tulisannya (Radio: Media yang terpinggirkan, mampukah membangun kota?) yaitu :
Rapidity (Tingkat kecepatan menyampaikan informasi cukup tinggi).
Wide Coverage (Jangkauan wilayah siarannya luas).
Simultaneous (dapat dinikmati secara serentak dalam waktu yang sama).
Illiteracy (dapat dinikmati oleh yang buta huruf).
Jika melihat karakteristik serta kekuatan yang dimiliki radio, tentunya tidak salah lagi jika kita memanfaatkan media radio ini dalam dunia pendidikan. Dengan adanya radio tentunya pembelajaran akan lebih menyenangkan. Anak-anak dapat menikmati kembali cerita atau dongeng melalui radio yang dengan karakteristiknya hanya “suara” akan mampu membangkitkan daya imajinasi anak itu sendiri. Selain itu, radio masih dipandang oleh para pemilik opini sebagai saluran yang mempunyai pendengar efektif (Redi Panuju, Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik, Bayumedia Publising, 2005).
Artinya baik guru yang menyampaikan materi pembelajaran maupun siswa sebagai audiens bisa saling bertukar pendapat tentang materi pelajaran yang disampaikan. Radio juga menjujung tinggi perbedaan karakteristik pendengarnya. Tidak selamanya siaran melalui media radio terkesan formal. Melalui cerita-cerita tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri. Pendengar senang mendengarkannya, pesan yang akan disampaikan pun tersampaikan dengan baik.
Adanya media radio pendidikan merupakan perkembangan baru yang memberi nuansa positif dalam penyebar luasan informasi pendidikan. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang program pendidikan akan meningkatkan kemauan masyarakat untuk terlibat dalam mensukseskan program-program pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Secara sederhana dapat kita sadari bahwa program siaran pendidikan dari media radio akan memberi pembelajaran kepada masyarakat pendengar yang akhirnya akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat.
Setelah adanya radio sebagai media pendidikan, maka sebaiknya perlu adanya pengelolaan yang baik agar nantinya dapat tetap berjalan pada jalurnya. Keberhasilan dalam mutu Siaran Radio Pendidikan antara lain ditentukan kualitas manajemen. Karenanya program ini akan semakin efektif apabila dikelola secara ahli. Berbagai produk teknologi komunikasi/ informasi, termasuk di dalamnya media radio, memiliki ciri khas, yaitu menjanjikan kecepatan, ketepatan, kepraktisan dan kualitas dalam mencari, mengumpulkan menyeleksi, mengolah dan menyajikan informasi. Sesuai dengan ciri khas media radio sebagai salah satu produk teknologi elektronika maka menjadi keharusan bahwa manajemen yang diterapkan dalam penyelenggaraan siaran harus manajemen yang dinamis.
Pada umumnya para guru berpendapat bahwa siaran radio pendidikan bermanfaat menambah wawasan untuk mengajar, meski sebagian tidak mengetahui kalau hingga hari ini siaran tersebut masih mengudara. Bagaimana langkah ke depan agar siaran ini menjadi efektif?. Menurut Rini Rahayu, (mahasiswa PPS Unnes, wacana Suara Merdeka 13 September 2005) ada beberapa langkah alternatif yang perlu ditegakkan agar siaran efektif yaitu :
• Agar siaran radio rendidikan bisa didengar dan berhasil menjadi media peningkatan wawasan guru dalam proses belajar mengajar kepada peserta didik, Balai yang ditunjuk sebagai pengelola, hendaknya berperan aktif melaksanakan prinsip-prinsip organisasi terutama koordinasi kepada kelompok belajar agar selalu memonitor dan mengikuti siaran
• RRI yang ditunjuk diantara beberapa media yang menyiarkan siaran radio pendidikan tidak ada salahnya jika senantiasa gencar memutar “promo acara” agar siaran ini dapat diketahui. Karena melakukan koordinasi dengan stakeholders dan instansi terkait merupakan bagian tugas dan fungsi dari RRI.
• Untuk mendapatkan produksi paket siaran radio pendidikan yang berkualitas, pihak BPMR hendaknya tetap komit mengaktualisasikan prinsip dan fungsi manajemen yang dinamis, sehingga dapat dihasilkan mutu paket yang menarik, enak diikuti juga pesan yang disampaikan diterima, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka dalam mengefektifkan proses belajar – mengajar.
• Sebagai pendidik idealnya menyadari dan beraplikasi terhadap pendidikan yang mempunyai konsep pendidikan sepanjang hayat sehingga mendengarkan dan mengikuti radio pendidikan merupakan kegiatan sebagai pengayaan.
• Pihak-pihak yang terlibat dalam radio pendidikan hendaknya duduk bersama menentukan langkah terbaik agar diklat siaran ini dapat efektif.
Jika fungsi dari media radio telah diketahui, serta banyak manfaat yang dapat diambil apalagi dengan adanya manajemen yang baik, maka kenapa tidak kita menggunakan radio sebagai media pendidikan melalui siaran radio pendidikan.

Oleh : Prayoga Putra Utama (05105244006)
Mahasiswa Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta

(Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Radio Pendidikan, serta didedikasikan penuh sebagai bahan wacana untuk “semua” yang masih peduli dengan media radio khususnya sebagai media pendidikan).
TERIMA KASIH
DAFTAR PUSTAKA

A. Darmanto, 2005. Himpunan Materi Pelatihan Bidang Radio Siaran. Yogyakarta: DEPKOMINFO-BPPI wilayah IV Yogyakarta.
A, Darmanto, 2008. Produksi Program Audio.
Panuju, Redi, 2005. Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik. Bayumedia Publising.
Harian Suara Merdeka edisi 13 September 2005
http://dodimawardi.wordpress.com
http://www.pustekkom.go.id/teknodik/

06.20.08

Tips Men-Desain Poster

Ditulis dalam Tips pada 7:43 pm oleh tepeuny


POSTER
——
Perbedaan mendasar poster dengan media promosi lainnya
adalah poster dibaca orang yang sedang bergerak,
mungkin sedang berkendara atau berjalan kaki.
Sedangkan brosur, booklet, flyer dirancang
untuk dibaca secara khusus, mungkin duduk atau
sesaat sambil berdiri. Karena itu poster harus
dapat menarik perhatian pembacanya seketika, dan
dalam hitungan detik, pesannya harus dimengerti.

Poster digunakan untuk berbagai macam keperluan,
tapi biasanya hanya menyangkut satu dari empat
tujuan berikut ini:
1. Mengumumkan / memperkenalkan suatu acara
2. Mempromosikan layanan / jasa
3. Menjual suatu produk
4. Membentuk sikap atau pandangan (propaganda)

Tipikal poster yang ‘baik’
1. Berhasil menyampaikan informasi secara cepat
2. Ide dan isi yang menarik perhatian
3. Mempengaruhi, membentuk opini / pandangan
4. Menggunakan warna-warna mencolok
5. Menerapkan prinsip ’simplicity’

Penerapan prinsip-prinsip desain akan menentukan
kualitas poster:
1. Balance, ada 2 jenis keseimbangan yang bisa diterapkan:
- Umumnya, keseimbangan bisa dicapai secara simetris
- Garis-garis imajiner, baik vertikal atau horisontal
dapat digunakan untuk mencapai keseimbangan,
walaupun tidak simetris.

2. Movement, alur baca. Alur baca yang diatur secara
sistematis oleh desainer untuk mengarahkan ‘mata pembaca’
dalam menelusuri informasi, satu bagian ke bagian lain
pada poster.

3. Emphasis, penekanan. Prinsip ini yang terpenting
dalam mendesain poster. Penekanan bisa dicapai
dengan membuat slogan / judul, atau ilustrasi / foto
jauh lebih menonjol dari elemen desain lain berdasarkan
urutan prioritas. Penekanan bisa dicapai dengan:
- Perbandingan ukuran
- Latar belakang yang kontras dengan tulisan atau gambar
- Perbedaan warna yang mencolok
- Memanfaatkan ‘white space’ atau bidang kosong
- Perbedaan jenis, ukuran dan warna huruf

4. Unity, kesatuan. Beberapa bagian dalam poster
harus digabung atau dipisah sedemikian rupa menjadi
kelompok-kelompok informasi. Misalnya nama gedung
harus dekat dengan teks alamat. Splash diskon jangan
berjauhan dengan produk yang dimaksud. Kesatuan dapat
dicapai dengan:
- Mendekatkan beberapa elemen desain, dibuat ‘overlapping’
- Menggunakan bidang kotak / lingkaran
- Memanfaatkan garis untuk pemisahan informasi
- Perbedaan warna background

5. Specific appeal, penampilan / kesan. Poster
dirancang untuk keperluan khusus berdasarkan suatu
tema. Hal ini untuk memberikan ‘kesan’ suatu
sentuhan yang sesuai dengan produk, acara atau
layanan. Poster untuk parfum wanita sebaiknya terkesan
feminin, lembut atau dekoratif. Poster untuk menjual
truk, sebaiknya menggunakan warna-warna yang berat,
huruf-huruf yang tebal dan masif.

06.02.08

PENINGKATAN MEDIA RADIO UNTUK PEMBELAJARAN

Ditulis dalam Pendidikan pada 3:51 pm oleh tepeuny

Saat ini perkembangan teknologi dan komunikasi menuntut sumber daya manusia yang mampu bersaing baik secara kualitas maupun kuantitas. Salah satu upaya dalam peningkatan kualitas SDM tersebut yaitu melalui pendidikan. Melalui perkembangan teknologi pula, sekarang ilmu pengetahuan dapat diperoleh dan diakses dengan cepat dan mudah. Jarak tidak menjadi penghalang lagi dalam memperoleh pendidikan. Melalui berbagai media, maka proses komunikasi dan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Banyak jenis media untuk pembelajaran, dan salah satunya radio yang digunakan untuk pembelajaran.
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa yang dimaksud dengan media radio pembelajaran yaitu suatu media yang menyampaikan pesan-pesan pendidikan / pembelajaran yang disiarkan melalui station pemancar radio. Di Indonesia terdapat banyak stasiun pemancar radio baik yang dimiliki oleh pemerintah maupun swasta yang dapat dipakai untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dengan menyiarkan program pendidikan. Dalam hal radio hanya ada satu institusi yang mempunyai daya jangkau secara nasional, yaitu Radio Republik Indonesia.
Untuk itu saat ini kita perlu berbenah lagi dalam upaya peningkatan media radio pembelajaran. Ada beberapa pihak yang berkompeten dalam pengembangan media radio pembelajaran, yaitu : Ahli teknologi pembelajaran (perancang pembelajaran), tenaga pendidikan (guru, dosen, tutor, dll) sebagai penulis materi pembelajaran, ahli materi, ahli media, dan tim produksi. Dalam prosesnya, tentu tidak sembarang langkah yang dapat ditempuh. Melainkan harus melalui prosedur tertentu agar nantinya kualitas yang dihasilkan dari media radio pembelajaran ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menunjang proses pembelajaran.
Adapun langkah-langkah yang harus dilalui sebagai berikut :
- Analisis kurikulum, pemetaan materi dalam kurikulum menurut karakteristik keefektifan kompetensi belajar dalam penyampaiannya.
- Analisis kebutuhan, pengumpulan data teoritik dan empirik tentang program dan media pembelajaran yang dibutuhkan.
- Pengkajian dan perancangan model/format sajian program
- Penyusunan GBIPM dan jabaran materi program
- Penulisan naskah dan bahan penunjang lainnya
- Script conference
- Tahap Produksi, preview, revisi, dan ujicoba prototype program
- Produksi program, dan yang terakhir
- Pemanfaatan program
Dengan adanya langkah-langkah yang telah diuraikan diatas, tentunya kualitas media radio untuk pembelajaran dapat ditingkatkan. Secara tidak langsung maka kualitas dan kuantitas SDM masyarakat Indonesia mampu bersaing dalam menghadapi globalisasi dunia.

Ket : Resume hasil diskusi mahasiswa Teknologi Pendidikan UNY dengan narasumber Sri Wahyuni S.Sos dari BPMR.

Prayoga Putra Utama
Mahasiswa Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
05105244006

04.23.08

8 Macam Kecerdasan Untuk Berhasil

Ditulis dalam Perencanaan, Teknologi Pendidikan pada 11:17 pm oleh tepeuny

Sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, Dr. Howard Gardner menemukan sebuah teori tentang kecerdasan. Ia mengatakan bahwa manusia lebih rumit daripada apa yang dijelaskan dari tes IQ atau tes apapun itu. Ia juga mengatakan bahwa orang yang berbeda memiliki kecerdasan yang berbeda. Pada tahun 1983 Howard Gardner dalam bukunya The Theory of Multiple Intelegence, mengusulkan tujuh macam komponen kecerdasan, yang disebutnya dengan Multiple Intelegence (Intelegensi Ganda). Intelegensi ganda meliputi: kecerdasan linguistic-verbal dan kecerdasan logiko-matematik yang sudah dikenal sebelumnya, ia menambahkan dengan komponen kecerdasan lainnya yaitu kecerdasan spasial-visual, kecerdasan ritmik-musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal. Sekarang tujuh kecerdasan tersebut di atas sudah bertambah lagi dengan satu komponen kecerdasan yang lain, yaitu kecerdasan naturalis.

Kecerdasan Ritmik Musikal yang Mempesona

Ditulis dalam Perencanaan, Teknologi Pendidikan pada 11:16 pm oleh tepeuny

Para ahli mengatakan bahwa musik adalah jendela hati dan merupakan bahasa universal. Dengan musik orang dapat mengungkapkan isi hatinya, bahkan dengan musik pula orang dapat mempengaruhi hati, betulkan? Menikmati musik tidak menembus batas negara dan bangsa semua orang dapat menikmati musik.
Kecerdasan ritmik-musikal adalah kemampuan seseorang untuk menyimpan nada di dalam benaknya, untuk mengingat irama, dan secara emosional terpengaruh oleh musik. Kecerdasan musikal merupakan suatu alat yang potensial karena harmoni dapat merasuk ke dalam jiwa seseorang melalui tempat-tempat yang tersembunyi di dalam jiwa (Plato).

Musik dapat membantu seseorang mengingat suatu gerakan tertentu, perhatikan seseorang atau sekelompok orang yang sedang menari atau berolahraga senam ritmik mesti selalu disertai dengan alunan musik.

Banyak pakar berpendapat bahwa kecerdasan musik merupakan kecerdasan pertama yang harus dikembangkan dilihat dari sudut pandang biologi (saraf) kekuatan musik, suara dan irama dapat menggeser pikiran, member ilham, meningkatkan ketakwaan, meningkatkan kebanggan nasional dan mengungkapkan kasih saying untuk orang lain.

Kecerdasan musikal dapat member nilai positip bagi siswa karena: (a) meningkatkan daya kemampuan mengingat; (c) meningkatkan prestasi/kecerdasan; (c) meningkatkan kreativitas dan imajinasi.

Suatu studi yang dikutip oleh May Lim (2008) menunjukkan bahwa sekelompok siswa yang kepadanya diperdengarkan musik selama delapan bulan mengalami peningkanan dalam IQ spatial sebesar 46% sementara kelompok kontrol yang tidak diperdengarkan musik hanya meningkat 6%.

Mungkin sering kita melihat ada siswa atau orang yang lebih suka belajar bila ada musik yang diperdengarkan (Gaya belajar auditory). Pada orang ini informasi akan lebih mudah tersimpan di dalam memorinya , karena mereka mampu mengoasiasikan irama musik dengan informasi pengetahuan yang mereka baca meskipun kadang-kadang mereka tidak menyadarinya.

Halaman sebelumnya · Halaman berikutnya