06.27.08
PEMBENTUKAN POSITIONING RADIO SEBAGAI PROGAM EDUKASI
Oleh : Dadang Ria Hadi Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY
1. PENDAHULUAN
Sebagai Salah satumedia massa radio, memiliki fungsi sebagai pengikat komunitas yang sifatnya lebih interaktif jika dibandingkan dengan media elektronik lainnya. Fungsi awal sebuah stasiun radio adalah bentukan kreativitas yang dituangkan oleh sekelompok orang sebagai ajang silahturahmi antarsesama komunitas. Selanjutny sekitar tahun 1920-an, radio mulai diperdengarkan secara umum, yang menjadi titik awal komersialiasi stasiun radio.Stasiun radio sampai saat ini masih dipercaya oleh sebagian orang sebagai media komunikasi yang relatif sangat efektif untuk menyampaikan pesan, baik kepada individu maupun khalayak. Kekuatan radio yang berupa interaksi emosional yang mampu diciptakan oleh penyiar dan theater of mind yang mampu membangkitkan imajinasi seseorang menjadi daya tarik para pengiklan yang ingin melakukan komunikasi kepada recipient yang dalam hal ini adalah masyarakat pendengar radio. Minat para pelaku usaha untuk mendirikan sebuah stasiun radio pun meningkat seiring dengan berkembangnya kreativitas. stasiun radio . Menurut data yang dirilis PRSSNI, pada tahun 2002 jumlah tersebut meningkat kurang lebih 350% menjadi 806 radio stasiun. Angka tersebut belum termasuk pula stasiun radio yang tidak tergabung ke dalam PRSSNI. Angka ini akan makinbertambah seiring dengan semakin besarnya jumlah populasi dari segmen yang terkutub, sebagai contoh mulai berkembangnya radio dengan satu jenis aliran musik tertentu di wilayah Jakarta, Bandung, dan sekitarnya, sepertijazz, rock, clasic. Sebuah stasiun radio , menurut pendengarnya adalah media untuk mendengarkan lagu dan atau informasi. Hal ini selanjutnya oleh pihak radio dikelola sedemikian rupa untuk bisa disisipkan unsur-unsur kreatif sehingga pesan yang diinginkan.para pendengar terhadap sebuah stasiun radio dapat dikatakan sebagai positioning sebuah . radio Keberhasilan positioning ini juga ditunjukkan oleh besarnyajumlahpendengar radio yang sesuai dengan segmen pendengar yang ingin diraih stasiun radio . Positioning stasiun radio diraih melalui suatu proses yang kompleks yang menyangkut bahkan bukan semata-mata produk dari on air, tetapi melibatkan promosi stasiun radio dan produk off air radio tersebut.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Radio
Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik dan terbentuk ketika objek bermuatan listrik dimodulasi (dinaikkan frekuensinya) pada frekuensi yang terdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF) dalam suatu spektrum elektromagnetik.
Penggunaan awal radio adalah untuk kepentingan maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang memata-matai armada Rusia pada saat Perang Tsushima pada 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada 1912, termasuk komunikasi antara operatordi kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun darat mendaftar yang terselamatkan. radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang Dunia II. Jermanmenggunakan komunikasi radio untuk pesan diplomatik ketika kabel bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan empat belas pokok Presiden Woodrow Wilson kepada Jerman melalui radio ketika perang. Saat ini radio dijadikan sebagai alat komunikasi massa yang digunakan untuk berbagai tujuan.
B. Definisi Penyiaran Radio
Menurut Chester, Garrison, dan Willis, penyiaran adalah pancaran melalui ruang angkasa oleh sumber frekuensi dengan sinyal yang mampu diterima di telinga atau
didengar dan dilihat oleh publik. Beberapa tipe penyiaran, misalnya penyiaran bunyi
standar atau AM (Amplitude Modulation) dan penyiaran FM (Frequency Modulation)
bentuk ketepatan tinggi dari bunyi pancaran, televisi, pancaran dari gambar dan bunyi.
Straubhaar dan LaRose menyebutkan bahwa AM adalah kependekan dari amplitude modulasi yang berarti bahwa informasi suara dibawa melalui perubahan ketinggian atau amplitude gelomban radio g . Di dalam sebuah sistem radio AM, arus listrik yang keluar dari mikrofon atau peralatan rekaman elektronik digabung dengan gelombang elektromagnetik yang berfrekuensi tinggi berhubungan dengan frekuensi saluran radio tertentu. FM merupakan informasi suara yang dibawa oleh getaran frekuensi yang harmonis dari gelombang radio di sekitar pusat frekuensi yang dibawa, yang mana 101.700 Hz kalau gelombang yang diputar 101.7 FM. Sullivan, Hartley, Saunders, Montgomery, dan Fiske menyebutkan bahwa penyiaran adalah pengiriman pesan melalui media televisi atau radio dengan tidak dikontrol secaraa teknis oleh penerima. Penyiaran radio dapat disimpulkan sebagai suatu media yang sering disebut sebagai pekerjaan yang berkaitan dengan siaran dan aturan penyiaran dalam meningkatkan isi, tingkatan, dan gaya sesuai dengan pendengar yang diharapkan yang dilakukan melalui gelombang- gelombang radio yang ada.
C. Penyiar Radio
Penyiar radio, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,adalah orang yang menyiarkan atau penyeru pada radio. M. Habib Bari memberikan pengertian bahwa penyiar adalah seseorang yang bertugas menyebarkan suatu informasi atau lebih yang terjamin akurasinya denganmenggunakan radio dengan tujuan untuk diketahui oleh pendengarnya, dilaksanakan,dituruti, dan dipahami.Sebaliknya,
Thorndhike dan Barnhart menyatakan bahwa penyiar adalah orang yang memberitahukan sesuatu melalui radio .
Chester, Garrison, dan willis mengatakan bahwa penyiar radio dalam sebuah stasiun radio memainkan banyak peran. Pada umumnya penyiar adalah juru bicara stasiun radio. Di belakang laaer studio, penyiar juga mempunyai pekerjaan dan tugas lain sesuai dengan keterampilan yang dimilikinya. Dengan kata lain penyiar adalah seorang penampil yang melakukan pekerjaan penyiaran, menyajikan produk komersial, menyiarkan berita/informasi, akting sebagai pembawa acara atau pelawak, menghandel
olahraga, pewawancara, diskusi, kuis, dan narasi. Kualifikasi seoang penyiar untuk layak on air, merupakan hal-hal yang harusdikuasai oleh seorang penyiar sesuain dengan batasan-batasan yang ditetapkan manajemen sebuah stasiun radio sebelum penyiar tersebut on air, di antaranya adalah sebagai berikut.
(1) Mempunyai kualitas vokal yang memadai, dalam arti mampu bersuara dengan teknik pernapasan, power, artikulasi, dan intonasi yang tepat
(2) Mampu melaksanakan script reading dengan baik. Script reading adalah kemampuan menguasai materi dan melakukan penyampaian materi dengan baik dan benar
(3) Memahami segmen radio secara mendalam
(4) Memperlihatkan simpati dan empati kepada pendengar
(5) Kreatif dan selalu Berusaha memberikan ide segar dalam siarannya
(6) Mampu bekerja sama dalam tim
(7) Memahami format radionya dan format clock, termasuk di dalamnya pemutaran lagu yang sesuai dengan hakikat Programdan kesesuaian Waktu pemutaran dengan rundown program.
D. Karakteristik Radio sebagai Media Massa
Radio sering disebut-sebut sebagai media buta karena hanya menampilkan audio tanpa visual. Akan tetapi, radio dalam menjalankan perannya sebagai sarana komunikasi mas al tetap dipercaya oleh khayalak. Book D. Cary mengungkapkan beberapa karakteristik radio antara lain sebagai berikut.
(1 Radio) terdapat di mana mana Book menyatakan bahwa penelitian menyebutkan bahwa sekitar setengah miliar pesawat radio yang ada di dunia, 73% di antaranya berada di rumah- rumah, toko- toko, kantor-kantor, sedangkan sisanya terdapat pada kendaraan bermotor. Jika kita berada pada jarak dengar sebuah radio yang sedang diputar, maka mau tidak mau kita akan mendengarnya.
(2) Radio bersifat memilih
Geografi, demografi, dan keragaman program stasiun radio membantu pengiklan untuk menetapkan target pendengar. Fleksibilitas semacam ini berarti bahwa spot dan adlips iklan dapat disiarkan, baik secara lokal, regional, maupun nasional bahkan internasional, pada jam-jam yang dapatdisesuaikan dan program-program yang ditawarkan radio . Keragaman seperti ini akan memungkinkan pengiklan atau sponsor mampu menembak target yang sesuai.
(3 Radio) bersifat ekonomis
Book mengungkapkan bahwa dalam satu minggu satu stasiun radio dapat meraih sembilan dari sepuluh pendengar berusia 12 tahun ke atas. Pendengar berusia 18 tahun ke atas mendengarkan radio selama hampir tiga setengah jam sehari. Seorang pengiklan biasanya mempercayakan kombinasi yang efektif atas jangkauan dan frekuensi dengan biaya yang relatif rendah per ribuan orang.
(4) Radio cepat dalam menyampaikan informasi Jika timbul kebutuhan, maka pengiklan dapat mengiklankan produk yang langsung diudarakan dalam hitungan beberapa jam. Hal ini sangat menguntungkan pengiklan yang menghadapi situasi darurat.
(5) Radio bersifat partisipasif Terdapat hubungan emosional antara pendengar dengan penyiar radio . Hubungan interaktif antara penyiar dan pendengar pun sangat mudah dilakukan.
E. Kekuatan dan Kelemahan Radio sebagai Media Massa
Andy Rustam menyebutkan bahwa stasiun radio sebagai media massa memiliki kekuatan-kekuatan, di antaranya adalah sebagai berikut.
(1) Menjaga mobilitas: pendengar tetap bisa beraktivitas sambil mendengar radio
(2) Informasi tercepat: informasi yang disampaikan radio dapat dilakukan sesegea mungkin, baik melebihi media cetak maupun elektronik lainnya.
(3) Auditif: meskipun hanya mengandalkansuara, radio dapat lebih memberikan pendekatan personal kepada pendengar.
(4) Theater of mind: mampu menciptakan imajinasi yang membuat pendengar penasaran.
(5) Komunikasipersonal: mampu menciptakankeakraban kepada pendengar.
(6) Murah: Biaya penyelenggaraan stasiun radio dan untuk mendengarkan radio sangat murah.
(7) Mass distributor: memiliki kekuatan sebagai distribusi informasi, edukasi, dan hiburan yang simultan.
(8) Format dan segmentasi yang tajam: radio mudah menciptakan citra diri dengan ketajaman format dan
segmentasi.
(9) Daya jangkau yang luas: teknologinya mampu mengatasi hambatan geografis, cuaca dalam sistem distribusinya.
(10)Menyentuh kepentingan lokal dan regional: mampu mengidentifaikasi kebutuhan pendengar lebih mendalam daripada media yang jangkauannya lintas samudra. Selanjutnya Andy Rustam juga mengemukakan kelemahan radio yang harus dipahami oleh stasiun radio , diantaranya adalah sebagai berikut.
(1) Hanya berupa suara Suara sulit menjelaskan grafik, angka,dan tidak mungkin menampilkantampilan visual sehingga perlu dihindari materi-materi atau program yang harus menayangkan visual
(2) Bersifat selintas
Semua suara yang disampaikan penyiar tidak terdokumentasikan oleh pendengar seperti media cetak. Jadi, dibutuhkan keterampilan untuk menjaga perhatian pendengar oleh penyiar dan pemutaran lagu.
(3) Anti detail
Anti detail di sini bukan berarti radio tidak mampu menyampaikan sesuatu secara mendalam, namun sangat sulitmenyiarkan data yang mendetail seperti penyampaian deret hitung atau angka yang berdigit banyak.
F. Positioning
Positioning menurut Kotler adalah langkah-langkah yang diambil oleh perusahaan dalam rangka menyiapkan penawarannya kepada konsumen dan upaya pembentukan citra tertentu dari produknya di mata konsumen. Umumnya positioning diciptakan oleh perusahaan melalui bauran pemasaran, yaitu produk, price, place, promotion, bahkan tidak jarang ditambahkan dengan tiga P, yaitu people, process, physical evidence. Beberapa strategi yang digunakan oleh perusahaan dalam menciptakan positioning adalah sebagai berikut.
(1) Attribute positioning: adalah keberadaan dari perusahaan itu yang menciptakan positioning, misal Disneyland memegang positioning sebagai perusahaan taman bermain yang terbesar di dunia karena memang mereka yang sampai saat ini terbesar di dunia.
(2) Benefit positioning: positioning yang muncul karena perusahaan mampu sebagai
Pemimpin dalam hal memberikan manfaat kepada penggunanya.
(3) Application positioning: positioning yang didapat karena penggunaan dari produk yang pas untuk konsumen tertentu.
(4) User positioning: positioning bagi perusahaan yang mampu menjadi yang terbaik bagi komunitas tertentu.
(5) Competitor positioning: positioning dengan jalan memperlihatkan dan mengkomunikasikan dirinya lebih baik daripada pesaingnya.
(6) Product category positioning: positioning yang mampu diraih dengan jalan menjadi produk yang terbaik di kelasnya.
(7) Quality or price positioning: positioning yang diraih ketika produk mampu memberikan nilai yang terbaik bagi konsumennya.Positioning dalam dunia radio menurut Harley Prayudha adalah upaya yang dilakukan oleh stasiun radio agar pendengar yang diraih sesuai dengan citra yangdikehendaki.
G. Segmentasi Stasiun Radio
Stasiun radio komersial yang profesional,sebelum merancang positioning yang ingin diraih hendaknyamemetakan pendengar yang ada di wilayah jangkauan gelombang
stasiun radio tersebut. Secara umum, segmentasi yang dilakukan berdasarkan hal hal berikut ini.
(1) Letak geografis
Contohnya: kota besar, kota kecil,pedesaan, baik skala nasional maupun internasional.
(2) Segi demografi
- tingkat usai
- jenis kelamin
- status perkawinan
- pekerjaan
- penghasilan
- pendidikan
- hobi
(3) Faktor psikografis
- Pola aktivitas khalayak
- Gaya hidup
- Media habbit (kebiasaan penduduk dalam menggunakan media massa saat menghabiskan waktunya)
- Radio habbit (kebiasaan pendengar ketika mendengarkan radio ) radio
- Waktu atau saat-saat mendengarkan
H. Pembentukan Positioning terhadap Pendengar dari Sebuah Stasiun Radio
Stasiun penyiaran radio komersial Dalam upaya mengoptimalkan pendapatannya berawal dari target dan perolehan pendengar. Jika dicapai dengan baik, maka biasanya akan dicari oleh pengiklan. Data pendengar inilah yang oleh para pengiklan dijadikan dasar untuk melakukan promosi, yang selanjutnya para pengiklan membeli slot waktu penayangan program di radio tersebut. Rating radio diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh stasiun sendiri ataupun lembaga penelitian profesional. Data-dataTersebut pada akhirnya disampaikan kepada pengiklan. Tujuan program stasiun radio komersial adalah untuk mengudarakan sesuatu yang bisa menarik perhatian pendengar. Hal inilah yang menjadi landasan layak tidaknya program tersebut dijual pengiklan.Permasalahan yang timbul selanjutnya adalah bagaimana membuat program menarik dan mendapatkan pendengar. Hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam konsep radio programming dan setara dengan pengembangan format. Permasalahan ini dijawab dengan kemampuan stasiun radio untuk mengetahui kebutuhan para pendengarnya sesuai dengan segmen pendengar yang ingin diraih. Pengelola stasiun radio memerlukan kejelian dalam penentuan program untuk menunjang positioning yang ingin dicapai.Salah satu upayanya adalah membuat format acara yang akan diudarakan kepada pendengar sehingga antara positioning yang ingin diraih dan format acara yangdibentuk akan selaras. Dalam menyusun format acara sebaiknya pula diperhatikan faktor persaingan penyiaran radio , geografis, demografis, psikografis, perilaku pendengar, dan kebiasaan penduduk di kawasan jangkauan radio . Hal yang terpenting adalah memaham bagaimana peluang periklanan dari positioning tersebut. Penataan acara di radio tidak lepas dari elemen pendukung acara tersebut, seperti musik, kata-kata, identitas stasiun, iklan, gaya siaran, dan penjadwalan acara sesuai dengan segmen waktu yang direncanakan.Skema pembentukan positioning stasiun radio pada pendengar ditunjukkan pada
Skema Pembentukan Positioning
Tahap tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut.
(1) Visi
misi perusahaan ditetapkan terlebih dahulu sebagai arah dan pegangan seleruh komponen stasiun radio
(2) Selanjutnya dilakukan pemetaan pendengar pada wilayah jangkauan siaran stasiun
radio.
Misalnya:
segmentasi 101.2 FM Q menyasar pendengar usia 15 -35 tahun dengan kualifikasi B, A, dan A +
(3) Kemudian penetapan positioning yang ingin diraih, yaitu penetapan image
pada pendengar yang ingin diraih oleh stasiun radio , misalnya 101.2 FM Q ingin membentuk citra “Radionya orang yang berjiwa muda ”
(4) Penataan stasiun radio adalah melakukan format yang harus dieksekusi oleh departemen on air, off air, dan promosi serta penataan dan desain layout kantor dan studio siaran.
a.On air:
- Pemutaran musik harus sesuai dengan pendengar yang disasar.
Misalnya Oz Radio memutarkan 60% lagu-lagu yang baru dan second single sebagai upayanya mendapatkan image trend setter musik dan berjiwa muda.
- Pemakaian jingle, harus sesuai dengan trend kultur yang berlangsung pada segmen.
Misalnya pemakaian jingle yang bernuansa modern dan remix version pada Q Radio sesuai dengan selera orang berjiwa muda
- Pembuatan naskah yang sesuai dengan selera pendengar yang ingin diraih yang sesuai dengan image yang ingin diciptakan. Pengaturan tata bahasa yang digunakan oleh
penyiar sesuai dengan segmen dan positioning. Misalnya: pemakaian kata aku dan kamu, bahasa yang tidak baku atau bahasa sapaan pada Q Radio agar selaras dengan
positioning yang ingin diraih, yaitu radionya orang yang berjiwa muda.
- Program on air yang dibuat harus bisa menjembatani kebutuhan pendengar dengan image yang dibangun.
Misalnya:
Siaran matasapi di Q Radio ditujukan, baik untuk mereka yang beraktivitas maupun menghabiskan waktunya sambil mendengarkan radio di pagi hari dengan format siaran
yang gila-gilaan dan membuat orang-orang tertawa.
b.Off air: pembuatan gelaran atau event yang sesuai dengan pendengar yang ingin disasar
atau berdasarkan keinginan klien. Pemilihan talent artis pada gelaran juga disesuaikan
dengan segmen pendengar.
(5) Promosi: aktivitas publikasi yang dilakukan radio dengan menggunakan media lain, seperti media cetak, televisi, dan kerja sama dengan berbagai perusahaan yang sesuai dengan segmen radio .
(6) Phisical evidence: penataan layout dan desain kantor dan studio dari stasiun radio .
(7) Keseluruhan penataan stasiun radio tersebut selanjutnya dieksekusi oleh pihak pihak yang terkait.
(8) Akan terbentuk citra atau positioning dari stasiun radio pada para pendengar. radio baik dengan menggunakan pihak internal radio maupun lembaga survei. Ketika penataan stasiun radio tepat, maka image yang tercipta akan sesuai dengan yang diharapkan, dan segmen yang diharapkan untuk diraih akan menjadi pendengar stasiun radio tersebut.
(9) Citra yang terbentuk pada para pendengar selanjutnya menjadi bahan evaluasi penataan stasiun radio. Ketika penataan stasiun radio menunjang positioning yang ingin diraih, maka yang harus dilakukan oleh stasiun radio tersebut adalah menjaga penataan
tersebut. Sebaliknya, jika kurang tepat atau respon dari segmen yang disasar tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dilakukan penataan ulang stasiun radio tersebut.
PENUTUP
Simpulan
Dalam pembentukan positioning terhadap pendengar dari sebuah stasiun radio tidak semata-mata mengandalkan kekuatan departemen on air. Off air, promosi, dan physical evidence juga dibutuhkan sebagai faktor penunjang yang sangat penting bagi positioning stasiun radio tersebut. Off air yang dilakukan oleh stasiun radio juga merupakan ladang uang atau penghasilan tambahan yang bernilairelatif cukup banyak jika dikelola secara
profesional.Riset sangat diperlukan dalam pelaksanaan penataan radio sebagai upaya
untuk meraih citra yang ingin diperoleh radio yang pada akhirnya berujung pada peningkatan raihan pendengar. Meningkatnya raihan pendengar akan membawa dampak yang positif bagi stasiun radio tersebut, yaitu semakin banyaknya perusahaan yang ingin menjadi klien dari radio tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Prayudha, Harley. 2005. radio Suatu Pengantar untuk Wacana dan Praktik Penyiaran. Jawa Timur: Bayumedia Publishing.
http://ejournal.unud.ac.id
OPTIMALISASI MEDIA RADIO PENDIDIKAN
Oleh : Uus Kurniati Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat emmpengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahan- perubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun social agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk social. Bagi sebagian orang membaca buku merupakan hal yang membosankan. Banyak orang yang mencari cara belajar tanpa harus sering membuka buku. makanya munculah banyak cara atau metode belajar yang asyik. salah satunya dengan mendengarkan radio. sekarang radio menjadi salah satu metode belajar. selain televisi. terbukti beberapa sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai menengah atas mencoba memakai metode ini.Media radio adalah salah satu media yang dapat meningkatkan mutu belajar mengajar dikelas amaupun di luar kelas.
Indonesia memiliki banyak penduduk dan kaya akan kekayaan alam, namun dalam segi pendidikan Indonesia cenderung kekurangan dibanding dengan Negara lain. Permasalahan pendidikan nasional meliputi kesempatan memperoleh pendidikan yang belum merata, kualitas relevansi pendidikan yang masih rendah, serta lemahnya manajemen pendidikan. Dengan potensi radio yang dapat menjangkau kalangan dan daerah manapun, radio sanagt cocok untuk dijadikan media daalm pendidikan. Baik pendidikan formal maupun non formal.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Radio Pendidikan dan Penyiaran Radio
Radio pendidikan adalah media yang menyampaiakn pesan- pesan pembelajaran melalui CD Audio atau disiarkan melalui station pemancar radio (Sri Wahyuni:2008). Media radio dalam pembelajaran berperan sebagai media yang dapat membantu menyelesaikan masalah dalam pendidikan. Ada berbagai macam gaya belajar diantaranya; auditif, visual, dan kinstetik. Media audio sangat bagus untuk melayani siswa yang memiliki gaya belajar audio. Berdasarkan potensinya, radio sangat tepat untuk media dikalangan apapun dan di daerah manapun. Hal ini dibuktikan (a. Darmanto:2008) dari 63.000 desa, 40% belum teraliri listrik sehingga akses untuk menonton televise (menerima surat kabar) sanagt kecil. Media radiolah yang tepat untuk daerah seperti itu. Radio dapat pula dijangkau oleh berbagai alangan ekonomi.
Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secar umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan . Pengertian penyiaran radio menurut Undang- undang No.32/2002:
Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secar umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan
Komponen- komponen dalam pengembangan media radio
Tahap- tahap pengembangan Media pembelajaran:
Adapun tahap- tahap dalam pengembangan radio, diantaranya adalah:
- Analysis
- Analisis Kurikulum
Pemetaan materi dalam kurikulum menurut karakteristik keefektifan kompetensi belajar dalam penyampaiannya (auditif, visual, audiovisual, praktik, dan lain- lain).
- Analisis kebutuhan
Pengumpulan data teoritik dan empirik tentan program dan media pembelajaran yang dibutuhkan.
- Desain
– Pengkajian dan perencanaan model format sajian program.
- Penyusunan GBIM dan jabaran materi program.
- Development
– Penulisan naskah dan penunjang lainnya.
- Script conference.
- Implementation
– Produksi prototype program.
- Preview prototype program.
- Evaluation
- Revisi prototype program.
Aspek- aspek yang perlu dirumuskan dalam perintisan radio:
ü Segment
ü Content
ü Alasan
ü Subtitusi/komplementer
ü Bentuk kelembagaan
ü Proses pengelolaan
Siaran- siaran radio pendidikan diarahkan bagi usaha- usaha:
ü Perombakan atau perkembangan dalam suatu bidang.
ü Siaran yang ditujukan ke sekolah atau suatu kelas dari sekolah sebagai tindakan pengarahan atau pengayaan pada suatu bidang studi pada suatu tingkatan sekolah.
ü Kgiatan yang merupakan kegiatan pendidikan formal yang bertindak sebagi perluasan suatu sekolah atau tingkat persekolahan.
ü Kegiatn yang merupakan kegiatan pendidikan non- formal (ko- kurikuler), misalnya untuk pendidikan kepramukaan, taruna karya dan sebagainya diluar persekolahan.
Dalam penyiaran radio terdapat simulasi siaran radio, dalam kegiatan ini akan memungkainkan siswa menemukan sendiri nilai- nilai yang baik dalam pengalaman merencanakan suatu drama, menulis dan membaca skrip yang baik atau cara menampilkan dan memilih musik dan sound effect yang tepat, memproduksi sound effect yang baik bagi keperluan drama dan lain sebagainya.
Adapun cara untuk meningkatkan media audio/ radio pembelajaran, diantaranya adalah:
ü Kunci keberhasilan media pembelajaran, baik melalaui audio/radio, televisi ada diahli teknologi pembelajaran.
ü Bidang teknologi epmbelajaran merupakan bidang multidisiplin ilmu (komunkasi massa-broadcasting, psikologi, teknologi informasi, dsb).
ü Ahli teknologi pembelajaran akan berhasil jika mampu bersinergi baik dengan berbagai ahli.
ü Ciptakan/temukan berbagai model-model pembelajaran baru sehingga dapat dimanfaatkan peserta didik/ masyarakat pendidikan denagn mudah.
Salah satu contoh dari banyak radio yang sudah diterapkan di sekolah- sekolah adalah di SD Negeri Sempu Kecamatan Limpung Kabupaten Batang denagn gelombang 95,2 meter, SD tersebut melibatkan guru sekolah dalam pembelajaran, guru dilibatkan dalam mengisi acara sendiri dan acara tersebut disiarkan secara langsung. acar tersebut disiarkan pada pukul19 s.d 20, dan bisa didengar oleh siswa dan orangtua di desa itu . Kepala SDN Sempu, Bapak Setiarso, pada tahap awal, siaran radio yang baru menjangkau radius 5 km ini, dimaksudkan sebagai langkah inovatif yang dilakukan sekolah dalam upaya meningkatkan mutu dan kreativitas siswa. Kendati siaran ini belum secara periodik mengudara setiap malam, namun secara bertahap programnya akan diperbaiki dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran siswa.
BAB III
PENUTUP
Media audio/radio pendidikan adalah suatu media yang menyampaikan pesan- pesan pembelajaran melalui CD Audio atau disiarkan melalui station pemancar radio. Media audio sangat efektif untuk dijadikan media dalam pembelajaran. Media audio memiliki banyak kelebihan, diantaranya dapat dijangkau oleh berbagai kalangan dan berbagai wilayah.
Siaran- siaran radio pendidikan diarahkan bagi usaha- usaha untuk perombakan atau perkembangan dalam suatu bidang, siaran yang ditujukan ke sekolah atau suatu kelas dari sekolah sebagai tindakan pengarahan atau pengayaan pada suatu bidang studi pada suatu tingkatan sekolah, kegiatan yang merupakan kegiatan pendidikan formal yang bertindak sebagi perluasan suatu sekolah atau tingkat persekolahan dan kegiatan yang merupakan kegiatan pendidikan non- formal (ko- kurikuler), misalnya untuk pendidikan kepramukaan, taruna karya dan sebagainya diluar persekolahan.
DAFTAR PUSTAKA
Budiningsih Asri. 2002. Karakteristik Siswa Sebagai Pijakan dalam Pembelajaran. FIP UNY: Yogyakarta
Darmanto.2008. Layout kuliah produksi program radio. Yogyakarta
Wahyuni sri.2008. Layout seminar peningkatan media radio pembelajaran. Yogyakarta
Sudjana nana. 2002. Media Pengajaran. Sinar baru algensindo: Bandung.
www.google.com.radiopendidikan.diaksespadatanggal:10juni2008
www.google.com.funradioonlearning.diaksespadatanggal:10juni2008
www.yahoo.com.radiosebagaimedia.diaksespadatanggal:23juni2008
www.wikipedia.com.radioonlearning.diaksespadatanggal:23juni2008
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/prinsip_prinsip_komunikasi_dalam_mengemas_pesan_pendidikan
RADIO PENDIDIKAN (ANTARA ADA DAN TIADA)
Oleh: Muh.Sigid Imami Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberhasilan suatu pendidikan bisa dicapai melalui proses belajar mengajar yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna. Salah satu usaha untuk membantu terciptanya proses belajar mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna tersebut melalui penggunaan media pendidikan yang memadahi dalam jumlah maupun mutu.
Ada banyak sekali media yang dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar, salah satunya adalah radio. Karakteristik media audio (radio) pada umumnya berhubungan dengan segala kegiatan melatih ketrampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek mendengarkan (Rivai, 1990 : 130).
Namun sekarang ini keberadaan media radio semakin trepinggirkan, salah satu penyebabnya adalah turunnya minat mendengarkan siaran radio, khususnya radio pendidikan dari kalangan pendidikan. Pada hal keuntungan dari siaran radio pendidikan sangat banyak.
B. Rumusan Masalah
Mengapa media radio pendidikan semakin terpinggirkan ?
PEMBAHASAN
I. Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. AECT mendefinisikan media sebagai segala bentuk dasar saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar, sedangkan Locatis dan Atkinson (1984) berpendapat bahwa media adalah sarana untuk mentransmisikan atau menyampaikan pesan.
Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sara pembelajaran yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran.
II. Radio Pendidikan
Tugas pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, namun dalam mencapai tujuan tersebut banyak mengalami masalah di antaranya geografis. Kondisi demikian berakibat tidak meratanya kesempatan memperoleh pendidikan yang layak terutama di pedalaman.
Pemilihan media radio didasarkan kemampuan media ini dapat menjangkau populasi pendengar yang lebih banyak dengan jarak jauh dan waktu yang lebih cepat, serta biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan media yang lain.
Menurut Arif Sadiman dkk (1986:51-53) berpendapat bahwa media radio mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media yang lain, yaitu:
Ø Harganya relatif murah dan variasi programnya lebih banyak dari pada TV.
Ø Sifatnya mudah dipindahkan (mobile). Radio dapat dipindah-pindahkan dari satu ruang ke ruang lain dengan mudah.
Ø Jika digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal.
Ø Radio dapat mengembangkan daya imajinasi anak.
Ø Dapat merangsang partisipasi aktif dari pendengar.
Ø Radio dapat memusatkan perhatian siswa pada kata-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya.
Ø Siaran lewat suara terbukti amat tepat/cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa.
Ø Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik.
Ø Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu yang tidak dapat dikerjakan oleh guru.
Ø Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, jangkauannya luas.
Sedangkan kelemahan media radio adalah :
Ø Sifat komunikasinya hanya satu arah, umpan baliknya tertunda
Ø Penyesuaian jadwal siaran dengan jadwal sekolah umumnya sulit
Ø Sulit dikontrol, artinya pendengar tidak dapat menghentikan siaran sebentar untuk berdiskusi atau mengulas bagian yang kurang jelas.
Menurut Dra. Hartati selaku pengawas di Cabang Diknas Kecamatan Semarang Timur juga berharap Diklat Siaran Radio Pendidikan untuk guru perlu diperbarui. Seperti apa pembaruannya ? Melalui acara itu guru dapat mengembangkan profilnya sesuai dengan tiga ranah kurikulum baru 2004 yang efektif, kognitif, dan psikomotorik, ketiga-tiganya tercapai.
Juga diharapkan, program Diklat Siaran Radio Pendidikan ini lebih mencapai sasaran dan tujuan karena program ini sangat diharapkan masyarakat. Kini guru sekolah dasar banyak yang sudah berpendidikan formal D2 dan S1, karena itu tujuan siaran sekarang berubah sebagai pengayaan mereka, mengingat pada dasarnya prinsip pendidikan adalah life long education. (www.suara merdeka.com)
Media radio di Indonesia semakin tersingkirkan dikarena oleh beberapa sebab, diantaranya banyak tidak mengetahui Diklat Siaran radio Pendidikan masih disiarkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pernyataan guru diantaranya:
Endang Lestari guru SD Perumahan Banyumanik 07 Semarang waktu ketemu dengan penulis dalam pelatihan SEQ guru-guru se-Jawa Tengah di Balai Kota Semarang, beberapa waktu lalu.
” Selama ini, saya kira kok sepertinya Siaran Radio Pendidikan nggak mengadakan ujian lagi? Saya kok jarang dengar, tidak seperti tahun 90-an setiap sekolah wajib mencatat Siaran Radio Pendidikan.
Permasalahan itu disebabkan kurangnya koordinasi dari masing-masing instansi terkait yang diberi wewenang untuk mengelola Diklat Siaran Radio Pendidikan. Diantara indikator yang dapat kita lihat yaitu lemahnya guru membuat laporan hasil monitor siaran .
Beberapa guru merasa sudah pernah mengikuti ujian tetapi sampai sekarang belum bisa menggunakan sertifikat ujian untuk proses kenaikan pangkat, kata Endang Lestari
” Dulu tahun 90 an saya pernah mengikuti ujian SRP , sampai kini sertifikatnya tidak turun.” Ujian di Bangun Harjo Kecamat-an Semarang Tengah, dan mengajarnya di perumahan Banyumanik 07 Semarang.
Masalah lain, guru juga tidak tahu kalau siaran tetap berlangsung. Seperti dikatakan oleh Indraningrum S.Pd Kepala SD 1 Citarum Semarang juga kepala Gugus Boegenvil III.” Siaran ini menambah wawasan dan bermanfaat bagi guru tapi sayang saya tidak mendengar kalau siaran ini masih diudarakan”.. (www.suara merdeka.com)
Penyebab lain tersingkirnya media radio adalah:
Ø Belum tahu tentang radio pendidikan
Ø Mengurangnya kultur membaca
Ø Program kurang menarik dan kurangnya sosialisasi
Ø Kurang kesadaran
Ø Belum pernah ada pelatihan
Ø Dampak kurang mengena
Ø Internal guru
Merasa tidak tahu cara pemanfaatan
Ø Keterbatasan program
Diantara banyaknya kasus diatas mengenai tersingkirnya media radio, sebenarnya radio mempunyai beberapa peluang, menurut A.Darmanto (2008) peluang radio pendidikan diantaranya:
Ø Kurangnya akses informasi di desa, pada hal sekitar 70 % penduduk Indonesia tinggal di desa.
Ø Banyak daerah di Indonesia yang belum teraliri listrik, sehinnga media yang paling layak adalah radio.
Ø Secara sosio cultural, radio lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang tidak memiliki tradisi kuat dalam membaca.
Ø Proses demokratisasi yang menuntut adanya transparansi , partisipasi, dan akuntabilitas hanya mungkin berjalan dengan baik kalau arus informasi lancar di semua lini, dan terbuka kesempatan yang sama dalam akses informasi.
Ø Amamdemen UUD 1945, pasal 28 F, UU HAM No. 39?1999, UU Pers No.40?1999, UU Penyiaran No.32?2002 , UU KIP secara aksplisit menjamin setiap orang warga Negara berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi demi Pengembangan dirinya.
Ø UU No.32 Tahun 2002 tentang penyiaran menjamin keberadaan Lembaga Penyiaran Publik Lokal dan Radio Komunitas..
Ø Perusahaan-perusahaan besar kini dituntut menjalankan apa yang disebut Corporate Social Responsibility.
Ø Banyak lembaga layanan sosial yang memanfaatkan radio untuk menjalankan misinya.
Ø Banyak radio luar negeri seksi Indonesia yang menerima penawaran program berkualitas.
Langkah yang ditempuh agar radio pendidikan tetap eksis antara lain:
Ø Menggerakkan lagi program diklat radio untuk kalangan guru.
Ø Memperbanyak siaran pendidikan dari pada siaran untuk bisnis.
Ø Menggerakkan munculnya radio pendidikan di lingkungan sekolahan.
Ø Kerja sama antara pihak radio dengan LSM yang bergerak dalam bidang pendidikan.
Ø Memperbanyak program audio sebagai media pembelajaran di lingkungan sekolah.
Penggunaan media radio untuk pendidikan juga didorong oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
Ø Eksplosi penduduk yang dengan sendirinya mengakibatkan eksplosi anak-anak usia sekolah.
Ø Eksplosi ilmu pengetahuan
Ø Eksplosi teknologi, kedua eksplosi terakhir ini menambah lebar dan dalam jurang pemisah antara negara berkembang dan negara sedang berkembang
Ø Terbatasnya dana dan fasilitas untuk perbaikan
Ø Perjalanan waktu yang tak dapat menunggu lagi
Sedangkan eksperimen yang dilaksanakan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebelum disebarkan ke daerah lain telah diteliti oleh PT Inscore Indonesia atas biaya UNESCO (1973), 2 diantara 10 kesimpulannya menyatakan (Zamris habib.1999):
Ø Pencapaian (coverage) dari sasaran tergantung bukan saja dari kemampuan teknis pemancar tetapi juga pada kemampuan ekonomi pendengar, pemilihan waktu siaran yang tepat, dan informasi yang lebih meluas, jelas dan tegas (umpamanya berbentuk instruksi mengenai adanya siaran).
Ø Siaran pendidikan ternyata lebih tepat untuk pelajaran-pelajaran/acara-acara yang memerlukan unsur-unsur audio dan hal-hal atau perkembangan-perkembangan baru yang dapat diikuti terus menerus oleh guru/kelompok pendengar
PENUTUP
Radio merupakan salah satu media yang dapat membantu dalam proses belajar mengajar, radio dopandang menjadi media pembelajaran yang tepat karena memiliki beberapa kelebihan dan yang terpenting radio sesuai dengan karakteristik geografis Indonesia.
Namun sekarang ini radio mulai tersingkirkan oleh media lain, hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya kurangnya pengetahuannya sebagaian guru tentang media radio pendidikan. Untuk itu kita sebagai kaum terdidik berkewajiban untuk mulai menggalakkan lagi radio pendidikan di lingkungan pendidikan..
DAFTAR PUSTAKA
Ø Darmanto,A.2008.Produksi Program Radio.Yogyakarta:-
Ø Habib,Zamris.2008.Pendidikan Terbuka dan JarakJauh.http://Zamrishabib.wordpress.com.25 Mei
Ø Majalah Siar Demokrasi Edisi 11 Desember 2007
Ø Penyusun,Tim.2003.Strategi Belajar Mengaja.Yogyakarta:Penerbit FIP UNY
Ø Rahayu, Rini. 2007. Pendidikan melalui Radio. http://www.suaramerdeka.com, 25 September
Ø Sadiman, Arif S dkk. 1986. Media Pendidikan. Jakarta : PT.. RajaGrafindo Persada.
Ø Sitio,Anton.2007.Nuansa Baru Media Komunikasi Pendidikan Non Formal.http://Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Biasa.com.28 Januari
Ø Sudjana,Nana dan Ahmad Rivai.1990.Media Pengajaran.Bandung:Sinar Baru
KARYA INI SEPENUHNYA KARYA SAYA, KECUALI BAGIAN YANG MEMANG SUDAH DISEBUTKAN DALAM DAFTAR PUSTAK
Radio sebagai Metode Belajar
Oleh : Eko Prasetyo Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY
BAB I
PENDAHULUAN
Hubungan lingkungan hidup dengan komunikasi mungkin tidak nampak. Namun kalau dipikirkan secara lebih mendalam, lingkungan hidup sebenarnya merupakan konsep yang sangat relevan bagi komunikasi ditinjau dari berbagai segi. Pertama, dipandang dari segi luas, komunikasi hanya berarti dalam konteks lingkungan hidup. Pada intinya. komunikasi adalah proses yang menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya Tanpa komunikasi manusia jadi terpisah dari lingkungan. Namun tanpa lingkungan komunikasi menjadi kegiatan yang tidak relevan. Dengan kata lain, manusia berkomunikasi karena perlu mengadakan hubungan dengan lingkungannya, meskipun caranya berbeda tergantung lingkungan yang dihadapi, umpamanya dengan lingkungan sosial. Kedua, secara langsung atau tidak sebagian besar komunikasi manusia sebenarnya menyangkut atau bertitik tolak pada informasi tentang lingkungannya. Baik mengenai benda fisik dan komponen lingkungan itu, prinsipnya yang mengatur hubungan antara komponen tersebut, proses dan cara kerjanya, ataupun gagasan dan keinginan yang ada dalam otak manusia mengenai bagaimana seharusnya lingkungan itu. Ini bukanlah hal baru. Pengetahuan dan konsep yang ada pada seseorang dibentuk pertama kali oleh lingkungannya, atau berdasar kepada hal-hal yang diamati dari lingkungan. Andaikata ia kemudian belajar tentang hal-hal mengenai lingkungan yang lain, informasi itu pun akan selalu mengacu atau dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Itulah sebabnya maka komunikasi biasanya lebih lancar dan lebih efektif jika menyangkut atau berkaitan dengan lingkungan yang telah dikenalnya. Dapat dikatakan komunikasi akan makin berarti bagi seseorang jikalau informasi yang disampaikan makin terkait dengan lingkungan orang itu
BAB II
PEMBAHASAN
- PERKEMBANGAN RADIO
Dewasa ini perkembangan dunia radio sudah sedemikian pesat. Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Radio searan selalu mengupdate diri. Jumlah yang selalu bertambah dan banyak, serta pemenuhan akan kebutuhan teknologi terkini selalu di ikuti media radio. Maka tidak mengherankan jika ada pakar komunikasi yang menyatakan bahwa radio merupakan media yang penuh dengan dinamika, dinamis dan selalu dapat mengikuti perkembangan zaman. Radio menurut fungsinya sebagai media hiburan dan informasi. Agaknya fungsi media yang demikian ini dapat dapat menyelaraskan dengan tuntutan dunia pendidikan. Sehingga radio dapat difungsikan perannya untuk menjadi media pendidikan yang pas. Radio dan pendidikan ibarat perangko dan amplopnya yang dapat saling bersinergi. Sehinga peran media radio sangatlah penting. Dimana dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki yakni, dapat langsung meberitakan, harga terjangkau dan dapat dibawa kemana-mana serta coverage area yang luas.
Sebagian orang membaca buku merupakan hal yang membosankan. Banyak orang yang mencari cara belajar tanpa harus sering membuka buku. makanya munculah banyak cara atau metode belajar yang asyik. salah satunya dengan mendengarkan radio. sekarang radio menjadi salah satu metode belajar. selain televisi. terbukti beberapa sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai menengah atas mencoba memakai metode ini. malahan yang berbagi ilmu adalah siswa-siswanya. karena kita gak luput dari mendengarkan radio, dan akan lebih mudah mendapatan ilmu dengan mendengar radio. di beberapa stasiun acara radio juga mempuntyai program radio education ini. seperti mari belajar bahasa inggris , disalahsatu stasiun radio. walaupun frekuensi waktu siarannya tidak terlalu banyak. mereka lebih memproitaskan lagu-lagu. ini angamat disayangkan
- MEDIA RADIO DALAM PIJAKAN PEMBELAJARAN
Ada dua kategori utama tentang bagaimana seorang belajar yaitu pertama bagaimana seorang menyerap informasi dengan mudah atau dinamakan modalitas, kedua adalah cara seorang mengatur dan mengolah informasitersebut atau juga disebut dengan cara kerja dinamika otak. Banyak juga factor yang mempengaruhi gaya belajar seorang, seperti factor fisik, emosional, sosiologis, maupun lingkungan. Gaya belajar lain menghendaki iringan musik sebagai teman belajar, sedangkan lainya merasa dengan musik justru akan menggangu konsentrasinya. Adapun ciri-ciri orang orang dengan gaya auditorial sebagai berikut:
· Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
· Mudah terganggu oleh keributan
· Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan dibuku ketika membaca
· Senang membaca dengan keras dan mendengarkan.
- SEJARAH RADIO
Keberhasilan Guglemo Marconi tahun 1896 melakukan percobaan pengiriman pesan tanpa kawat sejauh 8 mil memberi harapan baru bagi perkembangan dunia penyiaran radio. Harapan semakin besar ketika tahun 1901 eksperimen yang dilakukan Marconi berhasil melintasi samudera Atlantik. Tetapi dunia penyiaran radio di dunia dapat berkembang setelah perang dunia 1 semua peralatan radio dimobilisasi untuk kepentingan perang sehingga pihak sipil tidak boleh menggunakan secara bebas.
Pada saat berdirinya International Amateur Radio Union (IARU) tahun 1925, wilayah nusantara pada saat itu masih dikuasai oleh Belanda, dan pada saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia Pertama. Pada saat itu komunikasi antara Netherland dengan Hindia Belanda (julukan untuk wilayah Nusantara) hanya mengandakan saluran kabel Laut yang melintas Teluk aden yang dikuasai oleh Inggris. Timbul kekhawatiran Belanda atas saluran komunikasi tersebut, mengingat Inggris terlibat dalam perang dunia pertama tersebut sedangkan Belanda ingin bersikap Netral, oleh karenanya dilakukanlah berbagai percobaan dengan menempatkan beberapa stasiun Relay yang atara lain di Malabar, Sumatra, Srilangka dan beberapa tempat lagi. Radio Malabar berdiri tanggal 5 Mei 1923 merupakan pemancar menggunakan teknologi arc transmitter yang terbesar di dunia. Tampak pada gambar samping adalah dua buah arc transmitter yang besar dengan kekuatan 2400kW yang dibuat oleh Klaas Dijkstra yang bekerja untuk Dr Ir De Groot. Input power pemancar Radio Malabar adalah 3.6 MegaWatt bekerja pada frekuensi 49.2kHz panjang gelombang 6100m dengan menggunakan callsign PMM. Daya untuk pemancar Radio Malabar di bangkit oleh sebuah pembangkit tenaga air buatan Amerika yang terletak di Pengalengan dengan tegangan 25kV. Radio Malabar merupakan cikal bakal amatir radio di Indonesia dan merupakan radio pertama di Indonesia untuk komunikasi jarak jauh. Frekuensi yang digunakan masih sangat rendah dalam panjang gelombang sangat panjang, tidak mengherankan jika antenna yang digunakan harus di bentang memenuhi gunung Malabar di Bandung Selatan. Sisa-sisa Radio Malabar masih terdapat di sana berupa tiang-tiang antena-antena besar dan tinggi di tengah hutan.
Pada masa akhir kekuasaan orde lama mulai bermunculan radio-radio swasta yang bermula dari hobi para mahasiswa di bidang elektronika. Radio swasta itu kemudian menjadi alat perjuangan angkatan 66 dalam menumbangkan orde lama. Pada tahun 1970 keberadaan radio swasta secara resmi diakui oleh pemerintah dengan dikeluarkanya pemerintah nomor 50 yang menjamin dan mengatur keberadaan mereka.
BAB III
PENUTUP
Sebagian orang membaca buku merupakan hal yang membosankan. Banyak orang yang mencari cara belajar tanpa harus sering membuka buku. makanya munculah banyak cara atau metode belajar yang asyik. salah satunya dengan mendengarkan radio. sekarang radio menjadi salah satu metode belajar. selain televisi. terbukti beberapa sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai menengah atas mencoba memakai metode ini. media pendidikan yang pas. Radio menurut fungsinya sebagai media hiburan dan informasi. Agaknya fungsi media yang demikian ini dapat dapat menyelaraskan dengan tuntutan dunia pendidikan. Sehingga radio dapat difungsikan perannya untuk menjadi
RADIO PENDIDIKAN DI INDONESIA
Oleh : Kukuh Prihantoro Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY
BAB I
Pendahuluan
Radio adalah suatu alat atau sumber informasi dan hiburan yang luar biasa. Kita dapat mengikuti siaran radio sambil duduk-duduk minum kopi dan makan kue. Kita dapat mengikuti siaran radio sambil mandi. Kita dapat mengikuti siarna radio sewaktu menyiapkan sarapan, pagi, atau meracik bawang menjelang santap malam. Kita dapat mengikuti siaran radio bahkan sewaktu melakukan kegiatan gerak badan, jogging dan bahkan sambil tidur-tiduran dengan mata tertutup.
Radio memang merupakan sarana penyampai informasi dan hiburan yang serba mampu. Sambil berdesak-desakan dalam bis atua kereta api. Sekarang bahkan mungkin mengikuti siaran radio sewaktu mengayuh sepeda. Masih banyak lagi keadaan yang memungkinkan seseorang untuk mengikuti siaran radio.
Informasi hiburan dapat kita peroleh disini. Bagaimana dengan pendidikan ? Sekarang penggunaan radio lebih mengarah kepada hiburan. Sebagian sebagian besar mereka mengisi waktu siaran dengan musik dan musik.
BAB II
Pembahasan
1. Perkembangan Radio di Indonesia
Dari tahun ke tahun radio yang berdiri di Indonesia bertambah dengan pesatnya. Ada yang berkembang pada gelombang Am. Tetapi lebih banyak yang memilih mendirikan radio pada frekwensi Fm. Namun sebenarnya gelombang Am memiliki jangkauan lebih luas. Dari data situs nasional yang berskala internasional mencatat dan memantau bahwa perkembangan radio di Indonesia perkembangan radio sangat baik. Jumlah radio sekarang ini mencapai 1500 (seribu lima ratus) yang berjalan pada frekwensi 67.6 – 108.00 fm. Sekitar 50 radio sudah tidak mempublikasikan keberadaannya atau melakukan registrasi pada situs ini. Jumlah ini belum termasuk dengan radio-radio komunitas yang ada. Banyak pula pihak-pihak swasta maupun negeri yang mendirikan pada jalur Am karena sudah tidak tersedianya ruang dalam jaringan Fm.
Dengan melihat angka tersebut kita dapat menilai bahwa radio di Indonesia tumbuh dengan suburnya.
2. Pemanfaatan radio dalam pendidikan
- sebagai alternatif dalam penyebarluasan informasi pendidikan nonformal
Salah satu fungsi radio yang menarik berbagai segmen umur adalah radio sebagai media penyampai berita. Berbagai berita aktual yang terjadi di dalam negeri maupun luar negeri dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat melalui media radio. Untuk itulah, maka radio sebagai salah satu alternatif media massa patut menjadi pilihan bagi penyebarluasan informasi pendidikan non formal (PNF).
Pendidikan Non Formal memegang peranan yang strategis dalam Sistem Pendidikan Nasional, hal tersebut jelas tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003. Pendidikan Non formal memiliki kelebihan dibandingkan dengan pendidikan formal yaitu adanya keluwesan tempat, sasaran, waktu, dan program.
Salah satunya adalah radio PNF yang dipancarkan pada gelombang 107,6 FM, Medan. Segmen utama yang menjadi siaran radio PNF adalah siaran PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), siaran program Kesetaraan, dan siaran pendidikan masyarakat lainnya
- Siaran radio pendidikan untuk murid (SRPM)
Kegiatan ini dikenal sebagai SRPM-SD. Materinya disajikan dalam bentuk kaset audio dengan materi yang sulit dipahami oleh murid sekolah dasar.
Program yang telah dikembangkan yaitu mata pelajaran matematika, IPA, IPS, PPKN dan Bahasa Indonesia. Dalam mengikuti program ini murid sekolah dasar juga dilengkapo dengan MODUL sebagai bahan penyerta. Sampai dengan saat ini sedang dirintis penerapannya di 5 SD dalam Kabupaten Aceh Besar.
- Pendidikan dan pelatihan guru di daerah terpencil
Tanah air kita yang terdiri dari beribu pulau besar dan kecil serta memiliki wilayah yang sangat luas. Kondisi geografis yang demikian berakibat tidak meratanya kesempatan memperoleh pendidikan yang layak karena penyebaran guru-guru terutama guru-guru sekolah dasar sehingga mutu pendidikanpun kurang merata. Di kota-kota besar guru berlebih sedangkan di desa-desa terutama di daerah terpencil dan pedalaman sangat kekurangan guru.
Tujuan terpenting dalam Diklat SRP adalah meningkatkan kemampuan guru SD dalam cara mengajar dan penguasaan materi pengajaran, terutama bagi mereka yang tinggal di desa dan tempat terpencil dan juga memberi kesempatan untuk mencapai standar mengajar.
Beberapa hasil study yang telah dilakukan menunjukan bahwa program Diklat SRP mendapat respon yang baik dari guru-guru khususnya yang berada di daerah terpencil. Mereka menyadari akan pentingnya peningkatan kualifikasi sebagai tuntutan profesionalisme guru.
3. Peran pemerintah
Di Indonesia pendidikan sebagai upaya pembelajaran sepanjang hayat telah diamanatkan didalam Tap MPR Nomor : II/ MPR/ 1988. Disebutkan, pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan demikian pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah. “. Retno Sri Ningsih Satmoko (1999:65)
Dalam radio siaran pendidikan terdapat surat keputusan direktorat jendral pendidikan dasar dan menengah departemen pendidikan dan kebudayaan nomor : 239/c/kep/i/1992 tanggal 18 juli 1992 tentang Pedoman Pendidikan dan Pelatihan Guru SD melalui siaran radio pendidikan, yaitu
a. Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan professional gurusekolah dasar.
b. Memperluas kesempatan meningkatkan mutu profesional guru sekolah dasar yang belum mengikuti program penyetaraan
Pemerintah telah melakukan banyak hal dalam hal ini. Peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah menandakan bahwa pemerintah menaruh perhatian pada pendidikan dalam bentuk siaran radio.
4. Kendala Radio Pendidikan
Bagaimana perkembangan radio pendidikan di Indonesia sekarang ini? Ini mungkin pertanyaan yang muncul ketika meliat jumlah radio yang ada di Indonesia sekarang. Perkembangan yang terjadi pada radio pendidikan tidak sebanyak radio hiburan yang ada di Indonesia sekarang. Apakah yang salah dengan radio pendidikan yang ada di Indonesia sehingga tidak bisa berkembang. Banyak asumsi yang berkembang di masyarakat mengenai hal ini. Faktor-faktor yang bisa jadi pertimbangan dari kurang berkembangnya radio pendidikan di Indonesia, antara lain :
· Modal
Mendirikan radio pendidikan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Modal merupakan salah satu faktornya. Dana radio milik pemerintah tergantung pada APBD
· SDM
Dalam perkembangannya siaran radio pendidikan mempunyai sumber daya manusia dari pegawai negeri sipil (PNS). Dalam radio pendidikan, SDM ini saja tidak cukup.harus ada orang yang kompeten dalam bidangnya.
· Publikasi
Orang-orang menganggap bahwa radio pendidikan masih merupakan radio komunitas dimana para pendengar kurang bisa berkomunikasi atau melakukan interaksi.
· Manajemen
Radio Pendidikan tidak ada salahnya jika senantiasa gencar memutar “promo acara” agar siaran ini dapat diketahui. Karena melakukan koordinasi dengan stakeholders dan instansi terkait.
Meskipun banyak kendala yang menghadang dalam mengembangkan radio pendidikan, pemerintah tidak terus putus asa. Terbukti sudah banyak sekolah-sekolah dan instansi pemerintah yang berhasil mendirikan radio pendidikan. Dinas pendidikan dan kebudayaan Surabaya telah berhasil membangun radio pendidikan yang telah menelan dana sebesar 400 juta rupiah. Radio ini memberikan informasi pendidikan untuk pendidik, peserta didik, dan bidang-bidang terkait di dalam pendidikan.
Inovasi-inovasi terus dihadirkan untuk meningkatkan radio pendidikan. Dalam waktu dekat pemerintah melalui Menristek bekerja sama dengan UNESCO akan membuat radio internet. Radio internet merupakan kombinasi dari radio konvensional ditambah dengan fasilitas internet. Masyarakat setiap saat bisa menelepon ke radio tersebut untuk meminta informasi apa saja yang mereka butuhkan.
Penggunaan iklan tidak diperblehkan bagi radio pendidikan yang berada di bawah naungan pemerintah. Berbeda dengan radio pendidikan yang berstatus swasta. Ini dapat diatasi dengan barter dengan pertukaran program atau narasumber. Perekrutan karyawan yang kompeten dibidangnya bisa menjadi solusi radio pendidikan dalam mengembangkan siarannya.
Dari semua hasil yang didapat pemerintah belum bisa dikatakan berhasil. Masih banyak yang harus diperjuangkan agar radio pendidikan tidak kalah menarik dengan radio hiburan dan lebih baik dalam keseluruhan hal.
BAB III
Penutup
Dari tahun ke tahun radio yang berdiri di Indonesia bertambah dengan pesatnya. Jumlah radio sekarang ini mencapai 1500 (seribu lima ratus) yang berjalan pada frekwensi 67.6 – 108.00 fm. Pemanfaatan radio dalam pendidikan antara lain sebagai alternatif dalam penyebarluasan informasi pendidikan nonformal, Siaran radio pendidikan untuk murid (SRPM), Pendidikan dan pelatihan guru di daerah terpencil.
Pemerintah jaga telah melakukan usaha yang cukup maksimal untuk meningkatkan radio pendidikan. Didalam peran pemerintah untuk mengembangkan kebaradaan radio pendidikan tentu ada kendala yang menghambat. Kendala-kendala tersebut antara lain, modal, SDM, publikasi, dan manajemen. Namun dari kendala-kendala tersebut timbul motivasi yang besar untuk meningkatkan radio pendidikan di Indonesia.
Daftar Pustaka
- Bahan Siaran Radio Pendidikan Program Penyetaraan Guru SD dan Diklat SRP, Jakarta, Pustekkom.
- Gafur, Abdul Gafur, (1994), Laporan Hasil Penelitian Evaluasi Formatif
- ————, (1992), Himpunan peraturan dan Perundang-Undangan Bidang Pendidikan, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Educational radio broadcasting management : A Case Studies of Managing RAPENDIK at Surabaya
06.25.08
Radio yang Tidak Mencerdaskan
Oleh: Arif Wicaksono Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY (05105244004)
Pada era globalisasi saat ini. Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan dirinya yakni dari hubungan jaringan hingga pengetahuan. Banyak hasil yang telah dimunculkan. Karya penelitianpun muncul seolah tumbuhnya lumut dimusim hujan.
Media merupakan komponen yang penting dalam memberikan komunikasi kepada setiap orang baik yang berada di ujung belahan dunia maupun yang disamping kita. Media juga diartikan sebagai wadah dalam penyampaian informasi. Selain itu, media dibagi menjadi beberapa jenis yakni media cetak dan media elektronik. Media cetak mencakup surat kabar, majalah, tabloid dan lain sebagainya. Media elektronik meliputi televisi dan radio.
Radio merupakan revolusi di bidang telekomunikasi, sebelumnya komunikasi dilakukan melalui telepon dan telegraf yang di hubungkan melaui kabel, sedangkan melalui radio komunukasi wireless (tanpa kabel) dapat dilakukan. Radio seperti penemuan yang lain ditemukan melalui berbagai eksperimen dari banyak orang.
Pada tahun 1800, seseorang Profesor dari Universitas Princeton yang bernama Yoseph henry dan seorang fisikawan inggris yang bernama Michael Faraday bereksperimen dengan elektromagnet, dan menemukan teori induksi. Pada tahun 1864, James Clark Maxwell, seorang fisikawan Inggris yang lain, mencoba mengembangkan teori induksi yang dihubungkan dengan kecepatan cahaya. Bunyi teori maxwell adalah : Karena perubahan medan magnet dapat menimbulkan medan listrik, maka sebaiknya perubahan medan listrikpun akan dapat menimbulkan medan magnet.
Akan tetapi maxwell belum dapat membuktikan hipotesanya selama hidupnya. Orang yang pertama kali menguji hipotesa. Maxwell mengenai gelombang elektro magnetic ini adalah Heinrich hertz, seorang fisikawan Jerman. Ia berhasil membuktikan teori Maxwell pada tahun 1880, dengan menggunakan kumparan Ruhmkorf. Pada tahun 1895, Guglielmo marconi, seorang penemu dari Italia, mengkombinasikan teori-teori yang sudah ada (tentang elektromagnetik) dengan idenya sendiri. Ia adalah orang pertama yang mengirimkan sinyal radio melalui udara. Ia menggunakan gelombang elektro magnetic untuk mengirim kode sinyal telegraf dalam jangkauan lebihdari 1,5 Km.
Televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.
Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun perusahaan. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun.
Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, yaitu hukum Gelombang Elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.
Radio memiliki karakteristik yang berbeda dengan media elektronik lainnya. Ini dapat dilihat dari kemampuannya untuk menciptakan panggung teater dalam imajinasi setiap pendengarnya. Radio dapat berbicara langsung dengan pendengar. Radio memiliki ‘positioning’ bagi pendengar mereka di antara radio lainnya. Pada saat terjadi sebuah peristiwa, radio dapat menyampaikannya kepada pendengar secara langsung dari lokasi peristiwa berupa Reportase.
Radio dalam pelaksanaannya lebih murah. Dapat selalu menjaga stabilitas aktivitas. Lebih luas dalam jangkauannya apalagi didukung dengan satelit serta dapat didengar serentak.
Di samping itu, radio memiliki kelemahan. Radio hanya dapat menampilkan audio saja. Media pelengkap dalam aktivitas. Selintas dalam menampilkan serta ketidakmampuan secara detail dalam menyampaikan segala informasi.
Pada tahun 60-an radio memegang peran penting dalam perkembangan pendidikan kita. Program yang diberikan memiliki kualitas edukasi yang tinggi. Selain itu, radio memiliki fungsi yang sangat strategis.
Dalam perkembangan saat ini radio sudah berubah fungsi yang pada hakekatnya radio memiliki peran seimbang dalam menampilkan hiburan, edukasi dan informasi. Namun, pada saat ini kita dapat mendengar sebagian besar radio khususnya pada radio swasta. Radio swasta tidak dapat menyeimbangkan antara hiburan, edukasi dan informasi. Mereka lebih memprioritaskan hiburan yang lebih banyak prosentasenya ketimbang edukasi dan informasi.
Radio sebagai sarana pendidikan sangatlah penting dalam pengembangan bangsa ini. Dalam pembukaan UUD’45 telah jelas diungkapkan tujuan bangsa kita yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu,upaya pembelajaran sepanjang hayat telah diamanatkan didalam Tap MPR Nomor : II/ MPR/ 1988. Disebutkan, pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan demikian pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah. “. Retno Sri Ningsih Satmoko (1999:65).
Namun,hal ini belum terpenuhi malahan menjadi penurunan dari nilai yang ada. Program yang diberikan semuanya hiburan tidak ada yang memprioritaskan pendidikan. Sehingga ada pepatah yang mengatakan siapa yang berkuasa maka dia berhak mengatur semuanya.
Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat memberikan sebuah apresiasi karya. Radio merupakan karya yang sangat strategis. Dimanapun dan kapanpun serta siapapun radio dapat diakses. Mari kita bersama membangun dan memperbaiki program radio yang telah ada kemudian disesuaikan dengan tujuan pendidikan kita.
Referensi
Darmanto, 2005. Himpunan Materi Pelatihan Bidang Radio Siaran. Yogyakarta: DEPKOMINFO-BPPI wilayah IV Yogyakarta.
A, Darmanto, 2008. Produksi Program Audio.
Panuju, Redi, 2005. Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik. Bayumedia Publising.
Harian Suara Merdeka edisi 13 September 2005
http://dlibrary.tifafoundation.org/download/download.php?dlid=50
http://kurtek.upi.edu/media/sources/2-%20klasifikasi%20media.pdf
http://mbeproject.net/siaran.html
http://wrm-indonesia.org/content/view/835/3/
http://v3.bhawikarsu.net/article_read.asp?id=116
Karya ini adalah karya saya http://arhiefstyle87.wordpress.com email: arhief_style87@yahoo.com ) sendiri bukan plagiat, kecuali bagian yang memang sudah disebutkan dalam daftar pustaka.
Optimalisasi Radio Pembelajaran
Oleh: Mohammad Triargho Alfalah Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
A. Fakta radio Indonesia
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17504 pulau. Dari jumlah kepulauan tersebut dapat dilihat pasti ada masalah pemerataan di Indonesia. Media radio termasuk media yang dapat dilihat dari hasil tidak meratanya pembangunan infrastruktur media massa di Indonesia karena Radio sangat efektif pada daerah-daerah terpencil yang belum dibangun Pemancar Stasiun TV sebagai sumber Informasi.
“So I listen to the radio, All the songs we used to know” ,salah satu kutipan lagu The corrs tersebut memang menggambarkan radio sebagai media hiburan musik. Hal itu juga dapat dilihat Di kota-kota besar seperti Jakarta, jogja dan Bandung terdapat puluhan bahkan ratusan stasiun Radio yang mengudara baik radio swasta maupun lembaga penyiaran publik. Radio-radio tersebut kebanyakan memberikan hiburan musik ketimbang informasi penting ataupun Program Siaran Pembelajaran.
Perijinan radio di Indonesia masih menjadi kendala, beberapa radio mengeluhkan perijinan radio di Indonesia karena tidak dapat menjadi lembaga publik, maka dari itu kebanyakan mereka menjadi radio swasta. Hal tersebut berdampak pada program yang disiarkan. Program yang disiarkan radio kebanyakan dikota-kota besar hanya mencari siaran yang menguntungkan atau banyak didengar yaitu hiburan musik. Jadi radio sebagai penyampaian Informasi dan media Pembelajaran masih dirasa kurang penggunaannya di Indonesia.
Ada beberapa radio Pendidikan di Jogjakarta seperti radio anak jogja, radio edukasi dll. Radio tersebut memberikan informasi pendidikan. Radio tersebut memiliki segmen para pebelajar. Radio seperi inilah yang dapat membangkitkan radio sebagai media informasi yang dapat mengisi pengetahuan masyarakat baik dikota besar maupun daerah-daerah terpencil. Akan tetapi keluhan perijinan, SDM, Segmentasi, Siaran program berkelanjutan menjadi kendala yang terus diupayakan demi kemajuan bangsa.
B. Pemanfaatan Radio sebagai media Pembelajaran
Radio adalah media audio uang penyampaian pesannya dilakukan melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu pemancar. Pemberi pesan (penyiar) secara langsung dapat mengkomunikasikan pesan atau informasi melalui suatu alat (microfon) yang kemudian diolah dan dipancarkan ke segenap penjuru melalui gelombang elektromagnetik dan penerima pesan (pendengar) menerima pesan atau informasi tersebut dari pesawat radio di rumah-rumah atau para siswa mendengarkannya di kelas-kelas.
Menurut kurikulum teknologi pendidikan UPI dalam e-booknya kelebihan media radio yaitu:
a. Memiliki variasi program yang cukup banyak
b. Sifatnya mobile
c. Baik untuk mengembangkan imajinasi anak
d. Dapat lebih memusatkan perhatian siswa terhadap kata, music sehingga cocok untuk MP bahasa
e. Jangkauannya luas, sehingga dapat didengar oleh massa yang banyak
f. Harganya relatif murah
Beberpa kelebihan diatas dapat djadikan alasan mengapa memilih radio sebagai media pembelajaran.
Menurut salah satu artikel di Koran Courrier International edisi No. 811 pada bulan May 2006 yang lalu, jumlah waktu menonton TV pada anak-anak yang berlebihan ternyata dapat menurunkan daya imaginasi anak-anak. Hal ini dapat kita lihat bersama pada dua gambar berikut yang dibuat oleh dua orang anak yang berbeda :

1. Gambar yang dibuat oleh seorang anak dengan jumlah jam menonton tv < (kurang) dari 3 jam per hari
2. Gambar yang dibuat oleh seorang anak lagi dengan dengan jumlah jam menonton tv > (lebih) dari 3 jam per hari
Dari hasil penelitian tersebut jelas kita dapat melihat bahwa radio memiliki keuntungan dapat mengembangkan daya imajinasi anak yang selanjutnya dapat meningkatkan kreativitas anak
C. Mengatasi Kelemahan Radio
Media pembelajaran selain dapat membantu karena memliki kelebihan juga memiliki kekurangan karena karakteristik media tersbut. Media radio pun memiliki kekurangan. Yaitu:
Kelemahan Media Radio
1. Sifat komunikasinya hanya satu arah (one way communication).
2. Jika siarannya monoton akan lebih cepat membosankan siswa untuk mendengarkannya.
3. Program siarannya selintas, sehingga tidak bisa diulang-ulang dan disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa secara individual.
Dari kelemahan tersebut perlulah dibuat solusinya untuk membangkitkan eksistensi radio yang juga memiliki kelebihan yang tidak hanya sebagai hiburan music. solusi dari permasalahan kelemahan media tersebut yaitu:
1. Sifat komunikasinya hanya satu arah (one way communication).
Solusi: perlu adanya peralatan tambahan yatiu alat telekomunikasi yang dapat mengatasi masalah komunikasi satu arah seperti Telefon, masalah komunikasi ini dapat digabungkan dengan program-pogram tertentu dengan sesi atau waktu yang disesuaikan dengan segmen. Comtohnya: waktu pagi tidak cocok untuk berkomunikasi dengan segmentasi pekerja yang lagi sibuk bekerja. Waktu pagi dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan siswa yamg memiliki mata pelajaran tertentu. Komunikasi ini juga diperlukan hubungan erat antara pemilik radio dengan masyarakat dan sekolah
2. Jika siarannya monoton akan lebih cepat membosankan siswa untuk mendengarkannya.
Solusi: perlu adanya peningkatan kualitas SDM dalam menghasilkan program yang berkualitas, SDM dikumpulkan dari berbagai ahli seperti ahli desain naskah media, Ahli materi, Ahli komunikasi. Jika ahli tersebut berkolaborasi maka siaran monoton akan teratasi
3. Program siarannya selintas, sehingga tidak bisa diulang-ulang dan disesuaikan dengan kemampuan belajar siswa secara individual
Solusi: program radio termasuk media pembelajaran Audio. Pada alar radio-radio tertentu terdapat fungus merekam suara dari siaran radio. Hanya denga membeli kaset kosong siaran radio dapat direkam dan menjadi program audio yang dapat mendukung pembelajaran Individual
D. Upaya peningkatan Radio pembelajaran
Upaya peningkatan radio pembelajaran sebaiknya dilakukan tidak hanya oleh pihak stasiun radio saja tetapi juga dilakukan oleh pihak pemerintah dan masyrakat
Dari pihak stasiun radio, upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan radio pendidikan yaitu:
§ Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia
§ Mengadakan kerjasama Intensif fan bekelanjutan dengan pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah
§ Melakukan penelitian pengembangan program
Dari pihak masyarakat, yaitu:
§ Mengubah pemikiran bahwa radio tidak sekedar hiburan musik melainkan penyampaian informasi
§ Berpartisipasi dalam program yang diadakan radio pembelajaran setempat
§ Pihak sekolah dapat mengadakan kerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran sekolah
Dari pihak pemerintah, yaitu:
§ Mendukung pendirian Radio Pembelajaran
§ Mempermudah perijina
E. Menjaga Eksistensi Radio Pembelajaran
Untuk menjaga eksistensi radio pembelajaran yang perlu dilakukan adalah:
§ Melakukan penelitian berkelanjutan untuk mengembangkan program sesuai perkembangan zaman
§ Mengupgrade SDM
Daftar pustaka
Sabtu, 21 juli, 08.00 wib
http://kurtek.upi.edu/media/sources/2-%20klasifikasi%20media.pdf
POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
Oleh : Afi Julantari Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY
Perkembangan teknologi informasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran. Menurut Rosenberg dengan berkembangnya teknologi informasi ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu : (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas bisa dimana aja dan kapan saja, (3) dari kertas ke on-line atau saluran, (4) Dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media komunikasi seperti, telephon, komputer, internet, media cetak maupun media electronik dsb. Interaksi guru dengan siswa tidak hanya bisa dilakukan dengan tatap muka dikelas akan tetapi bisa juga dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus bertatap muka dengan siswa, begitu juga dengan siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup luas dengan menggunakan media – media tersebut diantaranya media Radio. Media ini dapat menjangkau populasi pendengar yang lebih banyak dengan jarak jauh dan waktu yang lebih cepat, serta biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan media-media lain, sehingga pendidikan melalui media radio lebih efektif dan efisien. Secara sosio cultural, radio lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang tidak memiliki tradisi kuat dalam membaca. Seperti kata Rudi Hofmanm, transformasi cultural masyarakat Indonesia dari tradisi lisan tahap I melompat ke lisan tahap II ( audio visual ), dan tidak melewati tradisi membaca seperti terjadi dinegara-negara maju. Pendidikan melalui radio harus merupakan kebulatan sistem penyajian (total delivery sistem). Siaran radio pendidikan saja bukan merupakan suatu sistem penyampian delivery sistem. Untuk itu ada beberapa komponen penting dalam sistem penyampaian ini adalah :
- Kurikulum (segala kegiatan yang diberikan kepada anak didik)
- Acara dan metode siaran yang diatur
- Tempat kegiatan belajar yang dilengkapi dan diawasi oleh seorang pembina pendidikan monitoring kegiatan dan kemajuan anak.
- Evaluasi kemajuan[1]
Media komunikasi masa merupakan suatu komponen integral dalam sistem pendidikan nasional. Sistem ini dikukuhkan dengan nama teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan. Sejak tahun 1951 telah ada program pendidikan melalui radio yang terutama ditujukan kepada pelajar pejuang kemerdekaan tetapi karena berbagai faktor penghalang prorgam ini terhenti. Kini kita harus mengunakan teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan karena kita sangat membutuhkannya. Namun sayang, saat ini siaran radio banyak memuat program hiburan dan mengesampingkan program pendidikan. Misalkan saja Radio Pro 2 jogja yang terletak di Jl. Affandi Depok, Sleman Yogyakarta. Berikut cuplikan program siaran radio Pro 2 jogja dalam bentuk persentase :
Hiburan 45%
Berita dan Informasi 30%
Pendidikan 5%
Kebudayaan 5%
Iklan/yanmas/acara penunjang 15%
Dengan klasifikasi siaran tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa media radio kita saat ini lebih mengutamakan dunia hiburan dari pada dunia pendidikan, dimana dunia hiburan mendapat porsi 45% sedangkan dunia pendidikan hanya 5%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih suka mendengar atau melihat acara hiburan dari pada mendengar atau melihat acara yang bertajuk pendidikan.
Terlepas dari itu, jika media dapat dipergunakan secara efektif dan efesien, sudah barang tentu dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan diIndonesia. Menurut Ely potensi teknologi dan komunikasi dalam peningkatan mutu pendidikan sebagai berikut :
- Meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan mempercepat tahap belajar, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik, mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
- Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisioanal, memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan kemampuanya.
- Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pelajaran dengan jalan perencanaan program pengajaran yang lebih sistematis, pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi tentang pernelitian perilaku.
- Lebih memantapkan pengajaran, meningkatkan kapabilitas manusia dengan berbagai media komunikasi, penyajian informasi dan data secara lebih konkrit.
- Memungkinkan belajar secara seketika karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pelajaran didalam dan luar sekolah, memberikan pengetahuan langsung.
- Memungkinkan penyajian pedidikan lebih luas terutama adanya media masa dengan jalan pemannfaatkan bersama (secara lebih luas tenaga atau kejadian yang langka, penyajian informasi menembus batas geografi ).[2]
Dengan demikian pemanfaatan media secara efektif dan efesien harus dilaksanakan seluruh kalangan, baik pemilik media itu sendiri maupun seluruh penikmat media. Agar siaran radio lebih efektif dan efisien diperlukan alternatif sebagai berikut :
- Menyusun Program
- Melaksanakan analisis model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
- Melaksanakan perancangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
- Melaksanakan pembuatan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
- Menyusun rekomendasi hasil pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
- Menyelenggarakan evaluasi pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
- Melaksanakan pengelolaan, sarana, peralatan dan bahan pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
- Melaksanakan layanan teknis pengembangan model dan format sajian media audio/radio untuk pendidikan.
- Melaksanakan urusan ketatausahaan balai; dan
- Menyusun laporan balai
Dengan menggunakan media dan teknologi, kita dapat memperluas jangkauan pelayanan pendidikan. Penggunaan media dan teknologi untuk memperluas jangkuan pendidikan ini dapat dibedakan menjadi dua pendekatan yaitu pelajaran jarak jauh dan penrluasan sekolah[3]. Pelajaran jarak jauh ( distance learning ) pada umunya mempunyai karakteristik dapat diperolehnya bahan pelajaran dengan menembus hambatan jarak dan kondisi geografis, waktu dan tempat belajar yang hampir sepenuhnya dapat diatur sendiri terutama dengan bantuan peralatan yang sesuai, proses belajar lebih menekankan pada kegiatan dan kemampuan individual, serta biaya yang lebih rendah dari pada cara belajar yang lain. Kinyanyui melaporkan penggunaan media radio dan korespondensi untuk penataran guru di Kenya. Pelajaran jarak jauh di Kenya ini mulai pada tahun 1968 setelah direncanakan sejak tahun 1964. sasaran utama adalah guru sekolah dasar yang seluruhnya berjumlah 37.923 orang, tetapi yang 10.438 diantaranya tidak mempunyai kualifikasi sebagai guru, sedangkan 16.992 yang dianggap mempunyai kualifikasi hanya mendapat pendidikan profesional selama 2 tahun sesudah tamat pendidikan dasar. Pelayanan yang diberikan meliputi bahasa ( Inggris dan Swahili ) sejarah, ilmu bumi dan matematika, biologi dan ilmu pengetahuan alam. Media yang dipakai adalah korespondensi dan radio. Evaluasi yang dilakukan antara lain menunjukkan bahwa persentase jumlah lulusan mereka yang mengikuti sekolah guru yang reguler ( pada tahun 1970 siswa reguler yang lulus sebanyak 47%. Sedangkan dari program ini sebanyak 51%). Sedangkan dari semua guru yang tidak mempunyai kualifikasi ternyata 82% dapat menamatkan pendidikan jarak jauh ini dan memperoleh sertifikat mengajar dalam waktu satu tahun.
Suatu pendekatan lain dari perluasan jangkauan pelayanan pendidikan adalah perluasan sekolah. Cara ini mempunyai struktur yang lebih mendekati sekolah formal. Bedanya hanya dalam penggunaan sumber dan fasilitas yang lebih bebas serta organisasi yang lebi luwes. Contohnya adalah SMP terbuka, yang pada saat ini masih berupa perintisan diberbagai daerah yaitu : Kalianda, Lampung, Plumbon, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalisat Jember, Terara, dan Nusa Tenggara Barat ).
Kesuksesan dalam penyampaian siaran pada dasarnya ditentukan oleh ketepatan pemilihan media. Oleh karena itu dalam memilih media penyampaian perlu kehati hatian, karena kesalahan dalam memilih media akan mengakibatkan tujuan kita tidak tercapai. Bagaimana agar kita tidak salah dalam memilih media penyampaian ? berikut cara yang dapat kita gunakan.
Gambaran menyeluruh proses pemilihan media
Tentukan isinya :
|
Media Tidak Tepat
|
|
Pembelajaran |
|
Informasi |
|
Lihat Appendix Diagram |
![]() |
|||
![]() |
|||
LANGKAH 1
|
Tentukan Metode Transmisi |
![]() |
![]()
LANGKAH 2
|
Alat Bantu Intruksional |
|
Diagram Ia- Ib Tentukan ciri -ciri Khas Mata Pelajaran |
|
Media Intruksional |
|
Diagram Ic- Id Tentukan ciri ciri Khas Mata Pelajaran |
![]() |
![]() |
LANGKAH 3
|
Pilihlah Media dari Golongan alat bantu Intruksional |
|
Pilihlah media dari Golongan media Intruksional |
![]() |
![]() |
||
LANGKAH 4
|
Tinjau kembali keku Rangan dan kelebihan Media terpilih leng Kapi langkah 1 dari Daftar cetak |
|
Tinjau kembali keku Rangan dan kelebihan Media terpilih leng Kapi langkah 1 dari daftar cetak |
|
Media Tidak tepat
|
![]() |
|||
![]() |
|||
LANGKAH 5
|
Media Tepat |
|
Media Tepat |
|
Tinjau kembali bagian tes pengem Bangan dan kem Bangkan bahan dengan menggunakan Daftar cek |
![]() |
|||
LANGKAH 6
Penjelasan flow chart :
Langkah Pertama :
Anda menentukan apakah pesan anda bersifat pembelajaran atau informasi.
Langkah kedua :
Anda menentukan bagaimanan caranya anda mentransmisikan pesan anda apakah ini media untuk membantu seseorang instruktur ataukah suatu media yang menunjukkan terjadinya pembelajaran mandiri atau kelompok tanpa seorang instrukturpun.
Langkah ketiga :
Dengan menggunakan diagram IA dan IB atau IC dan ID, anda akan dibantu untuk menentukan ciri-ciri pelajaran anda, dan selanjutnya memperkecil jumlah pilihan media serta membimbing anda menentukan golongan media tertentu yang cocok untuk tujuan instruksional anda.
Langkah keempat :
Anda harus beralih kediagram 2 untuk menentukan media yang paling sesuai dalam kategorinya, yaitu media yang paling cocok bagi populasi siswa. Kapasitas produksi setempat, fasilitas, kebijakan dan dana.
Langkah kelima :
Anda kembali kemedia yang pertamakali dan kemudian mempelajari daftar ciri-ciri khas dari media ini, serta keterbasan dan kelebihannya dalam penyajian jika media itu nampaknya memadai, maka anda harus melengkapi bagian pertama dari daftar cek. Ini berarti anda harus meminjam kembali kemudian menyaring pilihan anda. Tetapi jika setelah diproses (disaring), ternyata media itu tak sesuai, maka kembalilah kelangkah keempat, dan tentukan pilihan lain dari daftar yang sama, sekali lagi, periksalah daftar cek untuk media itu sampai anda betul – betul yakin dan puas bahwa media itu betul – betul cocok untuk kondisi pembelajaran anda.
Langkah keenam :
Setelah memiliki media yang cocok, maka anda masuk kelangkah yang keenam, yakni merencanakan tes pengembangan bagi media tersebut juga bagi bahan – bahan pelajaran anda.[4]
Perkembangan perpustakaan dan teknologi informasi saat ini termasuk siaran radio dan televisi turut mengembangan kesempatan dan kesanggupan belajar sendiri tanpa selalu mendapat bimbingan dari guru. Beberapa alasan mengapa kita menggunakan media radio :
1. Siaran dapat membawa dunia luar kedalam kelas yang menyamai pengalaman langsung.
2. Siaran merupakan sumber informasi yang paling mutakhir dalam bentuk yang mudah dipahami disamping buku, film, gambar dll.
3. Siaran menciptakan suasana yang menyenangkan, merangsang dan membangkitkan ide-ide baru.
4. Siaran dapat memberikan informasi yang tidak segera dapat diberikan oleh guru dan tidak dapat disajikannya dalam bentuk yang dapat menyamai siaran itu.
5. Cara penyajian oleh siaran sangat hidup, menarik dan mengundang keterlibatan anak kedalam peristiwa – peristiwa yang diperlihatkan.
6. Siaran dapat menyampaikan hal-hal yang tidak dapat disajikan ( seperti musik, kebudayaan, kesenian dan sebagainya ).
7. Siaran dapat mengembangkan kesanggupan dan keterampilan atau teknik untuk melihat dan mendengarkan.[5]
Pelajaran dengan siaran radio akan lebih efektif bila lebih dahulu dipersiapkan dan kemudian diadakan kegiatan evaluasi. Bila langsung digunakan siaran radio guru harus berusaha menyesuaikan diri dengan jadwal pelajaran. Jika ada kemungkianan untuk merekamnya maka guru tidak terikat waktu siaran selain itu guru dapat lebih dahulu mendengarkan atau melihatnya sebelum disajikan kepada murid. Cara ini besar faedahnya bagi kegiatan follow up dan untuk meminimalisir siaran yang tidak bermanfaat .
Tiada maksud penulis untuk menggurui, akan tetapi penulis hanya berharap semoga karya ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembaca untuk mengembangkan dunia pendidikan yang berbasis teknologi sebagaimana yang terjadi dinegara-negara maju.
Daftar Pustaka
Arif S. Sadiman (dkk), 2002, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Ely,Donald P, 1979 , Instructional design and Development : P articipant’s notebook, Jakarta ( Education Technologi Modul 2.1 )
H. Anderson, Tim Penerjemah, Yusufhadi Miarso, 1994, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Nasution , 1999, Teknologi Pendidikan, Jakarta : PT Bumi Aksara
Yusufhadi Miarso, 1984, Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali
PERNYATAAN
BAHWA KARYA INI SEPENUHNYA KARYA SAYA ( BUKAN PLAGIAT ) KECUALI BAGIAN YANG MEMANG SUDAH DISEBUTKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA.
[1] Yusufhadi Miarso, 1984, Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali
[2] Ely,Donald P, 1979 , Instructional design and Development : P articipant’s notebook, Jakarta ( Education Technologi Modul 2.1 )
[3] Arif S. Sadiman (dkk), 2002, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
[4] H. Anderson, Tim Penerjemah, Yusufhadi Miarso, 1994, Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
[5] Nasution , 1999, Teknologi Pendidikan, Jakarta : PT Bumi Aksara
PERAN RADIO PENDIDIKAN
Oleh: Erna Yulikah Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UNY
A. Latar Belakang
Instansi pendidikan adalah instansi yang cukup terpandang dalam mencetak generasi penerus bangsa. Yang merupakan pabrik atau industri pencetak orang-orang berkualitas, mempunyai kemampuan lebih dan menjadi orang yang terpandang. Nama yang cukup popular dan terhormat itulah yang harus selalu dijaga agar dapat mempertahankan imagenya agar selalu eksis menjadi lembaga pencetak orang-orang ternama. Bagaimana mempertahankan image itu?
Untuk kemajuan bangsa banyak dilakukan inovasi dalam dunia pendidikan, salah satunya dalam hal media pendidikan. Di era sekarang banyak orang berbicara tentang multimedia, banyak pendidik yang berbondong-bondong menerapkan media tersebut dalam proses belajar mengajar di kelas. Tetapi banyak juga yang belum paham bagaimana penerapannya? Multimedia yang seharusnya menerapkan lebih dari satu media, tetapi masih banyak yang hanya menitikberatkan pada satu media saja yang mereka pandang menarik. Mereka lupa bahwa karakteristik siswa itu selalu berbeda. Hasil yang dicapai bukannya maksimal tetapi justru membosankan dan monoton serta siswa banyak yang sukar menyerap materi.
Salah satu jenis media pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah media audio. Sekarang ini media audio khususnya radio sudah banyak ditinggalkan, jarang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Media audio kalah bersaing dengan media-media yang baru bermunculan. Padahal kalau kita jelajahi tentang seluk beluk media ini sangat menarik. Memang media ini mempunyai beberapa kelemahan, tetapi kalau kita perhatikan media lain juga mempunyai kelemahan. Sekarang ini tergantung pada materi apa yang akan disampaikan dan pemikiran mengenai media apa yang cocok?
Untuk mempertahankan eksistensi media audio dalam dunia pendidikan khususnya harus ada inovasi sendiri khususnya dalam diri media tersebut. Titik lemah media harus diperhatikan oleh para perancang media agar media ini menuju ke arah perfect. Karena kalau kita sedikit menoleh pada salah satu teori yang mengatakan bahwa kita akan menghabiskan waktu kita di sekolah untuk belajar sebesar 50% bagi siswa sekolah menengar dan 90% bagi kalangan perguruan tinggi melalui indera pendengaran kita. Berangkat dari teori ini seharusnya keberadaan media audio dalam dunia pendidikan tetap diakui dan selalu berkibar, bukannya semakin meredup.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana peranan radio pendidikan dalam dunia pendidikan?
PEMBAHASAN
Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Menurut pendapat Gerlach & Ely yang dikutip oleh Azhar Arzhad (1997:3) media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketranpilan atau sikap.
Proses belajar mengajar dapat diibaratkan sebagai proses komunkasi. Di mana dalam proses ini ada proses penyampaian pesan antara pendidik dengan peserta didik melalui perantara tertentu. Komunikan, komunikator, pesan, dan perantara atau media adalah bagian dari komunikasi. Dalam proses komunikasi akan terjadi hubungan yang efektif jika pesan yang disampaikan jelas. Begitu pula dalam proses belajar mengajar, tranfer ilmu akan mudah terlaksana jika dikomunikasikan dengan baik. Dengan media akan mempermudah penyampaian informasi atau materi dalam proses belajar mengajar karena media mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:
1. Memperjelas penyajian pesan.
2. Mengatasi keterbasan ruang, waktu dan daya indera.
3. Membantu mengatasi kepasifan anak didik karena dengan media dapat merangsang dan menimbulkan interaksi antara guru dan siswa.
Radio Pendidikan
Media radio identik dengan indera pendengaran. Informasi atau pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam lambang auditif. Karena penyampaian informasinya melalui radio, media ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap perasaan pendengarnya. Di sini pendengar seolah-olah ikut terlibat dalam dialog atau program yang sudah dikemas untuk menyampaikan materi atau informasi.
Radio merupakan media yang dinamis dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Hal ini selaras dengan fungsi radio sebagai media hiburan dan informasi. Informasi sewaktu-waktu selalu berubah, setiap hari bahkan bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Fungsi media yang seperti ini yang dipandang efektif dan mempunyai sumbangan yang besar dalam kemajuan pendidikan di negara kita. Dunia pendidikan juga selalu menuntut sesuatu yang baru, informasi yang aktual sesuai dengan tuntutan dunia pendidikan.
Radio melalui siarannya dapat menyampaikan pengajaran secara efektif, dapat menambah pengalaman dan pengetahuan serta dapat menimbulkan motivasi belajar siswa. Bentuk siarannya dapat berupa ceramah, cerita, wawancara, sandiwara, dan sebagainya. Radio tidak boleh kita remehkan, melalui radio kita dapat menangkap dan mengerti berbagai suara manusia serta bunyi lain yang ada hubungannya dengan masalah pembelajaran. Terkadang di kelas terjadi keributan yang ditimbulkan oleh suara kendaraan di jalan atau ceramah guru yang semakin monoton, tetapi dengan materi yang dikemas sedemikian rupa menjadi program audio dapat mengatasi kejenuhan siswa dalam mendengarkan dan memperhatikan materi yang disampaikan. Karena dalam menyusun atau mengemas materi pembelajaran ke dalam bentuk audio terlebih dahulu perancang pembelajaran telah mengadakan identifikasi dan mengamati karakteristik siswa sehingga pada penerapannya menjadikan siswa mudah dan asyik dalam proses belajar mengajar.
Peranan Radio dalam Dunia Pendidikan
Radio merupakan salah satu sumber bahan ajar yang ekonomis, menyenangkan, dan mudah disiapkan. Dapat berfungsi sebagai media pembelajaran untuk belajar mandiri. Dengan kemasan materi yang menarik akan merangsang daya imajinasi anak, sehingga mereka akan terlihat aktif dan merangsang kreativitas anak. Media ini juga dapat membantu bagi audience yang mengalami buta huruf, karena penyajiannya mengandalkan audio, suara, atau bunyi.
Dalam dunia pendidikan radio juga memberi kontribusi yang cukup besar, misalnya saja untuk menyampaikan informasi ke desa atau pelosok negeri yang belum terjangkau dengan fasilitas-fasilitas elektronik yang modern, radio dapat menyampaikan informasi tersebut dengan mudah merambah ke segala penjuru negeri. Selain alasan ekonomis, radio juga mudah kita akses di segala penjuru termasuk di daerah terpencil sekalipun. Dalam penyajiannya atau penyampian pesannya lewat radio dapat dilakukan secara serempak, dalam waktu yang sama di beberapa daerah yang berbeda. Tidak hanya terbatas pada informasi untuk pendidikan saja, radio juga menawarkan berbagai hiburan baik itu melalui musik atau melalui drama radio.
Penggunaan radio dalam proses pembelajaran tidak terbatas pada satu sisi kemampuan saja. Dalam proses belajar mengajar radio dapat digunakan untuk tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk tujuan kognitif, radio dapat digunakan untuk mengajarkan pengenalan kembali, misalnya latihan belajar mengingat, mengucapkan kata, mendengarkan bunyi, dan sebagainya. Untuk tujuan afektif, misalnya suasana dapat diciptakan memelui musik, efek suara, atau suara narator. Sedangkan untuk tujuan psikomotor, radio dapat digunakan untuk mengajarkan ketrampilan verbal.
Radio sangat mendukung dalam proses belajar yang notabene seperti pendapat Sanford E. Taylor (John D. Latuheru 1988:68) bahwa di Sekolah Dasar dan Menengah bahkan di Perguruan Tinggi, sebagian besar waktu di dalam kelas digunakan melalui proses pendengaran atau dengan menggunakan indera dengar atau telinga. Sehingga kalau di dalam dunia pendidikan dapat memanfaatkan radio dengan maksimal maka radio dapat menggantikan posisi guru atau pengajar, mereka tidak perlu panjang lebar ceramah di depan kelas yang belum tentu materi yang disampaikan terserap oleh semua siswa.
Heinich, Molendan, dan Rusel juga berpendapat (John D. Latuheru 1988:68) bahwa siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah menghabiskan sekitar 50% waktu untuk mendengarkan pelajaran di sekolah. Di Perguruan Tinggi 90% dari waktu yang digunakan untuk mendengarkan materi perkuliahan, ceramah, diskusi, atau seminar. Dari pendapat ini juga dapat disimpulkan bahwa radio atau media audio lainnya mempunyai peluang yang cukup besar untuk membawa pendidikan di suatu negara ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Sedangkan menurut Arif Sadiman dkk (1986:51-53) berpendapat bahwa media radio mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media yang lain, yaitu:
· Harganya relatif murah dan variasi programnya lebih banyak daripada TV.
· Sifatnya mudah dipindahkan (mobile). Radio dapat dipindah-pindahkan dari satu ruang ke ruang lain dengan mudah.
· Jika digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal.
· Radio dapat mengembangkan daya imajinasi anak.
· Dapat merangsang partisipasi aktif dari pendengar.
· Radio dapat memusatkan perhatian siswa pada kata-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya.
· Siaran lewat suara terbukti amat tepat/cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa.
· Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu secara lebih baik.
· Radio dapat mengerjakan hal-hal tertentu yang tidak dapat dikerjakan oleh guru.
· Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, jangkauannya luas.
Hambatan Radio sebagai Media Pembelajaran
Setiap media tidak lepas dari kekurangan, termasuk media radio. Media radio juga mempunyai beberapa kelemahan yang harus diperhatikan agar media ini semakin perfect. Kelemahan tersebut antara lain:
1. Karena sifatnya yang auditif, dalam penggunaan media ini harus benar-benar konsentrasi khususnya indera pendengaran kita karena hanya sekilas saja, tidak ada siaran ulang.
2. Media ini belum mampu untuk menyajikan hal-hal yang sifatnya kompleks seperti rumus-rumus matematika, fisika, dan kimia sehingga kurang efektif jika diterapkan pada materi yang sifatnya berhitung.
3. Materi yang disajikan kurang mendalam.
4. Tidak dapat diterapkan pada audience yang mengalami gangguan dengan pendengaran, karena radio membutuhkan konsentrasi yang cukup pada indera pendengar.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Radio adalah salah satu media pembelajaran yang dipandang efektif untuk membantu mempermudah prose belajar mengajar berlangsung. Media yang sangat merakyat pada masyarakat kita. Sehingga dengan adanya radio akses informasi bagi masyarakat tidak terhenti hanya pada mereka yang mampu mengakses atau mereka yang mempunyai uang yang lebih. Tetapi kini dengan radio semua lapisan masyarakat dapat menikmati, mengakses informasi dengan mudah.
Kemudahan akses informasi ini akan membantu untuk mewujudkan tujuan pendidikan di negara kita. Serta dari beberapa pendapat para tokoh besar dunia mengatakan bahwa sebagian besar murid memperoleh informasi dari proses pendengaran. Dari pendapat ini, radio mempunyai peluang yang besar untuk membantu mensukseskan pendidikan nasional. Keberadaan radio pendidikan di negara ini tidak boleh diremehkan lagi. Melalui alat ini orang dapat mendengarkan siaran dari berbagai penjuru dan peristiwa.
Radio pendidikan mempunyai nilai tertentu, seperti memberikan berita yang up to date, menarik, jangkauan luas, menimbulkan imajinasi, mendorong kreatifitas seseorang, dan sebagainya.
B. Saran
- Pengemasan media audio dikemas lebih menarik lagi agar dapat meningkatkan minat pendengarnya.
- Bahasa yang digunakan jangan bahasa yang terlalu formal karena hanya akan meninggalkan kesan monoton. Lebih baik menggunakan bahasa tutur, bahasa keseharian audience jadi kesannya lebih santai tetapi tetap serius.
- Memaksimalkan peran radio dalam pendidikan untk mencapai tuhuan pendidikan. Karena sebagian bsar waktu di dalam kelas digunakan melalui proses pendengaran.
- Karena radio pendidikan bisanya tidak dipergunakn penuh dan langsung untuk tujuan pendidikan, seharusnya siaran khusus pendidikan diatur dengan jadwal dan kalau bisa disesuaikan dengan mata pelajaran dengan materi tertentu di sekolah secara bergantian agar siswa dapat mengakses informasi secara serempak di dalam kelas meskipun tempatnya berbeda.
Daftar Pustaka :
Anderson, Ronald H. 1987. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran. Jakarta : CV. Rajawali.
Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
Danim, Sudarwan. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Hilmie, Farhan. 2007. Tanggungjawab Lembaga Penyiaran. http://www.suaramerdeka.com, 25 September.
Latuheru, John. D. 1988. Media Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud.
Nn. 2008. Peran Radio terhadap Dunia Pendidikan. http://www.pppgkes.com, 20 Februari.
Rahayu, Rini. 2007. Pendidikan melalui Radio. http://www.suaramerdeka.com, 25 September
Sadiman, Arif S dkk. 1986. Media Pendidikan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
Karya ini adalah karya saya ( http://Errorcluck.blogspot.com email: error_cluck@yahoo.co.id ) sendiri bukan plagiat, kecuali bagian yang memang sudah disebutkan dalam daftar pustaka.
MENGGAGAS RADIO SEBAGAI MEDIA PENDUKUNG DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Oleh :Emi nur safitri Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (05105244016)
A. Latar Belakang
Pada dasarnya media radio merupakan media yang dapat dengan dinamis mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan radio merupakan alat yang biasa dipakai dalam sebuah keadaan yang genting. Misalnya dalam keadaan peperangan atau pertempuran, media ini dapat menjadi pilihan untuk menyebarkan berita dari tempat kejadian secara langsung. Hal ini seperti terjadi saat Indonesia mengumumkan atas kemerdekaannya. Alasan lain yang menyebabkan media radio memiliki sifat dinamis, yaitu bila dihubungkan dengan kondisi serta letak geografis di Indonesia.
Secara geografis, Indonesia lebih banyak terdiri dari pulau – pulau yang masih jauh dari perkotaan dan berbukit – bukit. Dengan hal ini menyebabkan bahwa gelombang yang dipancarkan dari radio amat memungkinkan untuk diterimanya pada daerah- daerah, dibandingkan dengan gelombang pada televisi. Bukti lain yang menyebabkan bahwa media radio memang sangat dibutuhkan keberadaannya, yaitu tentang adanya sertifikasi untuk guru.
Dari satu masalah ini terbukti bahwa ada banyak guru yang kurang mengetahui akan adanya berita tersebut. Ini terjadi karena para guru hanya mengandalkan informasi yang datangnya dari pihak atas tanpa ingin mencari sendiri informasi yang sedang berkembang. Atau dengan kata lain media radio ini sangat berfungsi sebagai pengantar informasi yang masih up todate, dari atasan ke para unit –unitnya.
Tidak hanya itu, menurut beberapa pengembangan pelajaran, media ini merupakan sumber belajar yang ekonomis dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan siswa, terutama dalam mata pelajaran bahasa. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa radio merupakan media yang bisa dijadikan sebagai wahana yang relevan dalam pembelajaran sekaligus sebagai media instruksional. [1]
Kualitas dan variasi suara dalam media radio dapat mengugah siswa untuk lebih bersemangat menyerap materi pelajaran. Menyelingi suara guru program audio yang berisi berbagai mata pelajaran menyajikan suara tokoh, suara hewan maupun suara alam lingkungan sesuai kebutuhan. Radio juga terbukti sangat efektif terutama untuk proses pembelajaran bahasa asing, karena artikulasi tiap kata dan kalimat dapat terdengar jelas sebagai pedoman untuk pengucapan yang benar.[2]
Akan tetapi, secara realita yang ada sekarang sungguh jauh berbeda. Media radio justru semakin jauh dari fungsi dan kegunaannya sebagai media social. Media ini hampir setiap saat menyajikan hiburan – hiburan yang bersifat konsumtif, mulai dari deretan tangga lagu, atau curahan – curahan hati para penggila program radio. Selain itu, keberadaan media radio juga mulai tersisih dengan adanya media audio visual (televisi). Secara langsung televisi telah menjadi pesaing utama dari radio, tidak hanya itu program – program yang ditayangkan televisi telah membuat para pemirsanya menjadi terpana untuk tetap setia menunggu deretan acara yang siap ditampilkan.
Mungkin karena alasan itulah Balai Pengembangan Media Radio (BPMR) dengan segala daya dan upaya yang ada baik dari kemampuan sumber daya manusia maupun dana berusaha untuk menciptakan radio pendidikan sebagai sarana dan wahana untuk proses pembelajaran. Berbagai mata pelajaran, seperti bahasa Inggris, fisika maupun ilmu social dapat dikemas dengan berbagai model dan cerita agar dapat ditangkap oleh para pendengar setianya (pelajar).
B. Rumusan Masalah
v Apakah media radio pendidikan telah banyak berperan dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran di kelas
C. Batasan Masalah
Makalah ini dibatasi pada bagaimana meningkatkan peran media radio dalam proses pembelajaran
D. Tujuan Pengembangan
v Untuk memperkenalkan potensi radio dalam proses pembelajaran
v Untuk mengangkat eksistensi radio dalam proses pembelajaran
v Untuk mengetahui peran radio dalam proses pembelajaran
E. Kerangka Konseptual
Pengertian media ini masih sering dikacaukan dengan peralatan. Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan menggunakaan peralatan. Sedangkan peralatan atau perangkat keras (hardware) sendiri merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.[3]
Radio merupakan bagian dari media audio, disamping ada media – media lain yang termasuk dalam golongannya, seperti laboratorium bahasa. Dengan menggunakan media radio, semua lambang – lambang baik verbal maupun non verbal dapat dituangkan ke dalam bahasa auditorial. Oleh karena itu, radio sangat tepat bila digunakan dalam pembelajaran jarak jauh. Apalagi bila diterapkan dalam pembelajaran bagi saudara kita yang menderita tuna netra. Dengan sasaran tuna netra secara langsung kita membantu mereka dalam memperlancar proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang sulit untuk dipahami, misalnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris, antara pengucapan kata dengan huruf yang digunakan jelas berbeda. Kita dapat memanfaatkan radio sebagai salah satu hardware dalam mengkomunikasikan program siaran pendidikan bahasa Inggris untuk tuna netra.
Akan tetapi dalam pembuatan program radio pendidikan, alangkah baiknya bila semua komponen turut andil dalam proses pembuatannya. Menurut Ibu Sri Wahyuni (Senior programmer di BPMR), dengan mengikutsertakan semua elemen yang ada dalam pembuatan program radio khususnya radio pendidikan akan memperkaya khasanah mengenai apa yang dibutuhkan siswa saat ini.
Selain itu juga, radio merupakan media yang sudah akrab dengan berbagai tingkat golongan baik dari golongan menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Hal ini dikarenakan radio memiliki beberapa kelebihan yang mengantarkannya menjadi media yang patut untuk dimanfaatkan dalam penyampaian informasi yang semestinya, antara lain :[4]
v Harganya relative murah dan variasi programnya lebih banyak
v Sifatnya mudah dipindahkan (mobile)
v Bila digunakan bersama – sama dengan alat perekam radio bisa mengatasi problem jadwal
v Program dapat direkam dan diputar sesuka kita
v Siaran dalam radio dapat mengembangkan imajinasi pada anak
v Dapat merangsang siswa untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Misalnya, dengan mendengarkan radio kita dapat melakukan kegiatan – kegiatan lain yang lebih positif, diantaranya : bernyanyi, melukis atau membantu orang tua
v Siaran dalam media radio, terbukti amat cocok untuk mengajarkan musik maupun mata pelajaran bahasa
v Radio dapat mengerjakan hal – hal tertentu secara lebih baik bila dibandingkan dengan jika dikerjakan oleh guru, antara lain :
1. Radio dapat menampilkan ke dalam kelas guru- guru yang ahli dalam bidang studi tertentu, sehingga dapat mengatasi masalah kekurangan guru yang layak untuk mengajar
2. Pelajaran lewat radio bisa lebih bermutu baik dari segi ilmiah maupun metodis. Ini mengingat guru – guru kita jarang yang mempunyai waktu dan sumber – sumber untuk mengadakan penelitian dan menambah ilmu, sehingga bisa dibayangkan bagaimana mutu pelajarannya
3. Radio dapat menyajikan laporan – laporan dengan seketika
4. Siaran – siaran yang aktual dapat memberikan suasana kesegaran
v Radio dapat mengerjakan hal – hal tertentu yang tak dapat dikerjakan oleh guru. Dia dapat menyajikan pengalaman – pengalaman dunia luar ke kelas. Misal : kisah petualangan seorang pengembara bisa dituturkan ke kelas – kelas.
v Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, serta jangkauannya luas
v Menurut Prof. Drs. Onong Uchana Effendy, dalam bukunya “Radio Siaran Teori dan Praktik” menyebutkan bahwa dengan adanya media radio dapat difungsikan sebagai alat propaganda dan memiliki sifat santai. Yaitu sifat yang dapat dengan dinamis bila digabungkan dengan berbagai kegiatan yang ada.
Akan tetapi dari beberapa keuntungan atau kelebihan penggunaan media radio, eksistensi media ini tetap mulai tersisih. Hal ini terbukti dari beberapa sample subyek yang diwawancarai dari kalangan guru, mahasiswa serta masyarakat, mengatakan bahwa :
Ø Kebanyakan program yang disiarkan dalam radio hanya menyajikan hiburan semata dan prosentase untuk berita atau pengetahuan hanya berapa persen saja.
Ø Karena sudah adanya penurunan nilai – nilai pendidikan pada masyarakat, hingga sudah terbentuk cara berfikir masyarakat untuk menilai program pendidikan di radio akan sama dengan belajar di kelas.
Ø Pengemasan program radio terutama untuk pendidikan masih sangat minimalis dan belum terlalu menarik
Ø Karena biasanya dana yang diberikan untuk pendidikan biasanya hasil subsidi dari pemerintah bukan dari stasiun itu sendiri
Ø Karena kebanyakan orang yang mendengarkan radio pendidikan lebih tertuju sebagai tuntutan bukan kebutuhan
Ø Karena pada dasarnya banyak sekali radio – radio yang lebih menekankan 95% hiburan dan 5% untuk pengetahuan umum
Bila dilihat dari beberapa jawaban yang diambil dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui sisi lain dari kelemahan media radio khususnya untuk siaran pendidikan. Oleh karena itu kita juga harus mengetahui dimana letak kelemahan media ini, yaitu :[5]
ü Kurangnya promosi dari pihak radio dan kesadaran masyarakat terhadap eksistensi media radio
ü Belum memasyarakatnya pemanfaatan media radio di sekolah – sekolah
ü Sifat radio yang memiliki komunikasi satu arah (one way communication)
ü Siaran yang disentralisasikan sehingga guru tak dapat mengontrolnya
ü Penjadwalan pelajaran dan siaran sering menimbulkan masalah.
ü Karena sifatnya yang auditori atau hanya mendengar, karena hanya untuk didengat maka isi siaran sampai di telinga pendengar hanya sepintas saja. [6]
Walaupun demikian, dengan keterbatasan radio yang sedemikian, BPMR (Balai Pengembangan Media radio) tetap mengudara dan berupaya untuk tetap eksis diantara radio- radio swasta yang ada. Oleh karena itu, BPMR memiliki beberapa program andalan yang selalu dibutuhkan oleh para pelajar, misalnya :
Belajar Yuk
Dalam program ini memberikan materi tambahan pelajaran sebagai alternative sumber belajar baik siswa dan guru untuk menambah pengetahuan.
RE Bimbel
Program ini menyiarkan tentang mata pelajaran dari tingkat SD sampai SMA.
Dua program ini menjadi program andalan diantara program – program yang ada sekarang. Hal ini dikarenakan dua program ini memiliki segmen jelas, dan keberadaannya dibutuhkan.
F. Pembahasan
Radio merupakan suatu perlengkapan elektronik yangdiciptakan berkat kemajuan dalam bidang teknologi modern. Dan dengan alat ini orang dapat mendengar siaran tentang berbagai peristiwa kejadian – kejadian yang penting dan baru, masalah mengenai kehidupan dan acara – acara rekreasi yang menyenangkan, semuanya dipancarkan dari station radio tertentu.[7]
Memang telah diketahui bahwa di beberapa kota Yogyakarta khususnya, yang dikenal sebagai kota pelajar dengan banyak berdirinya lembaga – lembaga pendidikan, eksistensi media radio masih belum dioptimalisasikan dalam proses pembelajaran. Radio hanya difungsikan bila diantara kita diberi tugas untuk mendengarkan program yang disajikan sebagai tugas kuliah semata, atau program yang disiarkan itu menghadirkan sesuatu yang menyenangkan, misalnya request lagu.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, fungsi media ini telah bergeser ke arah konsumtif. Radio bukan lagi sebagai media pendukung dalam proses pembelajaran, akan tetapi telah berganti peran sebagai media dengan nilai bisnis yang menjanjikan.
Bila diterapkan pada pembelajaran di sekolah – sekolah, media audio khususnya radio pendidikan hanya difungsikan bila diterapkan pada mata pelajaran bahasa Inggris ataupun musik. Hal ini dikarenakan bila menggunakan radio sebagai pembelajaran, secara langsung akan melatih pendengaran siswa dalam hal pengucapan kata.
Seperti media yang lain, radio merupakan media yang dapat digunakan untuk belajar mandiri dan belajar tuntas.[8] Hal ini dimaksudkan karena media radio merupakan media yang sesuai bila diterapkan pada anak yang lebih lambat dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan radio, secara langsung kita dapat memutar program mata palajaran yang belum dipahami secara berulang – ulang. Dengan pemutaran program secara berulang – ulang, lama- kelamaan akan merangsang daya kreatifitas dan imajinasi anak.
Akan lebih baik apabila dalam penyampaian informasi dari komunikan kepada komunikator melalui media yang relevan dan dapat dengan segera mendapatkan umpan balik (feedback). Dengan adanya feedback, akan menimbulkan bahwa penggunaan media telah tepat dan pesan yang disampaikan dapat dengan segera mendapatkan balikan.
Pada dasarnya media radio sangat bermanfaat untuk anak yang cenderung memiliki gaya belajar auditori. Dengan memanfaatkan gaya belajar anak tersebut, berarti proses pembelajaran akan lebih mudah diterima. Walaupun demikian untuk anak yang memiliki gaya belajar yang berbeda dapat diatasi dengan memadukan program siaran radio dengan media lain seperti gambar atau media audio visual serta hal – hal lain yang dapat merangsang anak untuk tetap belajar.
Bila dihubungkan dengan sifat radio yang mobile, seharusnya radio lebih banyak dimanfaatkan oleh sekolah – sekolah sebagai media pendukung dalam proses pembelajaran. Akan tetapi hal ini jelas berbeda dari kenyataan yang ada. Banyak sekali sekolah – sekolah yang belum memanfaatkan radio sebagai media pembelajaran. Selain itu antara waktu siar program radio dengan sasaran siswa atau pelajar terkadang kurang sesuai. Seperti contoh : bila program siaran pendidikan sedang disiarkan, justru siswa sedang menjalankan aktivitasnya, yaitu sekolah. Terkadang hal ini juga yang menjadi salah satu hambatan dalam penyiaran radio pendidikan di BPMR.
Oleh karena itu beberapa trik yang digunakan BPMR dalam sosialisasi program pendidikan, yaitu banyak mengadakan kerjasama dengan lembaga – lembaga pendidikan baik tingkat SD, SMP, SMA maupun Universitas.
Beberapa cara untuk meningkatkan peran radio dalam dunia pendidikan, diantaranya :
· Adanya kerjasama antara pemerintah dan segenap komponen pendidikan untuk tetap mempertahankan fungsi radio dalam pembelajaran
· Adanya ketegasan mengenai undang – undang penyiaran, baik untuk radio swasta yang bergerak di bidang bisnis dan untuk radio public milik pemerintah
· Diubahnya cara berfikir bahwa program dalam radio pendidikan bukanlah program yang memindahkan cara mengajar guru di kelas dalam media audio
· Sosialisasi akan radio pendidikan lebih digencarkan.
· Kemasan dalam penyampaian radio pendidikan, alangkah baiknya apabila tidak terlalu formal, akan tetapi diubah dalam bentuk cerita. Misalnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris, bisa dikemas dalam bentuk cerita ataupun percakapan ringan yang mudah dimengerti.
Mata pelajaran berhitungpun bisa diaudiokan, akan tetapi tidak semua materi di dalamnya. Hal ini dikarenakan pada mata pelajaran berhitung masih sangat rancu dan sulit dalam pengemasan audionya.
Seperti yang dicontohkan di BPMR, mata pelajaran matematika dengan materi mengenai jarak dapat diaudiokan dengan pengemasan dalam bentuk cerita.
Oleh karena itu porsi siaran pendidikan di BPMR sebanyak 53%. Akan tetapi hal inipun terkadang masih diselingi oleh musik- musik yang dapat menarik perhatian para pendengar. Hal ini dikarenakan sudah terbiasanya telinga para pendengar khususnya pelajar untuk mendengarkan musik- musik yang seharusnya tidak masuk dalam program pendidikan. Padahal, menurut hasil penelitian Dunn (dalam Dryden & Jeannette Vos, 2000) menemukan bahwa “hanya 30% siswa mengingat 75% dari apa yang mereka dengar selama periode kelas normal. Dan hanya 40% siswa menguasai apa yang mereka baca dan dengar, serta sisanya 15% dimiliki oleh siswa yang belajarnyadengan tactual dan kinestetik.[9]
Oleh karena itu dengan banyak mendengar secara berulang – ulang maka proses belajar yang lebih sulit akan lebih mudah untuk dipahami. Atau bisa dengan memadukan 2 media yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Akan tetapi prospek media radio khususnya radio pendidikan akan lebih jelas bila dalam proses pembelajaran media radio tetap diikutsertakan sebagai media penunjang yang bersifat dinamis, mobile yang dapat menghadirkan berita – berita actual dan autentik.
G. Kesimpulan
Radio merupakan bagian dari audio pembelajaran. Media radio memiliki sifat yang dinamis, mobile (dapat dipindah kemana – mana), serta dapat menghadirkan berita – berita yang uptodate, autentik dan baru. Tidak dipungkiri dalam zaman yang serba multimedia ini, menyebabkan media radio justru semakin jauh dari eksistensinya. Oleh karena itu dengan adanya Balai Pengembangan Media Radio menjadi angin segar dalam bidang audio untuk lebih meningkatkan eksistensi media radio khususnya dalam penyiaran program pendidikan. Beberapa cara agar eksistensi radio pendidikan dapat dipertahankan, antara lain :
· Adanya kerjasama antara pemerintah dan segenap komponen pendidikan untuk tetap mempertahankan fungsi radio dalam pembelajaran
· Adanya ketegasan mengenai undang – undang penyiaran, baik untuk radio swasta yang bergerak di bidang bisnis dan untuk radio public milik pemerintah
· Diubahnya cara berfikir bahwa program dalam radio pendidikan bukanlah program yang memindahkan cara mengajar guru di kelas dalam media audio
· Sosialisasi akan radio pendidikan lebih digencarkan.
· Kemasan dalam penyampaian radio pendidikan, alangkah baiknya apabila tidak terlalu formal, akan tetapi diubah dalam bentuk cerita. Misalnya dalam mata pelajaran bahasa Inggris, bisa dikemas dalam bentuk cerita ataupun percakapan ringan yang mudah dimengerti.
Mata pelajaran berhitungpun bisa diaudiokan, akan tetapi tidak semua materi di dalamnya. Hal ini dikarenakan pada mata pelajaran berhitung masih sangat rancu dan sulit dalam pengemasan audionya.
Seperti yang dicontohkan di BPMR, mata pelajaran matematika dengan materi mengenai jarak dapat diaudiokan dengan pengemasan dalam bentuk cerita.
H. Daftar Pustaka
Anderson, H. Renald.Pemilihan Dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran.CV.Rajawali.Jakarta.1987
Budiningsih,CAsri.Karaktersitik Siswa sebagai pijakan pembelajaran.FIP.UNY.2004
Effendi, Onong Uchana.Radio Siaran Teori dan Praktik.Mondar Jaya.Bandung.1990
Hamalik,Umar.Media Pendidikan.Penerbit Alumni.Bandung.1982
Latuheru D.John,M.P.Media Pembelajaran dalam proses belajar mengajar masa kini.Depdikbud.Jakarta.1988
Miarso,Yusufhadi,dkk.Teknologi Komunikator Pendidikan pengertian dan penerapannya diIndonesia.PUSTEKKOM DIKBUD.CV.Rajawali.Jakarta.1984
Sadiman, Arief. S,dkk. Media Pendidikan (Pengertian Dan Pembangan dan Pemanfaatannya).PUSTEKKOM DIKBUD. PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta. 2002
KARYA INI SEPENUHNYA KARYA SAYA SENDIRI (BUKAN PLAGIAT), KECUALI BAGIAN YANG MEMANG SUDAH DISEBUTKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA)
[1] Ronal H. Anderson, pemilihan dan pengembangan media untuk pembelajaran, Agustus, 1987, hal. 127
[2] RAPENDIK
[3] AECT (1977)
[4] Arief Sadiman.Media Pendidikan (pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya).Jakarta.2002
[5] Arief Sadiman.Media Pendidikan.Jakarta.2002
[6] Prof. Drs. Onong Uchana Effendy,MA.Radio Siaran Teori dan Praktik
[7] Drs. Oemar Hamalik.Media Pendidikan,Penerbit Alumni.Bandung.1982
[8] Drs.John D. latuheru M.P.media Pembelajaran dalam proses belajar mengajar masa kini.Jakarta.1988
[9] Dr.C.Asri Budiningsih.Karakteristik Siswa sebagai pijakan pembelajaran.FIP.UNY.2004









